LiputanPolitik

Mahasiswa Seyogianya Tidak Diseret Kepusaran Konflik Politik AHY dan KLB

BTN iklan

Jakarta, –  18/3 LEI – Sejumlah pengamat mengingatkan agar konflik internal yang dialami oleh Partai Demokrat saat ini tidak menyeret-nyeret kampus atau mahasiswa, karena hal itu merupakan konflik internal partai dan jika melibatkan pihak luar tidak akan mendewasakan masyarakat dalam berdemokrasi.
Seyogianya kelompok Agus Harymurti Yudhoyono dan Kelompok Kongres Luar Biasa (KLB) Sibolangit Sumut menyelesaikan konflik secara dewasa, melihat aturan yang ada atau lewat jalur hukum jika ada salah satu pihak yang dirugikan, karena konflik di Partai Demokrat, tidak ada kudeta mengkudeta melainkan konflik internal partai, kata Dr. Laksanto utomo, Ketua Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) 2009 – 2015 di Jakarta, Kamis.
Laksanto yang juga dosen Univ Veteran Jakarta menambahkan, struktur kepartaian di Indonesia, termasuk juga Partai Demokrat semestinya bersifat terbuka, tidak dikuasai oleh keluarga atau pendiri keluarga. “Kalau tidak salah di PD itu yang menjadi masalah adalah kekuasaan Ketua Umum AHY relatif luas, dan di atas AHY adalah ayahnya yakni SBY. Struktur partai seperti itu tidak akan sehat,” katanya.

Hal senada disampaikan Aat Suryasafaat, pengamat komunikasi dan media, hendaknya semua pihak berjiwa besar demi keselamatan dan kemaslahatan (kebaikan) bangsa ke depan. “Apakah tidak mungkin dari kedua belah pihak itu melakukan islah, seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat nabi,’ kata Direktur pemberitaan LKBN Antara 2016.
”  Kemenangan dalam suatu peperangan adalah apabila salah satu pihak dapat menahan diri untuk tidak saling menyerang dan merendahkan hati diantaranya, termasuk tidak menyeret-nyeret pihak lain apa lagi para mahsiswa sebagai kader penerus bangsa,” katanya. hal itu sebagai tanggapan berita yang menyebutkan sekitar sebelas mahasiswa dari perwakilan sebelas Universitas di Jakarta, pada Rabu (17/3) siang menggelar konferensi pers meminta kepada Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atas manuver politik yang telah dilakukan.

“Tertanggal 17 Maret 2021 kami yang tergabung dari beberapa kampus yang menjadi korban kegiatan politik partai dengan ini menyatakan sikap bahwa Kami mahasiswa tidak mau dibawa-bawa ke ranah Politik,” ujar salah seorang mahasiswa, Muksin dalam jumpa pers di Universitas Borobudur.
Mereka juga menyatakan menolak untuk diseret pada kelompok SBY, GATOT, JK, ANIES, KAHMI, AHY, untuk diadu-adu dengan manipulasi demokrasi untuk melawan Pemerintahan Jokowi dan Moeldoko sebagai Kepala KSP.
“Dengan ini Kami Mahasiswa Minta AHY jangan bawa Kami ke ranah politik apapun, terutama Politik komunitas radikal.”
“Biarlah kami mahasiswa fokus ke pendidikan dan berdiri tegak sebagai mahasiswa Indonesia yang independen, Reformasi dan Pancasila. Kami tidak tahu menahu soal kepentingan politik parpol kalian, itu urusan internal parpol dan jangan libatkan mahasiswa dalam hal ini,” tambah Muksin.
Para mahasiswa juga mendesak kepada AHY selaku Ketua Umum DPP Partai Demokrat untuk mengklarifikasi 11 Universitas yang dilibatkan dalam urusan internal parpol
“Mendesak AHY segera mengklarifikasi dan meminta maaf kepada 11 Universitas di hadapan publik sekarang juga. AHY segera mungkin menghadirkan oknum yang mencatutkan nama 11 universitas dan nama mahasiswa yang terlibat dalam mimbar demokrasi.”
“Meminta kepada AHY melakukan klarifikasi serta permohonan terhadap mahasiswa langsung atau melalui video.”
“Jika AHY merasa keberatan untuk menemui mahasiswa dan 12 Universitas di hadapan publik, maka dalam 2×24 jam 12 Universitas akan terus menghantui DPP partai demokrat yang dipimpin oleh AHY. Mereka kemudian meminta AHY untuk tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari yang melibatkan mahasiswa.
“Kami mahasiswa meminta AHY agar tidak melibatkan mahasiswa dalam konflik internal parpol dan kami mahasiswa bukan sayap parpol,” pungkasnya.

****

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami