Opini

Mengembalikan Minat Baca Lewat Dongeng

BTN iklan

 Oleh Zita Meirina

    Jakarta, Lei/Ant  – Tradisi mendongeng yang dilakukan orang tua zaman dulu kepada anak-anaknya kini mulai luntur dan perlahan ditinggalkan orang tua masa kini karena alasan kesibukan yang tinggi.

Peran pengasuhan yang seharusnya menjadi kewajiban ayah dan ibu mulai bergeser karena hadirnya “anggota baru” dalam keluarga, yakni gawai dan televisi. Gawai dan berbagai program televisi telah memberi kesenangan dan kemudahan sehingga mampu membius anak-anak untuk berlama-lama di depan televisi ataupun menggenggam gawai.

Sebuah survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, bahwa 90,27 persen anak usia sekolah di Indonesia suka menonton televisi, sedangkan hanya 18,94 persen lainnya suka membaca.

Ironisnya, kebanyakan orang tua dan orang dewasa masa kini cenderung membiarkan anak-anak dalam “pengasuhan” program televisi dan fitur-fitur canggih gawai ketimbang meluangkan waktu untuk menemani anak usia balita dan sekolah dasar untuk mendongengkan cerita anak legendaris atau koleksi cerita rakyat.

Tidak dipungkiri, perkembangan teknologi informatika yang semakin canggih banyak mempengaruhi minat baca pada anak. Tingginya minat anak pada dunia internet dan multimedia disebabkan oleh kemudahan-kemudahan dan kesenangan yang ditawarkan oleh media-media tersebut.

Padahal, untuk menumbuhkan kegemaran membaca tidak dapat dilakukan secara instan dan harus dimulai sejak dini di saat anak-anak mulai bisa mengeja dan memiliki ketertarikan pada gambar-gambar yang terdapat pada buku-buku cerita anak.

Ella Yulaelawati, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemdikbud meyakini bahwa minat dan kemampuan anak dibentuk dari keluarga di mana dia dibesarkan. “Orang tua yang harus menjadi teladan bagi pembentukan minat baca pada anak. Lingkungan rumah akan menentukan kecenderungan anak-anak untuk bisa menciptakan “reading habit.” Namun pada kenyataannya, orang tua dan orang dewasa kini cenderung enggan untuk meluangkan waktu untuk membacakan cerita atau mengenalkan buku-buku bacaan kepada anak-anaknya.

“Membangun minat anak untuk membaca bukan merupakan sesuatu yang mudah. Namun jelas akan memberikan banyak sekali manfaat dalam kelangsungan hidupnya nanti, terutama bagi kesuksesan pendidikan kelak,” tambah perempuan penerimaan penghargaan UNESCO King Sejong Literacy Prize pada 2012 di Paris, Prancis.

Kecintaan terhadap aktivitas membaca adalah modal utama dalam proses belajar dan mengajar yang dilaluinya. Selain itu, melalui membaca anak dapat mengembangkan imajinasinya melalui tokoh-tokoh dalam dongeng,”ujarnya.

Data UNESCO menyebutkan, kawasan Asean merupakan kawasan paling rendah minat bacanya ketimbang kawasan lain di dunia. Dan Indonesia, tercatat sebagai negara dengan minat baca buku terendah di Asean, dengan indeks minat baca baru mencapai 0,001 (2010), yang memiliki makna bahwa, diantara 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang benar-benar berminat baca buku. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki indeks 0,45. Atau dalam 1.000 penduduk, ada 450 orang dengan minat baca tinggi.

Padahal, data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan saat ini tingkat melek huruf di Indonesia sudah tinggi, sekitar 96,3 persen, tetapi ironisnya minat baca sungguh rendah.

Darurat Literasi Saat ini, bangsa ini tengah dihadapkan pada persoalan generasi yang tidak gemar membaca. Generasi yang tak membaca satu pun buku pada saat orang muda di negara lain telah menghabiskan dua, tiga, bahkan belasan judul buku.

Demikian pula, keluarga masa kini lebih banyak hidup jauh dari buku karena buku sudah tergantikan dengan tontonan televisi dan kesenangan baru dalam genggaman gadget. Dengan tidak berkembangnya kultur literasi yang diharapkan dimulai dari kaum perempuan, terutama para ibu yang mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya, maka kemampuan membaca teks ikut tergerus zaman.

Keprihatinan terkait minimnya minat baca masyarakat Indonesia terutama orang muda diungkapkan pendongeng dan pengarang buku cerita anak, Mochammad Awam Prakoso yang akrab disapa Kak Awam. Menurut dia kemajuan teknologi informasi dan pertumbuhan sarana hiburan memang tidak bisa dibendung, namun harus ada upaya dari orang tua, guru dan masyarakat untuk senantiasa menyediakan waktu untuk membaca.

“Bahan bacaan sangat banyak mulai dari koran, majalah, buku untuk memberi keseimbangan dengan waktu penggunaan gawai, melihat tontonan di televisi atau pergi ke tempat hiburan,” kata Kak Awam yang secara rutin melaksanakan safari keliling Tanah Air bersama Tim Kampung Dongeng untuk menebarkan minat membaca buku melalui perpustakaan keliling dan mendongeng.

Tim Kampung Dongeng dalam perjalanan keliling Indonesia selalu berbekal ratusan buku. Tujuannya agar di tempat tujuan anak-anak dan generasi muda di pelosok Tanah Air bisa terlebih dahulu membaca sebelum akhirnya Kak Awam mendongeng sambil memperagakan tokoh-tokoh dalam sebuah cerita dongeng.

Kenyataan minat baca yang rendah tidak hanya dihadapi anak-anak dan generasi muda Indonesia. Orang dewasa pun memilih cara instan dengan gawai, padahal orang dewasa yang bisa diwakilkan oleh para guru semestinya bisa menjadi panutan siswa-siswa.” Menurut Kak Awam, pada berbagai kesempatan memberikan pelatihan mendongeng bagi guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar, dirinya sering mendapatkan guru yang tidak pernah membaca buku selain buku wajib untuk persiapan pelajaran di kelas.

“Bagaimana guru mau menumbuhkan minat baca peserta didik apabila tidak membiasakan membaca. Pengalaman yang luas bisa disampaikan di kelas karena guru rajin memabca berbagai literatur,” katanya.

Menyikapi rendahnya minat baca masyarakat Indoensia, Kemeterian Pendidikan Nasional telah melakukan beberapa upaya, yakni menggencarkan Gerakan Membaca 15 Menit buku non akademika sebelum jam pelajaran dimulai yang merupakan Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Selain itu, Badan Bahasa Kemdikbud telah menyiapkan 263 buku cerita untuk dinilai oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan sebagai bahan bacaan untuk mendukung penumbuhan budi pekerti bagi peserta didik lewat budaya literasi.

Buku cerita rakyat tersebut ditujukan khususnya bagi siswa sekolah dasar agar sejak dini mereka gemar membaca karena gerakan literasi tersebut tidak mengharuskan siswa membaca nonfiksi tetapi buku fiksi, baik buku cerita maupun karya sastra lainnya.


Kategori Umum

Index by Date

Perlihatkan Lebih

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami