EntertainmentLifestyle

Masyarakat Bandung Terpikat Cerita Laut soal Tragedi 1998

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Masyarakat Bandung berbondong-bondong ke Auditorium Pusat Kebudayaan Perancis (IFI) Bandung, Rabu (18/4) malam. Mereka ingin menyaksikan film pendek Laut Bercerita garapan sutradara Pritagita Arianegara yang diangkat dari novel karya Leila S. Chudori.

Berdurasi 30 menit, film yang sudah diperkenalkan sekaligus bersama perilisan buku Leila di Jakarta pengujung tahun lalu itu menceritakan dua sudut pandang.

Seperti buku setebal 379 halaman yang ditulis Leila, ada sudut pandang seorang aktivis korban penculikan serta seorang adik dari korban penculikan yang tak pernah kembali lagi.

Dikisahkan dalam film, di sebuah rumah di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang pimpinan Aswin Pradana mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, bersama para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka, yang tak kunjung terjawab.

Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Film pendek itu diakhiri adegan para keluarga yang mencari kejelasan akan nasib anaknya dan tentang cinta yang tak akan luntur. Itu tergambar lewat acara Kamisan, diiringi lagu Darah Juang ciptaan John Tobing. Suasana seketika haru.

Sejumlah penonton tampak sibuk mengusap air mata seiring lampu-lampu yang kembali menyala menerangi ruangan. Hanya 30 menit, namun film itu sukses mendatangkan tangis penonton.

Pragita selaku sutradara mengaku awalnya gugup saat berdiskusi untuk menggarap film itu bersama Leila. Sang wartawan senior ikut terlibat menggarap naskah Laut Bercerita.

“Kami diskusikan mana saja yang bisa mewakili film dengan durasi 12-15 menit awalnya. Tapi karena ada beberapa hal seperti adegan di rumah itu, akhirnya durasi jadi 30 menit,” kata Pragita dalam acara bincang-bincang yang digelar usai penayangan film.

Pragita mengaku tak sempat meriset karena sudah cukup banyak berdiskusi dengan Leila.

Namun ia mendapat tantangan saat masalah bujet datang. Beruntung, para kru sampai aktor yang ikut bermain dalam film dokumenter itu bersedia tak dibayar. Mereka rela meluangkan waktu selama tiga hari untuk syuting, padahal termasuk aktor dan aktris kenamaan.

Reza Rahadian memerankan Biru Laut dalam film itu, sementara Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Ratih Anjani, kekasih Laut. Ada pula Ayushita Nugraha yang menjadi Asmara Jati, adik Laut. Sementara Tio Pakusadewo dan Aryani Willems menjadi orang tua Laut.

Tanta Ginting bersama aktivis seperti Ade Firman Hakim dan Haydar Saliszh ikut tampil.

Produser film Wisnu Darmawan mengungkapkan, film yang menjadi visualisasi untuk melengkapi peluncuran buku Leila itu sudah diputar di beberapa kota dan mendapat tanggapan positif.

Tak hanya tim produksi film, pemutaran dan diskusi kali itu juga dihadiri sang penulis langsung. Dalam kesempatan yang sama Leila bercerita bahwa prosesnya menulis Laut Bercerita sama seperti ketika ia membuat novel Pulang. Bukan dari narasi sejarah, melainkan karakter yang menginspirasi dan punya kisah menarik untuk diceritakan.

“Itu terjadi juga saat membuat Pulang, di mana saya bertemu pemilik restoran Indonesia di Paris,” ujarnya. Kali ini, ia menemui sejumlah aktivis ’98 yang sempat diculik, seperti Nezar Patria, Budiman Sujatmiko dan beberapa nama lain. Ia pun menemui para keluarga aktivis, baik yang hilang maupun kembali, yang tinggal di Malang, Solo dan kota lainnya.

“Kebanyakan keluarga aktivis yang saya temui sudah sepuh,” ucapnya.

Mendatangi acara Kamisan pun termasuk dalam agenda Leila saat menulis buku itu.

Meski senang mengangkat cerita aktivis, Leila tetap membingkainya dengan kemampuan berimajinasi pada karya sastra. Namun ia menuturkan, tujuannya menulis tidak pernah soal menggaet generasi milenial, mendapat penghargaan atau bahkan difilmkan.

Menurutnya, tujuan itu tidak akan membuat sebuah karya terasa jujur. “Karakater saya mesti sesuai, mesti asyik. Saat baca, saya senang. Harus tertarik membacanya kembali,” ujarnya. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close