EkonomiLiputan

Ligislator Surabaya Perjuangkan Biaya Sekolah Gratis

BTN iklan

Surabaya, 1/2 (Antara) – Anggota Komisi D Bidang Kesra DPRD Surabaya Reni Astuti siap memperjuangkan biaya sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin.

Usai mengunjungi rumah warga yang tidak layak huni di Banyuurip, Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis, Reni Astuti mengatakan selama lima hari reses, dirinya membawa setumpuk berkas berisi aspirasi masyarakat yang perlu didatangi.

“Aspirasi yang kami terima saat reses mulai keluhan air PDAM, genangan air hingga besarnya biaya pendidikan,” katanya.

Usai mendengarkan aspirasi tersebut, Reni Astuti mendatangi rumah salah satu warga bernama Triyono, 58, tinggal di RT 13/RW IX, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan.

Triyono menyampaikan keluhan beratnya membayar biaya pendidikan anaknya yang bersekolah di SMP swasta. Bapak empat anak yang biasa ngamen di sentra PKL Balongsari ini mengaku kesulitan membayar uang sekolah anaknya yang bungsu.

Karena penghasilan tidak tetap, si bungsu bahkan menunggak SPP di sekolahnya sampai beberapa kali. “Dulu saya musisi, pemain gitar di kafe di Putat (lokalisasi). Setelah lokalisasi tutup saya biasa mangkal di sentra PKL Balongsari saat Rabu malam saja, dan kadang di Korem. Dapat bantuan sound system,” kata Triyono.

Kepada wakil rakyat ini, Tri berharap keluarganya mendapat bantuan dari Pemkot Surabaya untuk meringankan beban hidupnya. Paling tidak bantuan biaya pendidikan sekolah untuk anaknya.

“Saya asal Kecamatan Tarik, Sidoarjo, dan di Banyu Urip Kidul ini sudah 17 tahun. Sudah lama saya ber-KTP Surabaya. Saya ingin bu Reni bisa menjembatani ke Pemkot bagaimana cara mendapat bantuan,” ujarnya.

Selain melihat dari dekat kehidupan Triyono, Reni juga mendatangi rumah suami istri Juhari dan Siti Aisyah, di RT 11/RW IX, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan. Di tempat ini Reni Astuti mendapati keluarga dengan empat anak ini tinggal di rumah tidak layak huni.

Juhari yang kesehariannya kerja sebagai kuli bangunan tidak bisa berbuat banyak. Pendapatannya dari bekerja hanya pas buat makan. “Saya asli Banyu Urip sini. Ini rumah warisan orang tua. Dulu tanahnya lumayan lebar, terus dipetak, dibagi dengan saudara-saudara,” kata Mbak As, sapaan Siti Aisyah.

Mbak As mengaku saat hujan terkadang hanya anak bungsunya yang tidur dalam rumah berikuran panjang sekitar 4 meter dan panjang sekitar 2,5 meter itu. Bangunan yang terbuat dari triplek, dan sebagian atap menggunakan bekas baliho terkadang bocor.

“Kalau hujan deras hanya anak saya yang kecil tidur di dalam. Lainnya di luar,” katanya.

Reni Astuti menegaskan bahwa kedatangannya ke rumah Tri terkait kesulitannya membayar biaya sekolah, serta rumah Mbak As sehubungan hunian tak layak merupakan tindak lanjut reses.

“Saya reses Senin (29/1) dan menerima informasi pengurus kampung. Karena itu saya datang dengan melihat langsung. Rumah bu As sudah sangat layak dibantu dengan program perbaikan rumah tidak layak huni dinas sosial,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap pihak kelurahan sudah mengetahui kondisi ini untuk selajutnya diusulkan ke dinas sosial, jika tidak patut disesalkan.

Reni sendiri sudah berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan terkait masalah ini.

“Saya akan coba komunikasi dengan pihak sekolah. Termasuk dengan pemerintah kota, dalam hal ini Dinas Pendidikan yang mengurusi bantuan bagi siswa dari keluarga pra sejahtera namun memiliki semangat menempuh pendidikan,” katanya.

Menurut Reni, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran pendidikan berupa BOPDA untuk sekolah swasta, harapannya sekolah bisa membantu siswa dari keluarga tidak mampu.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami