LifestyleTraveling

Kulon Progo Lestarikan Ritual Budaya Berusia Dua Abad

BTN iklan

Jogjakarta/Lei — Untuk melestarikan budaya setempat dan wujud syukur pada Yang Maha Kuasa, warga Dukuh Kleben, Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta  mengadakan kegiatan merti desa yang telah berumur dua abad. Hasil gambar untuk Kulon Progo Melestarikan Ritual Budaya Berusia Dua Abad

 

Acara budaya dengan tajuk “amerti bumi, anglaras angabehi”, atau berarti “lestari bumi, selaras segalanya” ini digelar sepanjang hari Selasa (25/4) di desa tersebut.

 

Merti desa menjadi tradisi lokal Kebonharjo selama hampir 200 tahun yang dilangsungkan pada tiap bulan Rajab. Berdasarkan sejarah setempat, pada masa lampau desa tersebut diserang wabah penyakit ganas atau disebut pageblug.

 

Konon, kala itu ada dua makhluk gaib, yaitu Den Bagus Bul yang bersemayam di Dung Sono dan Den Bagus Lengser yang bersemayam di Kalipakel. Mereka berjanji akan turut menjaga keselamatan dan kesejahteraan Dukuh Kleben dengan mengusir wabah itu.

 

“Pelestarian tradisi ini merupakan bagian dari pembentukan karakter desa, menumbuhkan rasa persatuan, kolektivitas, berbagi antar sesama dengan alam, menciptakan harmoni kehidupan, dan nilai-nilai luhurnya lainnya,” kata Kepala Desa Kebonharjo Rohmad Ahmadi.

 

Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya. menampilkan 11 tumpeng yang dihias dan diberi simbol wulu wetu hasil tani yang mencerminkan kemakmuran desa. Peserta kirab menggunakan pakaian jawa lengkap. Kirab tersebut diakhiri dengan ritual di situs Dung Sono sebagai wujud rasa syukur.

 

Acara ditutup dengan pertunjukan tari tledek di Balai Desa Kebonharjo. Pertunjukan seni tledek juga memiliki makna sebagai ruang politik yakni saat warga mengungkapkan persoalan akar rumpur tanpa malu dan takut. “Pentas seni ini mampu menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan pemerintah desa,” jelas Rohmad.

 

Acara ini disambut meriah oleh warga. Selain dihadiri jajaran perangkat desa setempat dan warga, pegiat wisata juga antusias menyemarakkan ajang ini sebagai destinasi baru dalam wisata budaya di DI Yogyakarta.

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close