NasionalTraveling

Menengok Toba Samosir sebagai Destinasi Wisata

Oleh Theo Yusuf Ms.

BTN iklan

TOBA SAMOSIR,LEI – Daerah ini relatif “muda” jika dilihat dari umur kelahirannya. Berkah reformasi 1998 maka lahirlah Undang-undang 12 Tahun 1998 tentang pembentukan Dati II yang disebunya Toba Samosir, akronim dari wilayah Toba dan Samosir.

Pintu Masuk Toba Samosir

Samosir dipisahkan dari daratan Tapanuli Utara, karena letaknya di tengah danau itu. Dan pada 9 Maret 1999 ditetapkanlah pejabat bupati sementara Sahala Tampubolon dan Parlindungan Simbolon sebagai sekretaris daerah oleh Presiden yang diwakili Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid kala itu.

Kini Toba Samosir sudah tak lagi disebut wisata lokal, karena telah didafatarkan sebagai kawasan wisata dunia. United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di bahwa naungan PBB telah mencatatnya sebagai warisan alam yang perlu dijaga ekosistemnya.

Indonesia, yang mempunyai ratusan warisan alam, warisan cagar budaya, seperti Candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah juga diakui sebagai wisata dunia. Itulah perlunya penjagaan secara baik dan berkelanjutan. Tujuannya, bukan hanya merawat warisan alam itu. Tetapi juga menjadikan lingkungan terjaga, mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di sekelingnya.
Syaratnya, Sumber Daya Manusia (SDM) di sekitarnya harus punya keterampilan dalam mengeola wisata kelas dunia itu. SDMnya, harus mumpuni dalam meningkatkan kreatifitas produk barang dan layanan agar para pendatang berkenan hadir dan betah tinggal di kawasan itu. Dengan begtu, dampaknya pendapatan masyarakat akan naik sejalan dengan dijadikannya Toba sebagai Global Geoparks.

Menurut salah satu petugas hotel di bibir Danau Toba, sebut saja Siahaan, pemerintah pusat tahun ini dikabarkan menganggarkan lebih dari Rp4 triliun untuk pembangunan Tobasa. Membangun infrastruktur dan pengerukan bibir-bibir pantai. Semua itu untuk memancing investor asing datang ke Simalungun dekat Tobasa ini. Namun saya pesimistis, hal itu akan segera terwujud jika prilaku masyarakat sekitar tidak “digarap” secara baik, katanya, kepada wartawan, di Tobasa belum lama ini.

Maksud Siahaan, di wilayah sekitar hotel dilihatnya masih semrawut. Orang dengan bebas mematok lahan di pinggiran danau itu dengan klaim tanah adat. Saat orang datang untuk sekedar duduk dan menggelar tikar saja harus bayar. Orang bebas menawarkan haga kapal sewa dengan harga bervariasi, dari Rp750 sd. 1.000.000,- tergantung apakah pengunjung lihai nawar atau tidak. Padahal jarak tempuh penyeberangan tak lebih dari 1/2 jam saja. Kalau mau naik kapal umum harganya hanya sekitar Rp8.000 sd. Rp12.000 per orang, hal seperti itulah yang justru menghambat datangnya wisatawan lokal dan asing masuk ke wilayah ini. Itu perlu ditertibkan, tentunya.

Apa yang dikatakan Siahaan, saya rasakan saat bekunjung ke Tobasa pekan lalu. para calo kapal penyeberang menawarkan harga bervariasi, seolah tak ada standar harga sewa kapal itu. padahal jika para pelancong mengerti, disana ada pelabuhan kecil, yang banyak tersandar kapal untuk angkut orang dan barang dengan harga relatif murah. Sayangnya informasi dan peraga itu minim didapat. Perlunya dibuat posko pusat informasi terkait dengan wisata Danau Toba.

Selain lingkungan yang harus mendukung, di sektor kuliner, tampaknya sudah ada geliat untuk membuat makan ala nasional. Seorang penjaga Hotel At Sari, menyebutkan, di tempat ini menyediakan khas makanan muslim. Bahkan makanan ala Jawa untuk sarapan pagi seperti wajik, cenil, dan lupis terbuat dari ketan dan bahan singkong tersedia di tempat itu.

“Bapak atau Ibu gak usah khawatir, makan di sini 80 persen bahan bakunya konten lokal, dan diolah bervariasi. makanan ala Jawa cukup banyak karena menurut cerita, banyak orang Jawa dibawa ke Parapat oleh Belanda bekerja di perkebunan. Mereka beranak pinak hingga membuat jenis makan yang khas Jawa. Akhirnya orang Batak dan Medan Melayu juga banyak yang senang. Bahkan mereka juga sering menjajakan di pinggir jalan,” katanya, seraya menambahkan, tetapi masih perlu pembinaan dari Dinas Pariwisata agar cara membuat, cara berdagang dan tempat berjualan lebih menarik dan lebih rapi.

Infastruktur dan SDM

Saat Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyampaikan batalnya pameran festival Danau Toba tahun 2020, ia menyebutkan, target kunjungan wisata 1 juta orang belum tercapai. Jangankan 1 juta pengunjung, separuhnya-pun tidak sampai, katanya menjawab pertanyaan wartawan. Rahmayadi menegaskan kembali, seyogianya orang kita yang harus datang dulu sebelum orang lain atau wisata asing datang kemari. “Kita aja enggan datang , tetapi malah ingin mengundang orang lain,” katanya dengan nada gurau.

Kurangnya target kunjungan ke Dana Toba tahun 2020 bisa dimaklumi lantaran adanya Covid 19, yang merusak bangunan ekonomi yang dulunya banyak disumbang dari sektor pariwisata, Para petugas hotel disekitar danau Toba saat ditanya okupansi (tingkat hunian) kamar hotel, saat pandemi covid 19 tiba, ia sepakat menjawab adanya penurunan drastis. “Tak lebih dari 50 – 65 persen,” kata salah satu petugas di hotel itu. Namun demikian, mereka tetap beroperasi dan tetap mempertahankan karyawannya meskipun okupansinya rendah.

Selain adanya covid, keenganan para wisata lokal datang ke Toba dapat dimaklumi. Jalan menuju ke arah itu masih rawan. dari Medan ke Tobasa jaraknya sekitar 180 an km, diempuh lewat darat hampir 2,5 – 3 jam meskipun sudah ada jalan tol. Namun jalan tol juga belum sampai di wilayah Parapat dekat Tobasa. Menuju ke wilayah itu melawati hutan dan perbukitan yang tentunya rawan longsor saat musim hujan. Akibatnya jalan mobil dan motor ke arah itu mengular. Selain rawan longsor dan jalannya sempit, mobil-mobil besar dan bus juga melintas di jalan itu akibatnya, keenganan para wisata lokal dapat dipahami.

Sebagai orang tua dari anak-anak sekolah yang tinggal di Medan misalnya, tentu akan khawatir jika anaknya diajak berwiata ke Danau Toba. Kekhawatiran dimengerti lantaran tingkat risiko masih tampak tinggi.
Oleh karenanya, jika dana pembangunan infrastruktur Rp4.04 trililun dapat digelontorkan tahun ini, tentu akan dapat memperbaiki jalan raya ke arah itu. Dengan demikian, drainase air di jalananan akan lebih lancar, genangan air berkurang dan risiko longsor juga berkurang.

Dengan adanya pembangunan Toba sebagai global geoparks, diharapkan menarik investor asing. Kabarnya lebih dari Rp6 triliun tahun ini akan mengalir ke wilayah itu untuk pembangunan sebuah resort. Kerjasama antara pemerintah Daerah (Pemda), BUMD dan Pemerintah Pusat bersama BUMNnya, membangun wisata Dana Toba tidaklah sulit. Intinya ada kebersamaan, ada transparansi dalam perijinan untuk para investor swasta. Sebab membangun infrastruktur tanpa dibarengi dengan pembangunan SDM-nya ibarat membangun jalan tol tak ada mobilnya. Itu sebab, pembangunan infrastruktur harus dibarengi dengan pembangunan sumbser daya manusianya.

Salah satu kunci majunya wisata, kata pengamat pariwisata dari Jambi, Fitria Carli Wiseza, majunya sebuah area wisata tak hanya tergantung pada keindahahan alam semata. Tetapi juga perlu didukung kreatifitas pengelolaannya, dan kemampuan masyarakat setempat untuk mendukungnya.
Dalam observasinya, ia menemukan faktor-faktor yang berperan mendukung pengembangan obyek wisata antara lain meliputi faktor lokasi, topografi, keadaan iklim, sumber air, aksesibilitas, infrastruktur dan sapta pesona.

Faktor lain yang tak lalah penting adalah perlunya melakukan atraksi wisata di daerah obyek wisata. Atraksi wisata atau daya tarik yang terdapat di obyek wisata, perlu diciptakan agar para pengunjung tidak mudah bosan, hanya melihat keadaan alam semata.

Dengan demikian, Danau Toba akan lebih meriah, akan lebih punya daya tarik tinggi jika dukungan selain pembangunan infrastruktur juga adanya penyusunan paket kreatif dari pengelolanya, termasuk memperluas dukungan tersedianya fasilitas akomodasi, seperti penginapan yang bervariasi nan bersih, rumah makan di sekitar obyek wisata yang beraneka ragam, termasuk kuliner muslim. Jumlah pengunjung muslim relatif cukup besar. Mereka tentu tidak mau melihat makanan yang dinilai haram tersaji secara terbuka (vulgar). Dengan demikian, jika Danau Toba akan dijadikan obyek wisata dunia, tak cukup hanya mengandalkan pandangan alam semata, tetapi juga pembangunan manusia di sekitarnya. Termasuk ketegasan aturan terkait penertiban lokasi dan pembuatan harga-harga yang punya standar umum. Semoga.

Penulis wartawan senior, tinggal di Jakarta.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami