Internasional

Menarik Perhatian Konsumen di Tengah Luasnya Lautan Konten

BTN iklan

Lei-Mitos di dunia marketing digital, bahwa rentang perhatian (attention span) manusia telah menurun. Masyarakat modern dikelilingi berbagai gadget, dan setiap gadget memiliki begitu banyak konten. Semua konten bersaing berebut perhatian dari pengguna, sementara waktu yang dimiliki pengguna sangat terbatas.

Akibatnya, para kreator konten (baik itu teks, video, bahkan game) berlomba-lomba menarik perhatian pengguna secepat mungkin. Gagal menarik perhatian artinya konten kita tidak akan dilirik lagi, mungkin untuk selamanya.

Tapi apa benar kenyataannya seperti itu? Menurut pakar investasi dan pemasaran, Helen Lin, ternyata tidak.


Bukan kurang perhatian, hanya lebih pemilih

Masyarakat sebenarnya masih mampu memberi perhatian pada konten. Bahkan sangat mampu.

Analisis perilaku konsumen dari Google dan Ipsos menunjukkan bahwa 81 persen orang yang menonton video ternyata menaruh perhatian pada video tersebut. Perbedaannya, saat ini konsumen lebih pemilih.

Ketika internet dan smartphone belum menjamur, kita hanya bisa mengonsumsi konten di media mainstream, seperti televisi. Kita bisa mengganti channel televisi, tapi jumlahnya terbatas. Akhirnya kita terpaksa menikmati konten apa pun yang ada, meski sebenarnya tidak berminat.

Kini ada berbagai layanan lain, seperti YouTube, Twitch, atau Netflix. Kekuatan telah berpindah ke tangan konsumen. Kita bisa menentukan sendiri apa yang kita tonton, dan mengabaikan semua konten yang tidak kita minati.

Hal yang sama berlaku pada semua media. Dulu penikmat musik terbatas dengan saluran radio atau kaset, sekarang semua bisa didapat lewat Spotify dan Apple Music. Begitu pula dengan konten berita, komik, tutorial, hingga pendidikan.

Ketika konten diminati oleh konsumen, konsumen akan menginvestasikan waktu dalam jumlah besar. Bahkan hingga berjam-jam. Bagi pegiat marketing, ini berarti atensi konsumen bukan lagi barang gratis, tapi harus diusahakan.


Tingkat perhatian dipengaruhi niat konsumen

Coba ingat-ingat, apa perbedaan yang kamu rasakan ketika menonton televisi, menonton film di bioskop, dan menonton video di smartphone? Apakah tingkat perhatian yang kamu berikan sama? Mungkin tidak.

Lean-Back | Photo 1

Tingkat perhatian konsumen saat berada di depan layar bisa berbeda-beda. Berdasarkan riset Google dan Ipsos, ini dipengaruhi oleh niat, atau “mode” yang aktif saat kita mengonsumsi konten. Mode ini terbagi menjadi dua, yaitu lean-forward dan lean-back.

Lean-forward adalah mode konsumsi konten secara serius, sehingga tubuh kita condong ke arah layar. Mode ini terjadi ketika kita:

  • Mempelajari cara melakukan sesuatu
  • Mencari informasi
  • Melakukan riset sebelum pembelian
  • Mengeksplorasi passion/ hobi
  • Mencari ide

Sebaliknya, lean-back adalah mode konsumsi yang lebih ringan, sehingga kita melihat layar sambil bersandar. Mode ini terjadi saat sedang:

  • Mengonsumsi hiburan
  • Bersantai-santai
  • Menghabiskan waktu

Masyarakat cenderung lebih sering lean-forward saat menonton video online, dan cenderung lean-back saat menonton televisi. Mereka juga cenderung lebih fokus ketika dalam mode lean-forwardArtinya mode lean-forwardharus kita incar sebagai tempat menarik perhatian konsumen dalam strategi marketing.


Konsumen mengabaikan iklan yang tak relevan

Bila kamu seorang pegiat marketing, mungkin kamu sering memperhatikan iklan. Tapi kebanyakan konsumen tidak demikian. Mereka lebih suka mengabaikan iklan, bahkan mencari tombol skip bila ada.

Akan tetapi, kadang ada iklan yang begitu menariknya, sampai-sampai mereka tertarik menontonnya hingga selesai. Mungkin iklan itu berupa film pendek dengan cerita yang bikin penasaran. Atau berisi konten inspiratif, seperti banyak dilakukan perusahaan asal Thailand.

Konsumen mau memperhatikan sebuah iklan bila iklan tersebut terasa relevan. Bila kamu menonton video musik Ed Sheeran, lalu di tengah lagu muncul iklan shampoo, kamu akan merasa terganggu, bukan? Agar suatu iklan relevan, iklan itu harus meningkatkan kepuasan menonton konsumen, bukan menguranginya.

Thailand Ad | Photo 1

Relevansi iklan berkaitan erat dengan banyak hal. Mulai dari demografis konsumen, konten di sekitar iklan, platform yang kamu pilih, hingga emosi apa yang kamu tampilkan. Mungkin terdengar sulit, tapi dengan riset dan bantuan berbagai tool analitik, kamu bisa melakukannya.


Teknologi memindahkan kekuatan memilih, dari tangan penyedia konten ke tangan konsumen. Jenis konten semakin banyak, padahal waktu yang dimiliki konsumen tetap sama. Kita telah masuk ke era “new attention economy”, di mana perhatian konsumen menjadi komoditas yang sangat berharga.

Kita harus beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen. Jangan terkungkung oleh mitos tentang turunnya attention span. Ciptakan konten yang relevan di tempat yang tepat, maka konsumen akan dengan senang hati memberi perhatian padamu.

Sumber: Think with Google

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami