Liputan

Lion Air Putus Kontrak Ground Handling

BTN iklan

JAKARTA — Dikutip dari Bisnis Indonesia, maskapai penerbangan milik Rusdi Kirana, Lion Air, mengevaluasi layanan tata operasi darat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menyusul insiden penumpang internasional keluar di terminal domestik pada Selasa (10/5).

Direktur Operasional & Airport Service Lion Air Daniel Putut Adi Kuncoro mengatakan pihaknya juga akan memutuskan kontrak kerja dengan perusahaan alih daya untuk layanan tata operasi darat atau ground handling terkait dengan kelalaian menurunkan penumpang dari pesawat JT 161 untuk SIngapura-Jakarta di Terminal 1.

Menurutnya, kelalaian itu sudah dilaporkan kepada Otoritas Bandar Udara Soekarno-Hatta. Saat ini, dia menunggu penyelesaian investigasi dari Kementerian Perhubungan.

“Kami diberikan sanksi dan diminta memperbaiki manajemen dan ground handling akan dievaluasi,” jelasnya di Kantor Kementerian Perhubungan Jakarta, Senin (16/5).

Saat ini, dia menjelaskan pihaknya belum mengambil kepu tusan apapun kepada para pihak terkait dalam insiden salah terminal sebelum proses investigasi berakhir. Daniel menyebutkan bakal ada pembahasan internal di level direksi guna merumuskan rencana aksi meningkatkan pela yanan dan meminimalisasi ke lalaian.

“Masih kami dalami. Kalau memang tidak bisa dalami, apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, ya mungkin kami akan minta bantuan pihak Kepolisian untuk bisa bantu kami menentukan apakah ada kelalaian atau memang kesengajaan. Kami masih mengumpulkan datanya,” jelasnya.

Daniel memaparkan penanggung jawab ground handling di Bandara Soekarno-Hatta adalah perusahaan di luar Lion Air. Dia memilih akan memutuskan kontrak dengan perusahaan tersebut karena bus dan sopir yang dipekerjakan bukan karyawan maskapai itu. Daniel menceritakan keberang katan pesawat JT 161 tercatat membawa 182 penumpang dari Singapura ke Jakarta. Adapun 182 penumpang itu dibawa dengan empat bus. Untuk tiga bus pertama membawa penumpang dengan tepat menuju Terminal 2, sementara satu bus mengangkut 40 penumpang menuju Terminal 1.

“Begitu staf kami sadar bahwa ada penumpang keluar dari Terminal 1, kami kumpulkan lagi 40 orang itu ke dalam bus. Namun ada 16 orang lolos. Nah, yang lolos ini kemudian di terima oleh staf bagian kedatangan Terminal 1 dan diantarkan lagi ke Terminal 2,” jelasnya.

Daniel melanjutkan pihaknya langsung menggelar proses investigasi dengan berkoordinasi dengan pihak imigrasi setelah kejadian salah terminal itu.

“Nah, memang hebatnya medsos jadi terungkap ramai beberapa hari kemudian. Padahal pada hari kejadian sudah tahu masalah ini dan lakukan antisipasi,” ungkapnya.

Dalam rapat dengan Kemenhub, Daniel menyatakan Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo meminta Lion Air memperbaiki manajemen. Tak hanya itu, dia juga sudah mempersiapkan diri menerima sanksi yang akan diberlakukan oleh Kemenhub.

Dari aspek keamanan, Daniel menjelaskan Imigrasi serta Bea dan Cukai Indonesia sudah tahu bakal ada penumpang pesawat dari Singapura yang ma -suk ke Indonesia sejumlah 182 orang.

“Ini namanya irregulaties operational. Hal-hal terkait langsung dengan Imigrasi dan Bea Cukai sehingga pada kejadian itu kami langsung koordinasi dengan pihak terkait.”

Daniel menegaskan pihaknya belum menerima sanksi sampai proses investigasi selesai.

“Pak Dirjen sampaikan juga bahwa maskapai ini masih diperlukan masyarakat. Ya saya sampaikan juga bahwa kami masih diperlukan masyakat. Lion Air ini bagaimanapun juga masyarakat Indonesia masih memerlukan penebangan.” tuturnya.

INVESTIGASI BERSAMA

Sementara itu, Kemenhub membentuk tim guna melakukan investigasi bersama terkait dengan penumpang pesawat Lion Air JT 161 salah terminal. Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo menuturkan tim investigasi melibatkan Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, dan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Perekonomian.

“Selain masing-masing melakukan penyelidikan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian,” kata Suprasetyo.

Dalam investigasi tersebut, Ditjen Perhubungan Udara akan melakukan penyelidikan secara teknis dengan mengirimkan empat orang. Terkait dengan pihak yang bertanggung jawab akan kejadian tersebut, dia mengungkapkan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 61/2015 tentang Fasilitas Udara merupakan tanggung jawab maskapai Lion Air.

Saat kejadian, dia mengatakan pihak Lion Air tidak melaporkan ke instansi terkait termasuk Kemenhub. Atas kelasahan itu, Lion Air mendapatkan teguran dari Kemenhub. Dia mengungkapkan Lion Air telah melaporkan kejadian salah terminal kepada kepolisian mengenai kesalahan sopir membawa penumpang pesawat Lion Air JT 161.

Berdasarkan keterangan manajemen Lion Air, sopir bus telah diputus hubungan kerja pada perusahaan ground handling. Jumlah penumpang pesawat Lion Air JT 161 yang keluar Terminal 1 berjumlah 16 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 orang sudah melapor, sementara empat orang lainnya belum melakukan hal tersebut. Dari empat orang tersebut, tiga orang di antaranya adalah WNI sedangkan satu orang warga negara asing asal Honga ria.

Maryati Karma, Direktur Angkutan Udara Ditjen Per hubungan Udara, Kemenhub, menyatakan pihaknya sudah mencabut sebagian rute domestik akibat keterlambatan penerbangan akibat pilot mogok terbang.

“Jadi bisa saja dicabut dengan sanksi-sanksi sebelumnya delay sejak awal 2016.”

Untuk salah terminal, Maryati menyebut potensi sanksinya bisa bermacam-macam sehingga akan melihat masalah ini dari imigrasi. Investigasi tersebut juga akan menggandeng pihak imigrasi dari Kementerian Hukum dan HAM. Sejauh ini, dia menilai adanya temuan kesalahan prosedur dari pihak operator penerbangan.

Direktur Operasional dan Engineering PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo menyatakan insiden salah terminal merupakan salah satu kelalaian yang murni dilakukan oleh pihak Lion Air.

“Ke depannya masih ada antisipasi, lebih sering untuk monitoring dan seleksi personel. Kami melihat ini murni dari maskapai, aturannya sudah begitu,” jelasnya.

“Cabut penerbangan international Lion Air, kesalahan fatal Lion Air dan kejadian tersebut sangat fatal,” demikian diungkapkan Ketua APPTHI (Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia), Dr. Laksanto Utomo.

Ketua APPTHI menanggapi kelalaian petugas Ground Handling dan Lion Air, hal ini tidak saja menjadi tanggung jawab dari keduanya namun juga Angkasa Pura II selaku pengelola bandara.

Selanjutnya Ketua APPTHI menyerukan kepada Kemenhub untuk sementara cabut penerbangan Lion Air atau sementara bekukan sambil menunggu investigasi.

“Ini tidak main-main karena ini bukan negara Lion Air,” demikian Ketua APPTHI.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close