Mengapa “Keinginan untuk Menang” Dapat Menghambat Kesuksesanmu – Legal Era Indonesia Legal Era Indonesia
Nasional

Mengapa “Keinginan untuk Menang” Dapat Menghambat Kesuksesanmu

Tahukah kamu bahwa orang sukses lebih sulit mengubah sifat buruknya dibanding orang yang tidak sukses? Seorang bos yang bermulut kasar, misalnya, cenderung sulit berubah menjadi santun dibanding para bawahannya. Bahkan bisa jadi ia bangga memiliki sifat buruk tersebut. Ia merasa sifat itu adalah bagian dari penyebab kesuksesannya!

Tak sopan, sangat kompetitif, selalu sibuk, dan terobsesi pada diri sendiri. Ini contoh beberapa sifat jelek yang sering ada dalam diri orang-orang sukses. Mereka tidak sadar, dengan menghilangkan sifat-sifat buruk itu mereka bisa jadi lebih sukses lagi. Mengapa ini terjadi, dan bagaimana cara menghindarinya?


Salah memahami penyebab sukses

Banyak orang yang ketika sukses pemikirannya menjadi kurang logis. Bahkan, semakin sukses seseorang, semakin ia bisa menganggap bahwa kesuksesan itu datang dari hal-hal yang sebetulnya tidak benar. Sifat manusia seperti ini dijelaskan oleh Marshall Goldsmith dalam bukunya yang berjudul What Got You Here Won’t Get You There.

Ketika kita berhasil meraih tujuan dengan suatu cara, kita cenderung akan mengulangi cara tersebut. Kita percaya bahwa cara itu adalah jalan yang benar untuk mencapai keberhasilan. Jadi kita akan terus melakukannya, berharap mendapat keberhasilan yang sama.

Kita mengira cara itulah yang mengantar kita pada kesuksesan. Padahal mungkin sebetulnya cara itu justru menghambat. Saat ini kita tetap sukses walau ada hambatan, tapi suatu saat nanti hambatan itu akan membuat kita gagal. Inilah makna dari judul buku milik Goldsmith, “Apa yang membawamu ke sini tidak akan membawamu ke sana.”

Sherlock Holmes | Screenshot 1

Banyak orang sukses namun dungu (ignorant) di dunia ini | Sumber Gambar: Groupthink

Sayangnya orang yang terlanjur sukses sering kali bersikap defensif ketika mendapat kritik. Ia sukses dengan cara yang ia yakini benar, jadi mengapa harus berubah? Padahal menghindari kesalahan adalah salah satu bagian penting dari keberhasilan.


Jangan terbutakan oleh “keinginan untuk menang”

Orang-orang sukses memiliki dorongan kuat untuk menang dalam diri mereka. Dorongan tersebut memotivasi mereka untuk bekerja keras dan meraih hasil cemerlang. Tapi keinginan menang itu bisa menjadi racun ketika hadir dalam dosis terlalu tinggi. Tidak hanya di kehidupan profesional, tapi juga di kehidupan personal.

Contoh kasus, bayangkan kamu sedang pergi ke bioskop bersama pacar. Kamu ingin menonton Black Panther, tapi pacarmu keukeuh ingin menonton Fifty Shades Freed. Akhirnya kamu mengalah. Kalian menonton Fifty Shades Freed, dan keluar dari teater dengan perasaan kecewa.

Kemungkinan kamu akan terdorong untuk berkata, “Harusnya kita nonton Black Panther saja tadi.” Pacarmu tersinggung, lalu kalian bertengkar. Tidak sampai putus sih, tapi coba pikir: apakah kata-kata tadi worth it untuk diucapkan?

Ketika keinginan untuk menang telah mendarah daging, kita jadi merasa harus menang dalam segala hal—bahkan untuk hal-hal yang tak berguna.

Seorang teman datang padamu, mengeluhkan betapa berat pekerjaannya. Tapi kamu, bukannya menghibur, malah berkata, “Wah pekerjaan saya malah lebih berat lagi!”

Jangankan kesuksesan, kita bahkan tak mau kalah dalam kesengsaraan. Tidak peduli apa topiknya, pokoknya menang. Dan keinginan ini suatu saat akan membuatmu mengambil keputusan yang patut disesali.

Ketika kita terpaku pada keinginan menang, kita jadi tidak bisa bersikap terbuka terhadap masukan. Kita tidak suka ada orang yang mengatakan bahwa kita salah. Apalagi berbicara tentang kepribadian, mudah saja kita berlindung di balik slogan-slogan untuk be yourself.

Obsesi terhadap keberhasilan juga berpotensi membuat hati kita kotor. Dari yang tadinya ingin sukses, lama-lama niat kita bergeser menjadi ingin terlihat sukses. Kita menghalalkan segala cara agar dianggap berprestasi. Membual agar dikagumi. Atau yang lebih parah, mengeklaim pencapaian orang lain sebagai pencapaian kita.


Berani mendengar, berani berubah

Menjadi diri sendiri itu sebetulnya baik. Dengan menjadi diri sendiri, kamu bisa fokus pada kreativitasmu dan menghindari ide-ide luar yang bisa membuatmu kehilangan arah. Tapi kamu juga perlu sadar bahwa kepribadian bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah.

Kamu harus mengenali sifat-sifat dalam dirimu dan mengakui secara jujur keburukan di dalamnya. Berhentilah berlindung di balik kebebasan berekspresi, identitas, atau jargon-jargon serupa. Kemauan berubah akan mengantarmu menuju hasil yang lebih baik, dan kamu bisa melakukan dengan satu cara, yaitu lebih banyak mendengar.

Stephen Covey | Quote 1

Mintalah feedback dan kritik dari semua lapisan karyawan dalam perusahaanmu, mulai pekerja lapangan hingga para eksekutif. Ini penting karena pandangan orang terhadapmu bisa berbeda-beda tergantung dari kepentingan dan posisi mereka. Kritik terkadang menyakitkan hati, tapi kamu bisa belajar banyak.

Kamu juga perlu meningkatkan kepekaan terhadap feedback dalam wujud nonverbal. Mungkin rekanmu tidak mengutarakan keberatan secara lisan, tapi ia geleng-geleng kepala sambil menghela napas. Ini contoh ekspresi ketidakpuasan yang terpendam.

Pelajari bahasa tubuh, kontak mata, hingga kecepatan respons orang lain saat kamu ajak komunikasi. Sinyal-sinyal samar ini berguna untuk mengidentifikasi perilaku buruk dalam dirimu. Bila perlu, luangkan waktu untuk mencatat reaksi-reaksi orang terhadap sikapmu. Perhatikan reaksi yang paling sering terjadi, lalu pikirkan bagaimana kamu harus berubah.

Hati-hati, mendengar orang lain bisa juga menjebakmu ke dalam perasaan ingin menang. Bila kamu merasa apa yang kamu dengar itu salah, kamu akan terdorong untuk mengoreksi lawan bicaramu. Bukannya belajar, kamu malah bisa memicu debat kusir.

Kondisi lain yang memunculkan rasa ingin menang adalah saat seseorang menyampaikan ide padamu. Kamu merasa ide itu bagus, tapi bisa lebih bagus lagi, sehingga kamu memberi masukan tambahan.

Sekilas maksudmu terlihat baik. Tapi ketika kamu campur tangan, ide itu sudah berubah dari visi aslinya. Ini bisa membuat si pencetus ide patah semangat. Apalagi bila posisimu lebih tinggi. Ia akan sulit membantah, karena masukanmu terasa seperti sebuah perintah.

Apakah kamu sering melakukan hal-hal di atas? Kalau ya, saatnya belajar untuk menahan diri. Dengarkan apa kata orang lain tanpa berusaha mengoreksi atau menandinginya. Tinggalkan one-upmanship, dan gunakan kesempatan mendengar untuk belajar.


Menanglah dari diri sendiri

Kalau kamu harus menang terhadap sesuatu, menanglah terhadap dirimu sendiri. Jangan terpaku ingin lebih baik dari orang lain, tapi teruslah berusaha jadi lebih baik dari dirimu sendiri di hari kemarin. Mindset seperti ini akan membuatmu lebih rendah hati karena kamu selalu sadar bahwa dirimu belum sempurna.

Dalai Lama | Screenshot 1

Mendengar adalah kesempatan untuk belajar | Sumber Gambar: Jack Phan

Dunia ini luas. Setinggi-tingginya ilmumu, itu tak lebih dari setetes tinta di tengah samudra. Jadi bersikaplah terbuka akan segala masukan. Masukan atau feedback yang baik adalah feedback yang memenuhi empat syarat berikut:

  • Jujur
  • Bebas dari dendam
  • Bersifat suportif, bukan menjatuhkan
  • Menunjukkan apa yang dapat diperbaiki

Dengan empat kriteria di atas, feedback tidak semata-mata menjadi alat untuk menghakimi orang lain. Masukan itu akan fokus pada peningkatan, sehingga bisa kamu serap sebagai pertimbangan untuk memperbaiki perilaku.

Ada dua cara sederhana yang bisa kamu manfaatkan untuk membuat diri lebih terbuka terhadap perubahan.

  • Pertama, sering-seringlah mengucapkan terima kasih.
  • Kedua, jangan takut untuk meminta maaf.

Dua ucapan ini bukan wujud kelemahan, tapi tanda bahwa kamu mampu menerima hal positif dan negatif secara apa adanya.

read also

Ketika kamu gagal memenuhi tanggung jawab, meminta maaf menunjukkan bahwa kamu mengakui kesalahanmu. Dan ketika kamu mendapat bantuan, berterima kasih adalah tanda bahwa kamu mengakui pencapaian orang lain.

Ucapan maaf dan terima kasih juga akan membantu dirimu maupun orang-orang di sekitarmu untuk move on dari masa lalu. Tidak ada lagi dendam atau rasa sakit hati, yang ada hanya semangat untuk saling membantu dan terus menjadi lebih baik.

Bila kamu sudah terbiasa mengakui hal-hal positif dan negatif secara jujur, kamu akan bisa memahami kelebihan maupun keburukan diri sendiri. Itulah langkah awal untuk menuju dirimu yang lebih baik dan lebih sukses di masa depan.

iklan btn

Click to comment

Komentar Anda...

To Top