HukumPailit

Lolos Pailit Multi Structure Jalankan Proposal Perdamaian

BTN iklan

Jakarta, LEI – Perusahaan konstruksi PT Multi Structure akhirnya lepas dari bayang-bayang pailit, menyusul disetujuinya proposal perdamaian oleh mayoritas kreditur.

Perusahaan yang berdiri sejak 1974 (debitur) itu berhasil mencapai perdamaian dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang akan berakhir pada 8 Februari mendatang.

Rencana perdamaian yang ditawarkan debitur disetujui oleh mayoritas kreditur dalam agenda pemungutan suara. Dengan demikian, proses PKPU yang mengalami lima kali perpanjangan ini akhirnya berujung damai.

Salah satu pengurus PKPU Binsar Halomoan Nababan mengatakan, terdapat 8 kreditur separatis (dengan jaminan) yang hadir dalam rapat kreditur.

Tujuh dari delapan separatis menyetujui proposal perdamain dengan suara mencapai 95,94%. Sementara itu, hanya ada satu separatis yang menolak dengan suara 4,06%.

Di sisi lain, dari 126 kreditur konkuren (tanpa jaminan) yang menghadiri rapat voting, sebanyak 112 kreditur konkuren menyepakati proposal perdamaian dengan suara 92,13%. Sisanya, terdapat 9 konkuren yang menolak proposal perdamaian dengan suara 7,88%.

Namun demikian, syarat diterima proposal perdamaian telah sesuai dengan Pasal 281 ayat (1) huruf a dan b UU No.37/2004 tentang Kepailtan dan PKPU. Selanjutnya, tim mengurus akan melaporkan hasil voting kepada hakim pengawas.

“Sidang pengesahan perdamaian akan dibacakan oleh hakim pemutus pada 8 Februari,” ujar Binsar, Selasa (6/2).

Direktur PT Multi Structure Sukamto mengutarakan rasa terima kasihnya kepada para kreditur.

“Atas nama Multi Structure, saya pribadi dan manajemen mengucapkan terima kasih kepada kreditur yang mendukung kami dengan menyetujui proposal perdamaian,” katanya Selasa (6/2).

Sukamto juga berterima kasih kepada pihak yang menolak rencana perdamaian. Hal ini akan dijadikan pelajaran penting bagi perusahaan ke depannya agar tidak kembali terlilit utang dan gagal bayar.

Kuasa hukum PT Multi Structure Muhammad Rizal Rustam dari kantor hukum Ismak Advocaten menambahkan, kliennya berkomitmen melaksanakan isi perjanjian yang disepakati bersama dengan para kreditur.

Dia juga optimistis debitur mampu menjalankan isi dari proposal perdamaian. Apalagi, rencana perdamaian mengikat secara hukum antara debitur dan kreditur setelah homologasi.

“Kami yakin karena proposal ini dibuat sesuai kemampun debitur, bukan sekadar janji-janji untuk menyenangkan kreditur,” ujarnya, Selasa (6/2).

Dia mengaku debitur telah berusaha ekstra mengakomodasi kemauan kreditur. Skema pembayaran telah disesuaikan dengan keinginan kreditur tanpa mengabaikan kemampuan finansial debitur.

Skema pembayaran, lanjut dia, telah mengalami berbagai perubahan. Perubahan itu merupakan kesepatakan bersama untuk menyelesaikan tagihan kreditur, baik separatis maupun konkuren.

Berdasarkan proposal perdamaian yang diperoleh Bisnis, PT Multi Structure menuliskan memiliki utang Rp1,34 triliun. Utang ini tersebar ke 8 kreditur separatis atau tanpa jaminan dan 129 kreditur konkuren.

Kedelapan kreditur separatis yakni PT Bank DBS Indonesia, PT BPD Kaltim Kaltara, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Indonesia Eximbank, PT Bank Syariah Mandiri, PT BCA Finance dan PT Mandiri Tunas Finance.

Tagihan separatis terbesar dipegang oleh Indonesia Eximbank dan Bank Permata masing-masing Rp351,41 miliar dan Rp238,53 miliar.

Sementara itu, skema pembayaran kepada separatis yaitu debitur meminta grace period atau masa tenggang 6 bulan setelah homologasi. Adapun formula pembayarannya beragam ada yang dicicil 60 bulan dan ada yang dibayar dari hasil penjualan jaminan.

Sementara itu, pembayaran ke konkuren dibagi menjadi tiga golongan. Golongan I yaitu kreditur konkuren dengan tagihan hingga Rp50 juta. Debitur akan mengangsur selama 12 bulan sejak Maret 2018. Kreditur golongan I memegang tagihan Rp494,22 juta.

Golongan II yakni konkuren dengan piutang atas proyek berjalan. Utang kepada Kreditur golongan II akan dibayar selama 7 bulan sejak Maret 2018. Kreditur golongan ini membawa tagihan Rp64,27 miliar.

Selanjutnya, kreditur konkuren golongan III yaitu kreditur yang memiliki tagihan pada proyek yang telah selesai. Formula pembayarannya, debitur akan menerbitkan surat berharga berupa Convertible Bond senilai 10% dari saham debitur. Kreditur golongan III memegang tagihan Rp100,2 miliar.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami