BTN iklan
InvestasiMultifinance

Mengenal Bisnis Usaha Multifinance

Jakarta, LEI – Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.29/05/2014 tentang Penyelenggaran Usaha Perusahaan Pembiayaan, menunjukkan bahwa lini usaha multifinance dibagi ke dalam pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, pembiayaan multiguna atau pembiayaan lain yang disetujui oleh OJK.

Pembiayaan multiguna ini pun dinilai sangat banyak pilihannya, antara lain dalam bentuk produk pembiayaan renovasi rumah, kredit pemilikan rumah (KPR), umrah, pendidikan, sampai pembiayaan pernikahan.

Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), pun mengakui bahwa masyarakat memang perlu diedukasi agar memahami layanan apa saja yang dapat dimanfaatkan dari multifinance.

“Kami perlu mengedukasi masyarakata bahwa multifinance bukan hanya perusahaan leasing, tetapi perusahaan pembiayaan yang bisa membantu mereka membeli apa yang mereka butuhkan, bukan hanya pembiayaan kendaraan,” ungkapnya baru-baru ini.

Dia mengatakan saat ini multifinance bisa membantu masyarakat untuk lebih produktif melalui pembiayaan modal kerja. Layanan pembiayaan produktif itu dinilai akan membantu masyarakat untuk mengembangkan usaha, termasuk di sektor usaha kecil dan menengah.

Suwandi mencontohkan salah satu pembiayaan yang menawarkan layanan pembiayaan produktif adala PT Pro Car International Finance. Perusahaan pembiayaan ini aktif mendukung pendanaan modal kerja bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Gusti Wira Susanto, President Director PT Pro Car International Finance, mengatakan selama ini memang pihaknya aktif menyalurkan pembiayaan di sektor produktif. Sekitar 90% portofolio pembiayaan perusahaan, jelasnya, diberikan bagi kredit kendaraan produktif, seperti kendaraan niaga, sehingga termasuk ke dalam jenis pembiayaan investasi.

Selebihnya, jelas dia, pihaknya menyalurkan dana kepada segmen pembiayaan modal kerja, khususnya kepada pelaku UKM. Gusti mengatakan selama ini pihaknya membiayai sejumlah UKM dari beragam sektor, mulai dari pengrajin jaket kulit hingga usaha kerajinan berbahan baku sampah dan barang bekas.

“Ada juga peternakan ayam, pengrajin garmen. Tersebar di daerah-daerah, tetapi ada juga di Jakarta,” jelasnya.

Minimnya pemahaman masyarakat tentang layanan jasa keuangan secara umum, serta layanan jasa pembiayaan secara khusus, memang menjadi salah satu problem yang mesti dipecahkan bersama, baik para pelaku usaha maupun regulator. Kondisi seringkali menjadi celah bagi oknum tidak bertanggungjawab yang menawarkan produk atau layanan jasa investasi ilegal.

Suwandi Wiratno menjelaskan pada 2016 tingkat literasi layanan jasa pembiayaan baru sekitar 6%. Kondisi itu dinilai cukup aneh mengingat saat ini pemanfaatan pembiayaan, khususnya untuk kendaraan bermotor, cukup tinggi.

Oleh karena itu, dia menjelaskan upaya dan edukasi terus digalakan pihaknya agar semakin banyak masyarakat yang memahami layanan jasa yang disediakan multifinance. Salah satu upaya APPI, jelasnya, adalah dengan menyelenggarakan pameran tahunan bertajuk Multifinance Day.

Suwandi berharap melalui kegiatan ini pihaknya dapat memberikan edukasi dan semakin mendekatkan diri dengan masyarakat setelah 42 tahun hadir di Indonesia. Dengan begitu, jelasnya, industri pembiayaan sungguh hadir memberikan sumbangsih agar ekonomi Indonesia bisa maju.

“Kami berharap, semakin banyak yang paham dengan produk, serta hak dan kewajiban sebagai konsumen, semakin aman dan terlindungi masyarakat dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab,” jelasnya.

Horas Tarihoran, Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, mengatakan otoritas berharap ke depan tingkat literasi layanan jasa keuangan dapat meningkat melalui kegiatan pameran tersebut. Dia menjelaskan berdasarkan survei yang diselenggarakan OJK pada 2016, tingkat literasi jasa keuangan nasional baru mencapai 29%.

Artinya, dari 100 orang hanya sekitar 29 orang yang memahami layanan jasa keuangan. Padahal, pada saat yang sama tingkat inklusi atau pemanfaatan layanan jasa keuangan mencapai 68%.

“Yang punya 68 orang, tetapi yang tahu hanya 29 orang. Ini ibarat punya mobil, tetapi tidak tahu cara menggunakannya,” ujarnya.

Menurutnya, setidaknya tingkat literasi dapat bertumbuh dan menyamai tingkat inklusi keuangan. Dengan begitu, jelasnya, pekerjaan rumah pelaku jasa keuangan masih begitu besar dalam upaya mendorong tingkat literasi.

Selain itu, dia menekankan bahwa masyarakat perlu diinformasikan bahwa multifinance tidak hanya memberikan pembiayaan kendaraan bermotor. “Jika kegiatan usaha masyarakat kita butuh bahan baku, modal kerja dan alat kerja, semua bisa dibiayai multifinance.”

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Lihat juga

Close
Close
Close