Liputan

Masjid Asasi, Masjid Tertua Milik Sumatra Barat

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Masjid Asasi merupakan masjid tertua yang terletak di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.

Sekilas bagian atapnya mengingatkan pada atap Masjid Agung Demak yang berbentuk limas tiga tingkat.

Sementara bangunan utama yang berjendala dan penuh ukiran mirip dengan rumah adat Sumatra Barat, Rumah Gadang.

Masjid ini tertua kedua di Indonesia, setelah Masjid Saka Tunggal di Banyumas, Jawa Tengah, yang dibangun sekitar tahun 1200.

“Sesuai namanya, Asasi diambil dari asas yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan,” kata guru Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Masjid Asasi Datuk Pono Batuah.

Berdasarkan tulisan berjudul ’10 Masjid Tertua di Indonesia’ yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, diketahui bahwa Masjid Asasi dibangun sekitar tahun 1400.

Sejak awal berdiri, masjid ini merupakan pusat aktivitas Islam dari empat nagari (wilayah administratif).

Masjid Asasi dibangun atas gagasan dari empat nagari yaitu Gunung, Paninjauan, Tambangan dan Jawo di atas lahan sawah yang merupakan hibah dari masyarakat.

Selain dibangun masjid, lahan sawah juga dikelola bersama. Hasil dari sawah dibagi menjadi dua, setengah untuk pengelola sawah dan setengah untuk masjid.

“Sampai saat ini pola tersebut masih berjalan dengan luas sawah yang dikelola empat tumpak, semuanya berada di Nagari Gunung,” kata Datuk Pono.

Datuk Pono menjelaskan bahwa masjid yang masuk dalam daftar Cagar Budaya ini sudah mengalami perbaikan dua kali tanpa mengubah bentuk aslinya.

Semula atap masjid berupa ijuk kemudian diganti menjadi atap seng. Dinding kayu di bagian dalam yang sudah lapuk juga ikut diganti.

Terdapat pula perbaikan kecil pada ukiran, namun hanya 10 persen sehingga sisanya masih ukiran asli.

Sementara itu lantai dan sembilan tiang kayu di ruang salat masih asli.

Salah satu kamar di Masjid Asasi masih menyimpan benda kuno seperti brankas peninggalan penjajah Belanda. Sayangnya tidak ada yang bisa membukanya sampai saat ini.

Di sisi masjid terdapat satu bangunan kecil menyerupai teras, yang berfungsi sebagai tempat tabuh atau beduk.

Tabuh itu masih digunakan sebagai pengingat masuk waktu salat.

Datuk Pono menceritakan bahwa Masjid Asasi pernah beberapa kali dikunjungi oleh tokoh agama dari berbagai negara seperti Mesir, Maroko dan Thailand.

“Mereka selain datang untuk beribadah di masjid ini juga berbagi ilmu mengenai ajaran Islam,” kata Datuk Pono.

Wisatawan banyak yang berkunjung ke masjid ini pada hari biasa sampai hari raya Islam.

Datuk Pono menambahkan biasanya tiga hari menjelang Idulfitri para remaja masjid mulai menggelar beragam acara menarik. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close