Hukum

Kurator Mulai Eksekusi Aset

BTN iklan

JAKARTA /Lei — Kurator PT Hokindo Jaya mulai mengeksekusi aset perusahaan yang telah berstatus pailit itu, lantaran jangka waktu kreditur separatis untuk melaksanakan hak eksekutorialnya telah berakhir.

Salah satu kurator PT Hokindo Jaya Johanes Eduard Aritonang mengatakan eksekusi boedel pailit oleh kurator dimulai Kamis (2/2). Masa insolvensi kreditur dengan jaminan kebendaan selama dua bulan untuk menjual aset debitur telah habis. Dengan begitu, seluruh aset harus dikembalikan kepada kurator.

Pihaknya akan mulai menjual beberapa aset yang meliputi tanah, bangunan, inventaris perusahaan dan mesin-mesin produksi. Semua aset tersebut diharapkan dapat menutup seluruh tagihan debitur senilai Rp266,77 miliar.

Kurator mengakui memiliki penambahan aset berupa sejumlah bidang tanah dan beberapa pabrik di Tangerang. “Kami menemukan beberapa pabrik di Tangerang milik Direktur Utama PT Hokindo Jaya. Pabrik-pabrik ini yang tidak dipegang oleh kreditur ,” katanya kepada Bisnis usai rapat pemberesan aset, Kamis (2/2).

Dia menaksir satu pabrik beserta isinya di wilayah Tangerang tersebut bernilai sekitar Rp10 miliar.

Johannes menyampaikan tim kurator akan mengupayakan eksekusi aset berjalan lancar, meski tidak menutup kemungkinan akan ada paksaan kepada debitur untuk bersikap kooperatif. Dia mengakui, debitur kurang bisa diajak bekerja sama dan tidak menunjukkan iktikad baik selama proses kepailitan.

Pihaknya juga mengalami kendala ketika melakukan inventarisasi dan investigasi aset di lapangan. Tim kurator mengaku ada resistensi yang cukup besar dari debitur.

Sementara itu, debitur juga terindikasi melakukan perlawanan terhadap putusan pailit. Hingga pemberesan aset dilakukan, kurator belum juga menerima tagihan buruh PT Hokindo Jaya. Bahkan, dia mendengar bahwa para buruh masih bekerja hingga sekarang.

Padahal,  Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) menyebutkan serikat pekerja resmi harus berhenti bekerja ketika perusahaan tempat mereka bekerja telah dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga. Namun, aturan ini dianggap tidak dijalankan oleh PT Hokindo Jaya.

Direktur utama PT Hokindo Jaya, lanjutnya, diduga memindah karyawannya di beberapa titik. Pabrik perusahaan tersebut tersebar di Tangerang, Cirebon, Semarang dan Surabaya.

Debitur sempat mengajukan kasasi  terhdap putusan pailit, tetapi pengajuan tersebut gagal sebelum didaftarkan ke Mahkamah Agung. Pasalnya, putusan pailit yang berasal dari proses PKPU tidak dapat diupayakan ke tingkat hukum yang lebih tinggi.

KREDITUR SEPARATIS

Kuasa hukum PT Bank Mayora Panji. H menyatakan pihaknya telah menyerahkan seluruh eksekusi kepada kurator. Bank Mayora merupakan salah satu kreditur pemegang jaminan kebendaaan atau separatis.

Bank Mayora memegang jaminan fidusia semi niaga berupa tanah milik debitur. Selain  Bank Mayora, Panji juga mewakili kreditur lain yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Pihaknya berharap, eksekusi aset oleh kurator dapat berjalan lancar dan cepat, sehingga tagihan kreditur dapat dibayarkan secara tuntas, terlepas dari iktikad buruk debitur.

“Debitur tidak pernah kooperatif. Bisa dilihat dari ketidakhadiran mereka sejak rapat verifikasi hingga sudah pemberesan aset. Peninjauan lokasi semi niaga pun juga dihalang-halangi,” katanya.

Debitur memiliki tagihan kepada kreditur separatis dan konkuren senilai Rp266,77 miliar. Kreditur separatis antara lain PT Bank ANZ Indonesia dengan nilai tagihan Rp39,76 miliar, PT Bank Permata Tbk. Rp48,65 miliar, Citibank NA Rp23,38 miliar, Bank Commonwealth Rp28,97 miliar, dan PT Bank DBS Indonesia Rp102,75 miliar.

Selain itu, terdapat PT Bank CIMB Niaga Tbk Rp11,94 miliar dan PT Bank Mayora Rp2,12 miliar. Sementara itu, tagihan dari empat kreditur konkuren berjumlah Rp9,2 miliar. Total tagihan tersebut tidak dibantah oleh debitur.

Perlihatkan Lebih

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami