BTN iklan
InternasionalLiputan

Kunjungan Wantimpres ke Israel Dianggap Nodai 70 Tahun Dukungan Indonesia Kepada Palestina

JAKARTA, (LEI) – Pengamat masalah Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Doktor Yon Machmudi mengatakan kunjungan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf ke Israel jelas melukai perasaan warga Palestina yang sedang berduka.

Yon yang juga Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam UI itu mengatakan bahwa Yahya Staquf seharusnya membatalkan kunjungan itu demi menghormati kebijakan pemerintah dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina.

Sebelumnya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan Israel menjadi pembicara dalam acara AJC (American Jewish Comittee) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6).

“Sikap Indonesia yang menolak kedaulatan negara Israel tidak berubah dan sebagai warga negara seyogianya memperkuat sikap itu. Dengan kunjungan itu, Israel akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dan dapat diklaim sebagai keberhasilan diplomasi negara tersebut,” kata Yon.

Ia mengatakan bahwa kunjungan Yahya kontraproduktif terhadap kebjakan pemerintah Indonesia dalam menyikapi isu Palestina.

“Sikap tegas RI yang menunda visa rombongan Israel beberapa hari sebelumnya karena keprihatinan pemerintah terhadap banyaknya korban tewas dari warga sipil Palestina akan dimentahkan oleh kunjungan itu. Apalagi, beliau itu ‘kan membawa nama kepresidenan,” ujarnya.

Menyesalkan Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR RI Jazuli Juwaini juga menyesalkan kunjungan anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Israel tersebut.

Dalam siaran pers yang diterima Antara, Jazuli mengatakan bahwa hal ini membuktikan Yahya tidak sensitif terhadap perjuangan rakyat Palestina yang totalitas didukung oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia sebagai amanat UUD NRI 1945.

“Saya sungguh menyesalkan penerimaan undangan itu atas dalih apa pun. Apalagi, dilakukan oleh pejabat sekelas Watimpres. Sungguh sikap pribadi yang tidak sensitif atas totalitas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia atas perjuangan Palestina,” tegas Jazuli.

Pemerintah RI, lanjut anggota Komisi I DPR RI itu, secara tegas tidak membuka sedikit pun ruang diplomasi untuk Israel karena dianggap negara agresor yang terbukti menjajah dan melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun. Israel juga mengabaikan puluhan resolusi PBB.

“Lalu, bagaimana mungkin seorang yang melekat padanya jabatan sebagai penasihat Presiden dengan iktikad baik memenuhi undangan lembaga yang jelas didanai Israel untuk tujuan diplomasi negara penjajah ini?” tanya Jazuli geram.

Ketua Fraksi PKS ini makin menyesalkan sikap Yahya Cholil Staquf karena dilakukan di tengah kecaman dunia atas pembantaian Israel yang menewaskan lebih dari 60 demonstran Palestina dan melukai 900 orang lainnya hanya dalam sehari menjelang pembukaan Kedubes Amerika di Yerussalem beberapa waktu lalu.

“Atas tindakan brutal Israel itu, puluhan negara mengecam keras. Bahkan, tokoh pemimpin dan selebritis dunia turut melakulan aksi boikot terhadap semua ‘event’ dan produk Israel. Ini seorang tokoh dan pejabat publik negara yang selama ini terdepan dalam menyuarakan solidaritas kemanusiaan atas Palestina justru menyambut undangan Israel,” kata Jazuli.

Jazuli mengatakan bahwa insiden ini harus menjadi yang terakhir dan jangan terulang kembali segala tindakan yang memberi ruang bagi mulusnya diplomasi Israel untuk melanggengkan penjajahan Palestina.

Blunder?

Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan menyesalkan kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf menghadiri konferensi tahunan Forum Global AJC atau Komite Yahudi-Amerika di Jerusalem, Palestina, karena telah menodai konsistensi dukungan Indonesia pada kemerdekaan Palestina sejak tahun 1947.

“Terlepas dia berangkat ke sana atas nama pribadi, tapi dengan posisinya sebagai Anggota Wantimpres, ini seperti ‘blunder’,” kata Taufik dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.

Dia menegaskan bahwa posisi Indonesia sangat jelas yaitu berjuang dan mendukung kemerdekaan Palestina namun kedatangan Yahya Staquf ke konfererensi itu, seolah menodai dukungan dan diplomasi kita dalam kaitan kemerdekaan Palestina.

Taufik mengatakan kunjungan Yahya Staquf itu sangat kontraproduktif dengan sikap Indonesia yang selama ini mendukung kemerdekaan Palestina.

“Yahya Staquf sebagai Anggota Wantimpres yang juga merupakan pejabat negara seharusnya tidak menciptakan sikap blunder terhadap diplomasi Indonesia yang selama ini mendukung kemerdekaan Palestina,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum DPP PAN itu menilai kunjungan Yahya Staquf itu tidak menunjukkan rasa sensitivitas, di tengah serangan Israel kepada masyarakat Palestina, yang mengakibatkan jatuhnya ratusan ribu korban.

Dia mengatakan kunjungan Yahya Staquf itu menyebabkan kelompok di Palestina seperti Fatah dan Hamas memberikan reaksinya.

Menurut dia, selama ini, diplomasi Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina gencar dilakukan bahkan, dengan terpilihnya Indonesia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB, diharapkan peran Indonesia semakin ditingkatkan dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

“Jangan sampai perjuangan Indonesia rusak oleh sikap arogansi seorang pejabat negara. Presiden harus memberi tindakan tegas,” ujarnya.

Jokowi: Kunjungannya atas dasar urusan pribadi

Sebelumnya, anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf menjadi pembicara dalam acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem, Israel, pada Minggu (10/6), yang dibuka oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Presiden Joko Widodo juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa kehadiran Yahya di Yerusalem atas inisiatif pribadi, bukan tugas dari pemerintahannya.

“Itu urusan pribadi ya. Beliau menyampaikan, itu urusan pribadi, karena beliau diundang sebagai pembicara di Israel,” ujar Jokowi di Ruang Teratai, Istana Presiden Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/6).

Presiden Jokowi mengaku, belum mendapatkan laporan langsung dari Yahya soal kunjungan tersebut.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close