Opini

Lebaran di Era Digital

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Di beberapa daerah malam lebaran dirayakan pawai obor saat malam takbiran, pesta kembang api, saling bermaafan, dan bersilaturahmi ke rumah keluarga atau pun teman. Tidak terkecuali kaum kelas menengah ke atas maupun  penduduk migran pekerja non formal di perkotaan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk bertemu sanak keluarga dan menyapa handai taulan bernostalgia dengan teman-teman masa kecil.

Bila kita menengok ke dua windu yang lalu, salah satu kebiasaan lain adalah mengirim kartu ucapan lebaran. Sering kali Pak Pos, atau kurir jasa pengiriman dokumen mendatangi rumah atau kantor kita memberikan kartu lebaran berisi ucapan selamat dilanjutkan dengan kalimat meminta maaf besrta harapan dan doa. Ketika kita masuk kantor setelah libur lebaran, sering kita lihat pemandangan di lobby  terpasang puluhan bahkan ratusan kartu lebaran berasal dari para pemangku kepentingan. Masih hangat dalam ingatan kita sejak pertengahan bulan puasa banyak toko, kios, bahkan kaki lima menjual kartu lebaran dengan design yang sama dari masa ke masa: Gambar masjid dan ketupat atau figur bersarung dan kerudung yang tersenyum.

Kini gelaran kartu Idul Fitri sepi pembeli. Investasi bisnis ini merugi, biaya cetak relatif tinggi, kartu lebaran menjadi  mahal. Ini diduga sebagai penyebab utama kurangnya peminat kartu lebaran. Tetapi nanti dulu, hilangnya tradisi saling mengirim kartu lebaran mulai terjadi sejak munculnya teknologi berbasis internet seperti email. Penggunaan komputer kini telah sangat umum dan cepat. Belum lagi adanya platform 2.0 yang mengutamakan  interaksi sehingga muncul dan berbagai fitur jejaring sosial, seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Kehadiran media sosial inilah semakin mengikis tradisi berkirim kartu lebaran. Kini masyarakat umumnya beralih pada pengiriman melalui dunia maya, terutama para remaja gemar memasang status ucapan selamat lebaran.

Saat lebaran tiba, beragam SMS mulai bermunculan di telefon seluler. Baik itu dari teman atau handai taulan. Sementara  orang akan mengirimkan pesan singkat atau SMS ucapan lebaran ke semua kontak yang tersimpan di kontak atau blast. Kita pun akan mendapatkan pesan seperti ini dalam jumlah besar, sehingga kewalahan untuk membalasnya satu persatu dan ini akan memakan waktu. Ada pula cara pengiriman kartu lebaran dengan menuliskan status di time line media sosial yang mereka miliki. Beragam jenis status bermunculan mulai dari yang biasa saja sampai yang puitis, bahkan kocak. Orang pun banyak membuat meim  tentang lebaran.

Lebaran merupakan saat yang  pas  untuk berkumpul dengan keluarga dekat maupun jauh, melepas kerindua dengan foto bersama mandiri atau selfie. Mereka juga mengunggah berbagai jenis makanan mulai menghiasi meja makan

Sering kali kita mendapatkan ucapan atau kartu lebaran elektronnik yang dengan design dan kata-kata yang sama, menandakan bahwa kartu ini merupakan kartu dari orang lain yag diteruskan (forward) atau potong dan tempel. Mungkin cara ini efektif dari segi jarak dan waktu, namun cara ini terkesan mekanis karena instan dan masif karena jarang sekali menyebutkan nama si penerima, sehingga tidak menimbukan sentuhan pribadi.

Sampai saat ini,  silaturahmi tatap muka  adalah komunikasi yang sempurna karena tanpa media perantara dan seluruh panca indera para pihak berfungsi dan ini belum bisa digantikan dengan media digital yang paling canggih sekalipun.

Penulis: Rosa Widyawan

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami