Hukum

Media Sosial Menjadi Lahan Basah Untuk Muslim Cyber Army Mencari Mangsa

BTN iklan

Jakarta/Lei – Akhir tahun 2016 lalu sebuah kelompok yang menamai dirinya sebagai Muslim Cyber Army (MCA) mengajak masyarakat untuk bergabung dan melakukan pelatihan. Pelatihan itu mereka namai dengan sebutan ‘gathering’.
Image result for muslim cyber army
Informasi ini disebar melalui Facebook dan aplikasi pesan berbagi Whatsapp. Peminatnya bisa dibilang cukup banyak, meski untuk ikut dalam gathering ini tak gratis.

Per orang diharuskan membayar sejumlah uang tergantung kelas yang akan diikuti. Klasifikasinya dibagi menjadi tiga kelas, yakni kelas terendah Rp250.000, kedua Rp500.000, dan yang paling mahal adalah Rp750.000.

Peminatnya sangat membludak sejak 31 Desember 2016 . Masjid WTC Jenderal Sudirman, Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan yang digunakan sebagai basis pertemuan saat itu benar-benar penuh disesaki peserta. Barisan perempuan maupun laki-laki tak jauh berbeda, sama-sama mengular.

Apalagi mereka diiming-imingi akan bertemu dengan aktivis media sosial Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru.

Acaranya berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB. Namun demi kepentingan registrasi, peserta diwajibkan datang pukul 06.00 WIB. Katanya, makin pagi datang kesempatan duduk di depan dan mendapat pahalanya pun akan semakin tinggi.

Sepanjang acara, peserta diajak melantunkan atau mendengarkan pembacaan ayat Al-Quran, makan bersama, atau mendengarkan ceramah dan ajaran dari Jonru yang memang menjadi pembicara kunci (keynote speaker) kala itu.

Peserta juga berlatih menge-twit dan membuat status-status menarik di media sosial, layaknya pelatihan copywriter. Tak ada mesin canggih atau teknologi baru yang dikenalkan, seluruhnya berbasis media sosial. Aktivitas yang disebut mereka “jihad” ini juga diklaim bisa menghasilkan uang.

Para peserta yang sudah membayar ratusan ribu itu kemudian diajak berjanji untuk “berjihad” melalui media digital.

Jonru dengan ‘jurusnya’ membujuk orang-orang untuk bergabung dengan MCA. Isi ajaran dan ceramah Jonru kala itu tentang bagaimana seseorang seperti dirinya bisa menjadi kaya sambil berjihad hanya melalui media sosial.

Jonru mengimingi mereka bahwa bergabung dengan MCA, mereka akan bisa mendapat uang sekaligus berjihad. Berjihad di media sosial, dapat uang dari media sosial.

Namun ia tak menjelaskan detail bagaimana cara meraup untung dari media sosial tersebut. Ia hanya mencontohkan kicauan miliknya yang diklaim bisa menghasilkan uang.

Ragam Profesi

Kurang lebih 13 bulan berselang, tepatnya akhir Februari 2018, dunia maya dihebohkan oleh penangkapan enam orang tersangka yang diduga sebagai aktor di balik berita-berita hoaks di media sosial. Enam orang ini tergabung dalam kelompok yang mereka namakanThe Family Muslim Cyber Army (MCA).

Menariknya, tersangka yang telah diringkus polisi ini memiliki beragam profesi. Hal serupa yang juga sempat temui pada acara gathering MCA akhir 2016 lalu itu.

Seorang pemuda berusia 22 tahun yang mengaku baru saja lulus kuliah di salah satu Universitas Negeri yang cukup bergengsi di Kota Bandung, Jawa Barat.

Dia mengaku tertarik ikut karena ingin mencari duit yang halal. Tentunya mencari duit sambil berjihad diimingi menjadi daya tarik tersendiri bagi pemuda ini.

“Sambil menyelam minum air,” kata dia waktu itu.Tak cuma yang baru lulus kuliah, di lokasi gathering dengan mudah ditemui orang-orang dengan latar sebagai guru, pengusaha rumahan, hingga PNS.

Ada juga orang-orang dengan latar pendidikan tinggi yang tertarik ikut.

Sementara dari enam orang anggota The MCA yang ditangkap sejak 26 Februari 2018 lalu, terdapat seorang perempuan dengan profesi sebagai Dosen Bahasa Inggris di salah satu universitas terkenal di Yogyakarta. Perempuan yang usianya hampir setengah abad berinisial TAW ini terkenal cukup tertutup di kalangannya.

Dari hasil penelusuran kepolisian, TAW diketahui telah bergabung dengan MCA sejak lima tahun lalu. Tentunya jauh sebelum Jonru ditangkap polisi karena kasus ujaran kebencian, dan tentu juga lebih jauh lagi dari acara gathering berbayar di Masjid WTC pada 31 Desember 2016 silam.

“Ya, dia mengaku bahwa baru bergabung. Tapi ketika kami telusuri jejaknya lagi ternyata dia sudah bergabung sejak lima tahun lalu,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Dittipidsiber Bareskrim) Polri, Brigadir Jenderal Fadil Imran saat menyampaikan keterangan pers di kantornya, Rabu (28/2).

 

CNN

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami