HEADLINESNasional

Kupatan Kendeng 2019

Ling Kinilinginan Kanggo Ibu Bumi

BTN iklan

Dhandhanggula :
Sarwa putih sampun mratandhani
Ati resik uga resik jiwa
Nggih saking pasa dayane
Kang mangke pamprihipun
Ati wening ingkang nuntuni
Tindak tanduk sepecak
Tansah saget emut
Bener kang dadi landhesan
Engga dosa tansah bisa den endhani
Dalan tumuju suwarga

( Makna tembang : Pakaian serba Putih menjadi tanda bersihnya hati dan jiwa karena energi dari melaksanakan ibadah puasa. Tujuannya untuk mendapatkan tuntunan dari hati yang jernih. Segala tindakan selalu mengingatkan,bahwa kebenaran menjadi landasannya. Sehingga bisa terhindar dari dosa, yang merupakan jalan menuju surga. )

REMBANG, LEI – Minggu, 9 Juni 2019, petani Kendeng yang tergabung dalam wadah JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) mengadakan ritual Kupatan Kendeng (terkenal dengan “riyoyo kupat”, yaitu tradisi 5 hari sesudah Hari Raya 1 Syawal) bertempat di Desa Tegaldowo, Kec. Gunem, Kab. Rembang. “Ling Kinilingan Kanggo Ibu Bumi” kami pilih sebagai tema pada Kupatan Kendeng kali ini sebagai pengingat bagi kita semua (seluruh rakyat Indonesia dan seluruh pejabat pemerintahan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif) bahwa menjaga kelestarian ibu bumi, keseimbangan alam, adalah HAL YANG MUTLAK harus dilakukan sebagai wujud syukur kita sebagai orang yang BERIMAN kepada ALLAH PENCIPTA LANGIT DAN BUMI.

Bumi beserta seluruh isinya bukanlah “benda mati” yang bisa semena-mena kita eksploitasi. Seluruh yang ada di atas bumi, di bawah maupun di udara merupakan satu kesatuan harmoni yang harus kita jaga demi kesinambungan kehidupan seluruh makhluk hidup. Jika keseimbangan ekosistem terganggu, maka bencana tidak akan terelakkan. Kesengsaraan bencana sesungguhnya terjadi bukan karena kutukan atau hukuman dari Sang Penguasa Jagad karena ALLAH adalah Sang Kasih yang begitu mencintai manusia, makhluk ciptaanNYA yang paling mulia, dengan menciptakan keanegaragaman hayati beserta kekayaan alam yang terkandung didalamnya untuk dimanfaatkan dengan SEBAIK-BAIKNYA bagi kehidupan. Bencana terjadi karena kita manusia TIDAK ELING DAN KINILINGAN akan kesejatian diri kita sebagai manusia yang seharusnya mengayomi ibu bumi.

Manusia terlalu serakah dan terus menerus “memperkosa” ibu bumi. Oleh karena itu pada hari yang fitrah ini, kami petani JM-PPK mengajak seluruh dulur-dulur dari Sabang – Merauke untuk kembali kepada kesejatian diri sebagai manusia yang tercipta luhur. Bersama-sama kita terus berupaya dan berjuang melakukan “penyelamatan” lingkungan, alam dan ruang hidup. Kita sebagai rakyat tidak boleh diam atau mendiamkan semua kebijakkan yang dibuat oleh pemerintah baik pusat maupun daerah jika kebijakkan itu jelas-jelas membawa kita kepada kesengsaraan akibat terganggunya keseimbangan ekosistem. Menjaga gunung, hutan dan laut adalah tugas kita. Rakyatlah yang berdaulat atas tanah dan air ini.

Ada 3 prosesi yang kami lakukan dalam ritual Kupatan Kendeng yaitu ” Temon Banyu Beras “, “Dono Weweh Kupat lan Lepet” serta “Lamporan” dan ditutup dengan pegelaran wayang dengan lakon “Mawas Diri, Menakar Keberanian”

“Temon Banyu Beras”, prosesi mencari sumber air, mempertemukan bulir-bulir beras dengan air untuk bisa diwujudkan sebagai makanan (ketupat) menjadi sumber energi bagi kita untuk tetap hidup dan menghidupi. Temon Banyu melambangkan bahwa tanpa air musnahlah kehidupan. Dalam prosesi ini kami menggunakan baju serba putih melambangkan kesucian hati setelah 30 hari menjalani puasa, mengendalikan segala hawa nafsu, untuk menempa jiwa kami agar kembali eling dan kinilingan akan kesejatian diri sebagai manusia yang luhur, bukan manusia yang “serakah”, bukan manusia yang tidak peduli pada “penderitaan” ibu bumi, dan bukan manusia yang hanya memikirkan urusan perut semata.

“Dono Weweh Kupat lan Lepet”, kami membawa ketupat yang telah matang beserta lauk-pauknya, disusun membentuk gunungan dan dipikul bersama-sama mengelilingi desa untuk dibagi-bagikan kepada seluruh warga desa. Ketupat sebagai “tanda lepat” kita sebagai manusia yang penuh kekurangan, salah dan dosa untuk mohon maaf kepada sesama kita. Kerendahan hati diperlukan sebagai awal dari segala rencana baik merangkul seluruh sedulur desa untuk bersama-sama meneruskan perjuangan penyelamatan Pegunungan Kendeng dari upaya perusakkan sumber-sumber mata air, penambangan batu kapur serta pengalihan fungsi lahan pertanian untuk industri pabrik semen, demi keselamatan kita bersama serta demi masa depan kehidupan anak cucu kita semua.

“Lamporan”, suatu prosesi turun temurun dari leluhur kami dalam upaya mengusir hama pertanian. Hama pertanian tidak hanya wereng, tikus dll, tetapi hama pertanian yang utama disaat ini adalah kebijakkan yang tidak berpihak kepada petani dan dunia pertanian. Pengalihan fungsi lahan-lahan subur untuk industri dan pertambangan, gunung dengan hutan yang mengandung keanegaragaman hayati dihancurkan bahkan fungsinya telah beralih menjadi daerah industri perkebunan monokultur bahkan industri pertambangan. Gunung dengan hutan yang awalnya menjadi penyerap air, menjaga sumber-sumber mata air tetap berlimpah yang menjadi sumber utama keberlangsungan dunia pertanian serta penyedia udara bersih bagi seluruh makhluk hidup menjadi hilang. Itulah hama utama petani dan dunia pertanian masa kini yang harus kita perangi bersama. Obor yang diarak keliling berputar sebagai lambang semangat yang terus menyala bagi upaya-upaya penyelamatan Peg. Kendeng. JM-PPK sudah berupaya untuk sekuat tenaga “mengusir” hama tersebut.

Salah satu buah perjuangan kami adalah diadakannya KLHS atas Peg. Kendeng yang meliputi 7 kabupaten (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Rembang, Blora, Grobogan dan Pati) yang merupakan perintah resmi dari Presiden RI. Tetapi hingga hari ini pemerintah abai terhadap hasil KLHS. Gugatan melalui pengadilan yang juga dimenangkan warga dengan keputusan MA untuk mencabut izin PT. Semen Indonesia di Rembang-pun juga diabaikan oleh pemerintah dengan berbagai dalih-dalih hukum yang “dikondisikan”. Keadilan memang belum berpihak kepada kami petani Kendeng. Tetapi kami tidak pernah putus asa untuk terus berjuang dan melawan kesewenang-wenangan ini.

Ritual Kupatan Kendeng kami tutup dengan pagelaran wayang oleh dalang Ki Jlitheng Suparman dengan lakon “Mawas Diri, Menakar Keberanian”. Lakon ini ditujukan kepada seluruh pihak baik rakyat maupun pemimpin. Sebagai rakyat, sampai sejauh mana kita terus menyuarakan kebenaran walaupun kebenaran tersebut “belum diamini” oleh seluruh kalangan, tidak populer, tidak mengenakkan karena menempuh jalan yang terjal. Sampai sejauh mana kita terus berani mengoreksi diri sebagai manusia luhur, sudahkah kita berbuat sebagaimana jati diri kita yang harusnya mengayomi bumi dan segala isinya, bukan malah sebaliknya demi keuntungan sesaat terus menerus mengeksploitasi bumi sehabis-habisnya seolah bumi milik pribadi/golongan.

Sebagai pemimpin baik pusat maupun daerah ( eksekutif, legislatif maupun yudikatif) sudahkah “Memayu Hayune Bawono” Mengayomi seluruh rakyat negeri ini? Beranikah sebagai pemimpin membuat kebijakkan yang betul-betul berpihak kepada kepentingan rakyat yang dalam situasi saat ini negeri telah puluhan tahun “dikuasai” dan “dirong-rong” oleh segelintir/sekelompok orang? Beranikah pemimpin mematuhi dan menjalankan amanat yang tertuang dalam hukum tertinggi, yaitu UUD 45, yang telah disepakati bersama saat berdirinya republik ini? Mari kita sama-sama berani untuk mawas diri. Jadikan bulan yang fitri ini sebagai titik awal untuk berubah menuju kebaikkan bagi sesama , bagi seluruh makhluk dan bagi ibu bumi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami