BTN iklan
LiputanPolitik

Lipsus-“Duel” Ganjar-Sudirman di Kandang Banteng

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akhirnya menetapkan petahana Ganjar Pranowo sebagai Bakal Calon Gubernur Jawa Tengah yang bakal diusung pada Pemilihan Gubernur 2018.

Dipilihnya Ganjar sekaligus mengakhiri spekulasi bahwa PDIP tidak mau ambil risiko terhadap dugaan keterlibatan Ganjar dalam kasus korupsi KTP elektronik, apalagi Ganjar sendiri sudah lebih dari tiga kali dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik KPK dalam kasus tersebut.

Dipilihnya Ganjar tersebut juga menandakan bahwa PDIP sangat yakin bahwa salah seorang kader terbaiknya tersebut memang tidak terlibat kasus gigakorupsi KTP elektronik yang diduga merugikan negara Rp2,9 triliun itu.

Dalam berbagai keterangannya, Ganjar memiliki argumentasi kuat bahwa dirinya tidak menerima suap. Bagi Ganjar, isu korupsi KTP elektronik ini sangat mengusik karena berlawanan dengan apa yang sudah dan sedang dilakukan untuk memberantas semua praktik suap dan korupsi.

Kendati punya alibi kuat, pemeriksaan dia di KPK dalam kasus tersebut dianggap menjadi semacam “slilit” (remah di sela gigi) untuk mendapatkan tiket bertarung kembali dalam Pilgub Jateng 2018.

Melihat sejumlah survei, publik Jawa Tengah tampaknya memang tidak terlalu terpangaruh dengan penyebutan Ganjar dalam kasus KTP elektronik.

Buktinya dari sejumlah nama yang mengemuka, termasuk Sudirman Said yang secara resmi sudah dicalonkan oleh koalisi empat partai politik, Ganjar dalam sejumlah survei memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi.

Hasil sigi oleh Lingkaran Survei Indonesia yang diumumkan pada 1 Desember 2017, misalnya, menunjukkan elektabilitas Ganjar paling tinggi, melampaui 50 persen dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain, termasuk dengan Sudirman Said.

Survei internal yang dilakukan oleh PDIP juga menunjukkan hasil serupa. Popularitas dan elektabilitas Ganjar melampaui sejumlah nama yang melamar melalui PDIP, misalnya, Bupati Kudus, Jawa Tengah, Musthofa, Bupati Sukoharjo Wardoyo, dan mantan Bupati Klaten Sunarna.

Jawa Tengah sebagai “kandang banteng” selama pilgub secara langsung juga membuktikan efektivitas mesin partai ini untuk memenangkan calon yang diusung.

Pada Pilgub 2008, misalnya, Bibit Waluyo yang diusung oleh PDIP bisa mengalahkan calon populer Bambang Sadono yang dalam survei sebelumnya memiliki popularitas tinggi.

Begitu pula pada Pilgub 2013, PDIP, yang kala itu mengusung Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, kembali unggul atas petahana sekaligus calon populer Bibit Waluyo.

“Harus diakui bahwa mesin politik PDIP memang efektif untuk menggerakkan dukungan,” ujar analis politik dari Universitas Diponegoro Mochmad Yulianto, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, Ganjar di atas kertas memiliki peluang besar untuk kembali terpilih dalam Pilgub Jateng yang akan digelar pada 27 Juni 2018.

Namun, PDIP ternyata memilih politikus PPP Taj Yasin Maimoen Zubaer, sebagai pendamping Ganjar pada perhelatan Pilgub Jateng 2018.

Kombinasi nasionalis-santri bisa diperkirakan menjadi resep cespleng untuk mendulang kemenangan pada pilgub mendatang, meskipun PDIP harus merelakan kursi Cawagub ditempati kader PPP.

Bagi PDIP, kemenangan calon yang diusung di Jateng amat penting untuk menopang dukungan suara pada Pemilu dan Pilpres 2019.

Apalagi selama hampir 5 tahun menjabat, Ganjar yang memiliki kredo “Tuanku ya rakyat, Gubernur cuma mandat” itu aktif turun ke lapangan dan menemui warga.

Bila yang memimpin Jateng adalah kader sendiri, konsolidasi untuk tugas pemenangan Pemilu dan Pilpres 2019 jauh lebih ringan.

Pascareformasi, PDIP dalam setiap pemilu jauh mengungguli perolehan suara dari partai-partai lain, termasuk Partai Golkar yang selalu berjaya pada setiap pemilu pada Orde Baru.

Pada Pemilu 2014, misalnya, PDIP meraih 4.295.598 suara di Jateng sekaligus menempatkan 31 wakilnya di DPRD Provinsi Jateng.

Hanya PDIP yang bisa mengusung calon sendiri, sedangkan PKB, Golkar, Gerindra, PKS, Demokrat, PPP, dan PAN harus berkoalisasi untuk menembus syarat minimal dukungan 20 kursi untuk mengusung cagub-cawagub.

Selain popularitas dan elektabilitas, modal lain yang dimiliki Ganjar, yakni keaktifannya di media sosial, terutama di Twitter dengan sejuta pengikut dan Instagram 397.000 pengikut.

Keterlibatan di dunia media sosial ini penting karena hal itu menunjukkan seseorang juga hidup di jagat digital, dunia yang diselami anak muda.

Pada Pilgub Jateng 2013, Ganjar mendapatkan banyak suara dari banyak pemilih pemula dan muda. Pemilih ini mencitrakan Ganjar sebagai sosok yang gaul dan keren.

Oleh karena itu, dengan kemampuan dialog ke semua lapisan, termasuk dengan anak-anak muda, Ganjar pada kontestasi Pilgub Jateng 2018 — dengan jumlah pemilih sebanyak 27.385.985 orang — diperkirakan bakal merebut suara dari pemilih pemula dan muda.

Ikhwal kinerja Ganjar selama empat tahun lebih, bila merujuk pada indikator makro, patut diapresiasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan terjadi penurunan jumlah penduduk miskin, baik persentase maupun jumlahnya.

Pada 2013, jumlah penduduk miskin 4,811 juta jiwa (13,58 persen) lalu pada 2017 (September) menurun menjadi 4,197 juta jiwa (12,23 persen).

Indeks Pembangunan Manusia juga mengalami perbaikan, tercatat 68,02 pada 2013 terus merangkak menjadi 69,98 pada 2016, sedikit di bawah IPM Indonesia yang mencapai 70,18. Pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen.

Ganjar juga cukup sukses membangun birokrasi yang bersih dan transparan. Langka pertama yang dilakuka memperbaiki tunjangan pegawai, kemudian lelang jabatan dari eselon I hingga IV, wajib lapor gratifikasi, mengisi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Hasilnya, pelayanan publik di bawah Pemprov Jateng kian mudah, murah, dan cepat.

Dalam kesempatan berbeda, Ganjar mengaku tidak merasa berat jika harus “head to head” dengan pasangan Cagub Sudirman Said-Ida Fauziyah pada Pilgub Jateng 2018.

“Berat dan ringan itu soal beban saja, kalau persepsi bebannya berat ya akan berat, tapi kalau (persepsinya) ringan ya ringan,” katanya.

Ganjar sendiri tercatat telah mengalami tiga kontestasi politik dalam beberapa tahun terakhir, yakni dua kali di tingkat legislatif pusat dan satu kali di eksekutif.

Kendati demikian, sebagai penantang petahana Ganjar-Yasin, pasangan Cagub Sudirman Said-Ida Fauziyah tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pasangan Sudirman-Ida diusung empat partai politik, yakni Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Seluruh kader dan jajaran kultural PKB diinstruksikan untuk terus meningkatkan elektabilitas Bakal Calon Wakil Gubernur Ida Fauziyah, pendamping Sudirman Said pada Pilkada Jawa Tengah 2018.

Ketua DPW PKB Jawa Tengah Yusuf Chludori mengatakan bahwa PKB akan masuk ke pondok pesantren yang tersebar di Jateng dan juga pengajian di masyarakat sebagai upaya memenangkan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah pada pilkada mendatang.

Pria yang akrab disapa Gus Yusuf ini optimistis dengan berjalannya mesin politik PKB hingga ke tingkat ranting, maka elektabilitas Ida Fauziyah akan terus terangkat.

“Bu Ida ini bagian dari Jawa Tengah, suaminya adalah pejuang Nahdlatul Ulama di Jateng, tokoh NU juga,” ujarnya.

Bersama dengan Bakal Cagub Sudirman Said, Ida mengaku akan mewujudkan Jateng lebih bermartabat dalam berbagai bidang.

“Permasalahan perempuan, kemiskinan, perceraian, pernikahan anak, dan masih banyak isu lain yang butuh keseriusan di Jateng, kini saatnya membangun Jateng lebih baik lagi,” katanya.

Senada dengan PKB, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan menginstruksikan seluruh kader di semua tingkatan untuk bekerja keras memenangkan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Zulkifli mengaku akan turun langsung ke daerah-daerah di Jateng untuk konsolidasi dengan kader sebagai upaya pemenangan pasangan Sudirman-Ida pada pilkada mendatang.

Ia mengklaim bisa mengumpulkan sebanyak 15 ribu kader PAN pada konsolidasi pemenangan pasangan Sudirman-Ida yang dilaksanakan di Kota Semarang, Surakarta, Kabupaten Pemalang, Banyumas, dan Magelang.

Menurut dia, tiap kader PAN yang menjadi pengurus di tiap ranting mampu merekrut dua orang untuk bertugas berjaga di tempat pemungutan suara (TPS) saat pemungutan suara berlangsung.

Mulai saat ini, kader PAN juga diminta terus memperkenalkan pasangan Sudirman-Ida kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Pasangi rumah setiap kader dengan foto Sudirman Said, kita harus menang di Jateng,” tegasnya.

Sementara itu, guna mengantisipasi perpecahan pada kalangan Nahdaltul Ulama karena PKB dan PPP mengusung pasangan bakal cagub yang berbeda bersama sejumlah partai politik, PWNU Jateng membebaskan para nahdliyin dalam menentukan pilihan politiknya pada pilkada mendatang.

Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hapsin menganggap adanya dua kader NU yang maju Pilkada Jateng 2018 itu merupakan sesuatu yang menjadi berkah bagi semua pihak.

“Saya kira kami menjadi bebas untuk memilih siapapun, mengenai perbedaan merupakan yang hal yang biasa,” ujarnya.

Kendati demikian, PWNU Jateng melarang penggunaan lambang maupun atribut NU untuk berbagai kepentingan politik, apapun alasannya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close