LiputanNasional

Mendagri: Terorisme dan Radikalisme Harus Dilawan

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengajak seluruh masyarakat dan elemen bangsa untuk memerangi terorisme dan radikalisme. “Tantangan bangsa Indonesia adalah terorisme dan radikalisme,” kata Tjahjo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, terorisme yang berakar dari kebencian, cemburu, iri dan dengki terhadap suku, agama ras, antarkelas dan golongan telah berlaku sangat destruktif. “Hal itu jelas bertentangan dengan Pancasila dan ajaran agama manapun,” ucap Tjahjo. Ia berpendapat langkah preventif yang dapat dilakukan adalah melarang ujaran kebencian tersebut.

Mendagri mengaku prihatin akan aksi teror yang melanda dunia akhir-akhir ini. Menurut dia, saat ini adalah momentum yang tepat untuk memberantas tuntas terorisme radikalisme dan ujaran-ujaran kebencian yang berbasis SARA. Dan, akibat hal itu, telah menimbulkan korban yang semakin banyak, seperti di Manchester, Marawi, Kampung Melayu.

“Kita warga negara RI (Republik Indonesia) sebagai Negara Pancasila harus memaklumkan perang terhadap terorisme radikalisme,” ujarnya.

Ia memastikan pemerintah hadir dalam upaya mewujudkan ketertiban kedamaian di semua sektor, “Deteksi dini harus lebih ditingkatkan di setiap sudut dan elemen-elemen mayarakat.” Ia mengingatkan Siskamling harus digiatkan di tiap RT-RW dikoordinasikan oleh Satpol PP dan Polsek+Koramil, For-mompimda provinsi/kabupaten/kota/kecamatan.

Selain itu, dilakukan silaturahmi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat setempat. Ia mengingat masyarakat Indonesia harus berani menentukan sikap terhadap upaya perorangan/ kelompok/golongan yang ingin mengacak-acak ketentraman dan yang ingin mengganti Pancasila, UUD 45, serta mengganggu NKRI dan Kebhinekaan Indonesia.

“Kita harus dukung Kepolisian RI dan aparat keamanan untuk menuntaskan masalah terorisme dan radikalisme di Indonesia,” tukas Tjahjo.

Mendagri juga menambahkan harus dipikirkan penghargaan yang diberikan negara kepada petugas Polri yang menjadi korban serangan teror atau tindak pidana lain ketika sedang bertugas. Selain itu, harus dipikirkan perlindungan kepada anggota Polri yang sedang bertugas, dan markas komando ketika diserang, bisa berupa bentuk ancaman pidana yang berat. “Beberapa negara lain sudah melakukannya,” kata Tjahjo. (S1-25)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami