Lifestyle

Memulai Hobby Dengan Dana Minim

BTN iklan

Jakarta (lei) – Siapa bilang kamera analog yang menggunakan gulungan film tak lagi diminati. Kamera mekanis tanpa macam-macam elektronik ini ternyata masih digemari meski teknologi fotografi digital terus berkembang pesat.
Image result for kamera analog tumblr
Kamera dengan klise itu masih digunakan kalangan pecinta fotografi film atau analog. Jumlah penggunanya pun tak bisa dibilang sedikit. “Untuk hobi hitungannya lumayan banyak,” kata pecinta fotografi analog Renaldy di Lowlight Bazaar, Minggu (11/11).

Renaldy adalah pemilik Jelly Playground yang menginisiasi bazar khusus serba-serbi kamera analog itu.

Di bazar, para pecinta fotografi bisa menemukan kamera analog, lensa, rol film, ‘lab’ atau tempat cuci klise, hingga reparasi kamera.

Sejak digelar pada 2010, selain jadi lokasi cari barang, bazar ini juga menjadi salah satu titik penggemar fotografi analog berkumpul.

Renaldy mencatat rata-rata pengunjung mencapai 1.000 orang hingga 1.700 orang setiap tahun. Jumlah pengunjung setidaknya menandai fotografi analog masih dilakoni dan bahkan jadi ladang bisnis.

“Kalau dibandingkan dulu (saat teknologi digital belum berkembang) jumlahnya memang jauh. Tapi, sekarang sudah mulai banyak lagi yang buka tempat cuci foto atau lab,” ujar Renaldy.

Lab jadi istilah kekinian yang sering diucap para pecinta fotografi analog untuk menyebut studio foto atau tempat mencuci foto.

Sekarang mencuci foto bukan hanya berarti mencetak foto, melainkan memindahkan hasil foto dari klise film ke bentuk digital dengan cara memindai (scan) sehingga tetap bisa disimpan atau bahkan diunggah ke media sosial dengan kualitas baik.

Memindahkan foto dari klise ke format digital membutuhkan biaya sekitar Rp50 ribu untuk rol filim isi 36 foto.

Pengalaman Beda

Menurut Renaldy, fotografi analog masih digemari lantaran memberikan pengalaman memakai kamera yang berbeda dibanding dengan kamera digital.

Fotografer tidak bisa sembarangan mengambil gambar kamera analog sebab jepretan ada batasnya tergantung isi rol film.

Selain itu, hasil foto yang sudah diambil tidak bisa dilihat langsung seperti biasa dilakukan di layar kamera digital.

“Harus mikir dulu sebelum foto dan terpaksa harus irit,” ujar Renaldy.

Irit jadi maklum, pasalnya harga rol film sudah melonjak tajam ketimbang masa populer dulu. Kini, satu rol film mencapai Rp50 ribu dari yang dulunya hanya sekitar Rp15 ribu.

Selain pengalaman beda, ada pula yang tertarik dengan fotografi analog karena kualitas gambar yang dihasilkan dianggap lebih baik.

“Kualitas dan warnanya lebih bagus dan bisa full frame,” kata Ibrahim, pengunjung Lowlight Bazaar yang memburu pernak-pernik fotografi analog bersama teman-temannya.

Adapula yang senang dengan desain kamera analog yang unik dan kuno karena sudah tak diproduksi lagi. Produk yang beredar di pasaran hampir semuanya barang bekas.

Banderol kamera analog ditawarkan berkisar Rp100 ribu hingga jutaan rupiah. Di bazar ini, paling mahal ditemui kamera merek Leica dengan harga mencapai Rp60 juta.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 1 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami