Ads

Kurangnya Perhatian Aspek Keamanan Pesawat dari umur pesawat hingga standar kemanan parasut.

BTN iklan

LEI, Jakarta- Kecelakaan transportasi udara terjadi di Indonesia. Terkini, pesawat dari maskapai Sriwijata Air SJ182 jatuh di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (9/1) siang, menewaskan 50 penumpang dan 12 kru. Maskapai itu sendiri sejak tahun lalu mengalami masalah dari aspek keamanan mesinnya. Lantas, kenapa dibiarkan terus beroperasi?

Jika dicermati, sebagian besar kasus-kasus kecelakaan pesawat udata terjadi karena faktor standar keamanan dari pesawatnya itu sendiri. Kondisi keuangan PT Sriwijaya Air Group sendiri sejak medio 2019 memang sedang dilanda krisis, sebagaimana dilansir laman CNBC (30 September 2019).

Kendati mengalami masalah terkait standar keamanan, pesawat-pesawat dari maskapai penerbangan nasional milik Chandra Li, pengusaha asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, terus melanjutkan operasionalnya. Padahal, masalah standar keamanan inilah yang menjadi perhatian jajaran direksi Sriwijaya Air, yang ujung-ujungnya membuat dua direksi maskapai tersebut mundur dari kursi jabatannya.

Direktur Teknik Sriwijaya Air, Romdani Ardali Adang menyatakan bahwa untuk melanjutkan operasional, terasa cukup berat karena kondisi suku cadang sudah tidak ada. “Kami sangat peduli terhadap safety penerbangan. Makanya kita buat surat laporan terkini yang dilakukan oleh direktur safety,” kata Romdani.

Romdani menjelaskan, sejak putus dengan PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI) atau GMF, kondisi Sriwijaya Air semakin sulit. “Kondisi spare part yang tidak ada, hanya ada oli saja dan itu juga terseok-seok. Kemudian orang juga terbatas, limited, yang qualified-nya juga bisa dihitung jari, sisanya adalah yang mekanik dan engineer yang kualitasnya kurang bagus, itu pun sangat sedikit,” cerita Romdani.

Sebagai contoh, lanjut Romdani, di Bandara Soekarno-Hatta terdapat enam unit pesawat yang tangani oleh dua engineer dan tiga mekanik. Kondisi ini sudah dilaporkan pihak Sriwijaya Air ke Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU).

Toh hasilnya tidak sempurna. “Karena dengan kondisi adanya problem yang timbul, dengan waktu yang diperlukan, disediakan dari jam 10 pagi sampai lima pagi sudah terbang lagi. Itu berat untuk membuat pesawat bisa sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelas Romdani.

“Jadi kami sangat peduli karena surat kami tidak dipedulikan, saya nggak mau menanggung risiko yang terjadi, lebih baik saya mengundurkan diri dengan Pak D.O (Direktur Operasional) sebagai konsekuensi saya sebagai safety penerbangan,” pungkas Romdani.

Sebelumnya Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Soebandoro memberikan surat rekomendasi kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena. Surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September yang juga diperoleh CNBC Indonesia.

Dalam uraiannya, Toto menegaskan pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan atau DGCA (Directorate General Civil Aviation), sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan.

Dalam pertemuan yang dilakukan manajemen, diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara (DGCA) dan Menteri Perhubungan.

Ditegaskan bahwa ada bukti bahwa pihak Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO (maintenance repair overhaul) lain terkait dukungan line maintenance. Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada). Menurut Toto, situasi ini dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Dengan melihat keterbatasan Direktorat Teknik Sriwijaya Air untuk meneruskan dan mempertahankan kelaikudaraan dengan baik, belum adanya laporan keuangan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan temuan ramp check yang dilakukan oleh inspector DGCA, maka Toto menegaskan pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi.

Pengamat penerbangan Pengamat Penerbangan Alvin Lie menyarankan kepada pemerintah untuk memberhentikan operasional sementara maskapai Sriwijaya Air. Dilansir laman Suara (7 November 2019), pernyataan Alvin ini berdasarkan laporan pertemuan pada 5 November 2019 di Jakarta.

Dalam pertemuan terungkap. kondisi Sriwijaya Air benar-benar mengkhawatirkan. Sebab, penerbangan Sriwijaya Air hanya bisa bertahan sampai lima hari ke depan, dimulai pada 5 November tersebut. “Saya menyarankan Sriwijaya Air sementara hentikan operasi,” kata Alvin.

Terdapat tiga alasan yang membuat anggota Ombudsman RI ini menyarankan operasional Sriwijaya Air berhenti sementara. Pertama, sebagai tindakan pencegahan keamanan dalam operasional Sriwijaya Air. Kedua, tak ada kejelasan tentang kualitas pelayanan terhadap konsumen. “Ketiga masa kerja BOD sementara sudah expired. Dan Secara peraturan AOC Sriwijaya Air sudah tidak memenuhi syarat,” tuturnya.

Alasan tersebut masuk akal, karena dalam laporan tersebut, Sriwijaya Air hanya memiliki 12 pesawat yang bisa beroperasi. Selain itu, jasa perawatan pesawat dari GMF Aero Asia juga telah dihentikan, sehingga tak ada perawatan sehabis penerbangan dan itu sangat riskan dalam dunia penerbangan.

Sebelumnya, dua maskapai penerbangan nasional Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group kembali berpolemik. Dua maskapai yang awalnya sepakat rujuk kembali, tapi sekarang memutuskan untuk berpisah.

Perceraian hubungan bisnis dua maskapai itu berawal dari pihak Garuda Indonesia Group yang tak menganggap lagi Sriwijaya Air sebagai anak usahanya. Lewat keterangan tertulisnya, Direktur Pemeliharaan & Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan, adanya keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan jadi alasan Garuda Indonesia melepas Sriwajaya Air. “Kami menyesal memberi tahu Anda bahwa Sriwijaya Air sedang melanjutkan bisnis sendiri,” kata Iwan.

Banyak Maskapai Nasional tak Aman

Menyusul pertemuan itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan pemeriksaan terhadap pesawat Boeing 737 New Generation (NG). Pemeriksaan itu dilakukan terhadap pesawat jenis tersebut milik maskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air serta Batik Air.

Pemeriksaan ini merupakan tindak lanjut implementasi DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) nomor 19-10-003 dan FAA Airworthiness Directives Nomor 2019-20-02 terhadap pesawat Boeing B737NG (Boeing 737 New Generation) perihal Unsafe Condition.

AD ini dipicu oleh laporan retak yang ditemukan pada frame fitting outboard chords and failsafe straps adjacent to the stringer S-18A straps yang dapat mengakibatkan kegagalan Principal Structural Element (PSE) untuk mempertahankan batas beban. Kondisi ini dapat mempengaruhi integritas struktural pesawat dan mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat.

Hasilnya, terdapat retak pada salah satu dari 3 pesawat Boeing 737 NG milik Garuda Indonesia yang berumur melebihi 30.000 FCN dan terdapat crack pada dua pesawat Boeing 737 NG milik Sriwijaya Air dari lima pesawat yang berumur lebih dari 30.000 FCN.

“Sedangkan Batik Air dan Lion Air tidak memiliki pesawat yang berumur melebihi 30.000 FCN,” kata Direktur Kelaikudaran dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Avirianto dalam keteranganya di Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019).

Avirianto menambahkan, dari tiga pesawat Boeing 737 NG yang ditemukan retak, pesawat dihentikan operasinya, dan menunggu rekomendasi lebih lanjut dari pihak Boeing. Pihak DKPPU kemudian meminta ke pihak operator yang mengoperasikan B737NG yakni Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air dan Sriwijaya Air, untuk memasukkan pemeriksaan atau inspeksi sesuai DGCA AD 19-10-003, ke dalam Maintenance Program dengan interval rutin setiap 3500 Flight Cycle (FC).

Dalam kasus keamanan pesawat yang ternyata sudah bermasalah ini, maka kenapa pemerintah masih saja mengizinkan maskapai bersangkutan mengoperaiskan pesawatnya? Dalam kasus Sriwijaya Air menunjukkan bahwa tiap masalah harus segera diselesaikan sebelum jatuh korban.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami