Opini

Lebaran Ketupat: Saat Orang Mengaku Bersalah

BTN iklan

(LEI) – Tradisi Lebaran Ketupat atau  Bodo Kupat dirayakan sepekan sesudah Hari Raya Idul Fitri. Pada hari ke 7 setelah hari raya Idul Fitri, atau setelah selesainya puasa syawal.  para pendukung tradisi ini beramai-ramai membuat dan memasak ketupat. Tradisi ini banyak dilakukan oleh masyarakat pantura Jawa Tengah sampai Jawa Timur dari Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Lasem, Surabaya dan lain sebagainya.

Para pendukung tradisi ini memasak ketupat, opor ayam, dan lepet (makanan gurih terbuat dari ketan, kelapa, dan kacang merah). Lepet adalah simbol, kelepatan (kesalahan) dimaafkan dan terhapus dengan lebaran.  Untuk menunya selain ketupat juga ada sayur bersantan seperti sayur lodeh, ikan lele atau ikan patin bumbu kuning, ada juga telor rebus.

Ketupat yang  disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng,  ternyata mengandung maina. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunya makna “paring pangapunten” atau dengan kata lain memberi  maaf.

Ketupat atau Kupat dalam bahasa Jawa dianggap sebagai akronim atau jarwo dosok kepanjangan dari Ngaku Lepat berarti mengakui bersalahan. Di saat inilah orang meminta maaf atas kesalahan yang disengaja maupun tidak. Di daerah Kudus kata kupat juga dimaknai dengan Laku Papat yeang berarti tindakan empat yakni lebaran, luberan, leburan, laburan. Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan  berarti meluber atau melimpah. Menyimbolkan tindakan bersedekah, membayar zakat merupakan solidaritas terhadap kaum papa. Luberan bermakna habis dan melebur. Dengan kata lain, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap orang saling memaafkan satu sama lain. Terakhir adalah Laburan berasal dari labur atau kapur alias  kalsium oksida (CaO), adalah hasil pembakaran kapur mentah (CaCO3) Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Manfaat kapur sirih cukup beragam, mulai dari sebagai campuran pinang dan daun sirih hingga penghilang kutil pada kulit. Selain itu, dengan mencampurnya dengan air akan diperoleh larutan yang juga memiliki banyak khasiat terutama dalam bidang kuliner. Memang di Kudus Bodo Kupat merupakan peristiwa  tradisional dan biasanya digelar hampir di seluruh kecamatan dan mereka menggelar  tradisinya masing-masing.

Di daerah pedesaan, ketupat masih dibuat sendiri oleh tangan-tangan terampil para ibu dan gadis belia, berbeda dengan mereka yang hiidup di perkotaan  yang sudah sulit untuk memperoleh janur atau daun kelapa muda.  Kini orang lebih  suka  membeli selongsong ketupat di pasar atau ketupat yang sudah masak. Lalu ketupat dan lepet dipunjung (dihaturkan pada orang yang dituakan) sebagai lambang permohonan maaf dan silaturrahmi.

Banyak makna filosofis yang dikandung dalam makanan ketupat ini. Bungkus yang dibuat dari janur kuning melambangkan penolak bala bagi orang Jawa sedangkan bentuk segi empat mencerminkan prinsip  “kiblat papat lima pancer”, secara harafiah berarti empat mata angin satu  arah yang dipandang. Ungkapan Jawa ini bisa ditafsirkan bahwa kemana pun orang pergi atau bagaimanapun orang menjalani kehidupan, akhirnya dia akan menuju Tuhannya.

Kebiasaan yang  terjadi ketika  Bodo Kupat di Blora, atau tepatnya di Desa Bleboh, Kecamatan Jiken. Banyak orang menggantungkan ketupat dan lepet di belakang pintu rumah. Ketupat juga dianggap sebagai penolak bala, yaitu dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah, biasanya bersama pisang, dalam jangka waktu berhari-hari, bahkan berulan-bulan sampai kering. Sebagian orang menganggap ini sesaji untuk roh nenek moyang yang pulang menengok anak cucu, ada pula yang menganggap sajian untuk mahluk halus penunggu rumah dan pekarangan untuk bersama-sama merayakan bodo kupat.

Bagi mereka yang tidak percaya tindakan ini dianggap sebagai  cara untuk mengungkapkan rasa syukur karena masih bisa bisa menikmati lebaran dan bisa mencicipi ketupat dan lepet tersebut. Kebiasaan ini  tidak hanya ada di Blora saja, tetapi juga terdapat di Rembang, atau Lasem dan mungkin di kawasan pantura lain melakukan hal yag sama.

Perihal yang menarik dalam Bodo Kupat adalah waktu untuk berwisata. Lihatlah Taman Kartini di Rembang yang selalu rama dikunjungi orang bahkan buka sampai larut malam. Orang  dari berbagai penjuru mendatangi Pantai Kartini untuk Lomban bersenang-senang menyewa perahu bersama keluarga dan handai taulan. Di beberapa kecamatan Blora pada Bodo Kupan biasanya orang berduyun-duyun ke pasar malam untuk berjoget bersama penyanyi lokal favorit mereka

Penulis: Rosa Widyawan (Budayawan dan Pustakawan)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lihat juga

Close
Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami