HEADLINESPolitik

Mengenang Gerakan Reformasi 21 Tahun Lalu

BTN iklan

JAKARTA, LEI – Di Indonesia, kata Reformasi umumnya merujuk kepada gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto atau era setelah Orde Baru, yaitu era reformasi.

Waktu Presiden Suharto turun dari jabatannya pada Mei 1998, peristiwa ini menandai awal dari sebuah era baru dalam sejarah Indonesia. Setelah dikuasai oleh rezim otoriter Orde Baru Suharto selama lebih dari tiga dekade, Indonesia memulai fase baru yang dikenal sebagai Reformasi.

Era ini dipandang sebagai awal periode demokrasi dengan perpolitikan yang terbuka dan liberal. Dalam era baru ini, otonomi yang luas kemudian diberikan kepada daerah dan tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat (desentralisasi).

Dasar dari transisi ini dirumuskan dalam UU yang disetujui parlemen dan disahkan Presiden Indonesia di tahun 1999 yang menyerukan transfer kekuasaan pemerintahan dari Pemerintah Pusat ke pemerintah-pemerintah daerah.

Bagaimanakah detik-detik jatuhnya Soeharto atau Orde Baru redaksi LEI mencoba merangkai peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan Mei 1998.

1 Mei 1998, Reformasi 98 H-20

Memasuki pertengahan 1997 krisis moneter (krismon) melanda Indonesia. Nilai rupiah anjlok terhadap dolar Amerika, yang berfluktuasi Rp12.000-Rp18.000 dari Rp2.200 pada awal tahun.

Di tengah situasi ini, tim ekonomi Soeharto justru menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak. Ekonomi rakyat semakin terpuruk. Soeharto menyiasati situasi rawan pangan dengan kampanye makan tiwul, yang disampaikannya melalui televisi.

Gambar: Buku Politik Huru Hara Mei 1998

Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai 2003.

2 Mei 1998 Reformasi 98 H-19

Sumi – foto by Erick Prasetya

Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang, atau 1998.

Presiden Soeharto mengikuti saran International Monetery Fund (IMF) untuk memangkas subsidi energi. Opsi yang diambil saat itu adalah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp 700 per liter menjadi Rp 1.200 per liter. Kebijakan tersebut menyulut aksi penolakan mahasiswa di sejumlah wilayah.

Sidang Umum MPR 98 memberi gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto. Gelar ini diberikan karena Soeharto dianggap berhasil dalam pembangunan ekonomi. Selama 30 tahun kekuasaannya, pendapatan perkapita meningkat dari US$80 di tahun 1967 menjadi US$990 di tahun 1997. Ekspor meningkat dari US$ 665juta menjadi US$52 miliar.

Namun di balik angka-angka itu tersimpan angka kemiskinan yang besar jumlahnya. Bappenas pernah menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di tahun 1993 berjumlah 27 juta jiwa. Namun tolok ukur kemiskinan adalah setiap orang yang berpenghasilan Rp20.000/bulan. Bila batas kemiskinan tersebut menggunakan ukuran kebutuhan fisik minimum dari Depnaker tahun 1993 yaitu Rp80.000/bulan,maka sekitar 180 juta jiwa atau hampir 90% rakyat hidup dalam garis kemiskinan.

3 Mei 1998, Reformasi 98 H-18

Gerakan Mahasiswa terbukti menjadi gerakan yang paling konsisten melawan Orde Baru. Represi dan pemenjaraan tidak menghentikan perlawanan.

Sejak 1971 hingga 1988 mereka tak henti-henti melakukan aksi-aksi penggulingan Soeharto.

Tidak lumrah, tapi pada hari itu Presiden Soeharto mengundang tokoh pimpinan DPR, partai politik, dan Golongan Karya, bersama-sama ke kantornya di Bina Graha, Kompleks Istana Merdeka. Acara bertajuk “Pertemuan Silaturahmi dan Konsultasi Setelah Sidang Umum MPR”.

Hasil dari pertemuan selama 90 menit itu disampaikan Menteri Dalam Negeri R Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dahlan.

Menurut Hartono, Presiden Soeharto menyampaikan keinginannya agar DPR menggunakan hak inisiatifnya. Dia mengatakan, Soeharto meminta DPR menyiapkan perangkat guna mereformasi sejumlah rambu-rambu politik yang ada, sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

foto by Erick Prasetyo bbc.co.id

Eskalasi aksi mahasiswa menentang Soeharto mulai meluas ke berbagai kota. Mulanya hanya aksi di dalam kampus, kini mereka mulai bergerak melakukan unjuk rasa di jalan-jalan.

4 Mei 1998, Reformasi 98 H-17

Mahasiswa di Medan, Bandung, dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga BBM dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan saat para demonstran terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Di Universitas Pasundan Bandung, misalnya, 16 mahasiswa luka akibat bentrokan tersebut.

5 Mei 1998, Reformasi 98 H-16

Demonstrasi mahasiswa besar-besaran terjadi di Medan, Sumatera Utara, yang berujung pada kerusuhan.

6 Mei 1998, Reformasi 98 H-15

Penculikan aktivis 1997/1998 adalah proses penghilalangan secara paksa atau penculikan terhadap aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pemilu 1997 dan SU MPR 1998.

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan KONTRAS mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat negara selama periode 1997-1998. Dari angka itu satu orang dinyatakan mati, sembilan orang dilepaskan dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini.

Tuti Koto, ibu dari Yani Afri salah satu korban penculikan yang tidak kembali, menanyakan keberadaan putranya ke Dephankam. Hingga akhir hayatnya November 2012, Ibu Tuti Koto tidak pernah mendapatkan kejelasan tentang putranya. (foto: Erick Prasetya – bbc indonesia)

7 Mei 1998, Reformasi 98 H-14

Temuan tiga lembaga di bawah negara, DKP, TGPF dan Tim Ad Hoc Komnas HAM memberikan rekomendasi supaya Prabowo dan semua pihak yang terlibat penculikan diadili di Pengadilan Militer. Dalam kenyataan yang diadili hanya Tim Mawar, tapi mereka hanya 11 orang pelaku, bukan pengambil keputusan. Walaupun Prabowo diberhentikan atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira sebelas tahun sebelum masa pensiun, namun ia tak pernah diadili.

Pius Lustrilanang seorang korban menceritakan penyekapan dan penculikan yang dialaminya selama dua bulan oleh Tim Mawar. (foto: Erick Prasetya, bbc indonesia)

Pius Lustrilanang seorang korban menceritakan penyekapan dan penculikan yang dialaminya selama dua bulan oleh Tim Mawar. Testimoni di Komnas HAM ini menyentak kesadaran kita akan bobroknya pemerintah saat itu dan memicu tuntutan akan perubahan.

Pius kemudian dilarikan ke Belanda dan baru bisa pulang ke Indonesia setelah Reformasi. Pada hari kepulangannya Pius disambut oleh teman-teman aktivis dengan membawa poster sosok yang dianggap bertanggung jawab atas operasi Tim Mawar.

Saya menyaksikan sendiri poster tersebut dibuat di sebuah sanggar teater di Kampung Melayu pimpinan aktivis dan aktris teater terkenal Ratna Sarumpaet.

8 Mei 1998, Reformasi 98 H-13

Konsilidasi PRD oleh Budiman Sudjatmiko (sekarang politisi PDI-P) di penjara. (Foto: Erick Prasetya – bbc)

Partai Rakyat Demokratik PRD dideklarasikan pada 22 Juli 1996, dengan ketua Budiman Sudjatmiko. Banyak dari anggotanya adalah intelektual muda dan aktivis, khususnya mahasiswa.

Lima hari kemudian, pada 27 Juli 1996 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Kudatuli, PRD dituduh mendalangi kerusuhan yang berujung pada perebutan kantor PDI. Bahkan PRD kemudian dinyatakan terlarang oleh pemerintah orde-baru dan banyak anggotanya yang hilang, diburu dan dipenjarakan.

Mulanya Persatuan Rakyat Demokratik adalah organisasi payung dari ormas massa lintas sektoral:

1. Buruh (FNPBI) tokohnya: Dita indah Sari (dipenjarakan), Suyat dan Bimo Petrus (diculik tak kembali)

2. Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKKER) tokohnya: Wiji Thukul (diculik tak kembali) Raharja Waluya Jati (diculik).

3. Serikat Tani (STN) tokohnya: Herman Hendrawan (diculik tak kembali)

4. Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) tokohnya, Garda Sembiring (penjara), Andi Arief (diculik), Nezar Patria (diculik).

Organisasi payung ini kemudian bertransformasi dari organisasi massa menjadi PRD.

9 Mei 1998, Reformasi 98 H-12

Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri pertemuan KTT G-15. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden RI.

Bentrokan Forkot melawan aparat. (foto: Erick Prasetya – bbc)

Salah satu elemen mahasiswa yang sering bentrok dengan aparat namanya FORKOT atau Forum Kota. Salah satu senior FORKOT adalah  Adian Napitupulu kini menjadi anggota dewan dari fraksi PDI-P.

Awalnya beranggotakan sekitar 16 kampus belakangan sempat bengkak menjadi 70an. Mereka bersama FKSMJ tercatat sebagai organ gerakan mahasiswa pertama yang menembus gedung MPR pada 18 Mei 1998. Setelah jatuhnya Soeharto aksi-aksi mereka makin radikal, hal mana sejalan dengan represi yang dilakukan TNI dan Polri. Aksi-aksi mereka menuntut dihapuskannya Dwi fungsi TNI, menentang SI MPR 98, penolakan RUU PKB sering berakhir chaos . Ribuan aktivis Forkot bersama mahasiswa dan organ lain, berani menghadapi panser dan meriam air aparat dengan hanya bersenjatakan tongkat bendera batu dan molotov.

Aksi radikal mereka tak urung mengundang kecaman dan cibiran dari berbagai organisasi yang mendukung Habibie seperti KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), PAM Swakarsa dan kelompok-kelompok pro-Orde Baru yang antigerakan mahasiswa memplesetkan kepanjangan Forkot sebagai Forum Komunis Total.

Terjadinya Peristiwa Gejayan di Yogyakarta yang menewaskan mahasiswa Sanata Dharma Moses Gatotkaca akibat pukulan benda tumpul. Untuk menghormatinya, sejak 20 Mei 1998, Jalan Kolombo yang berada tepat di sebelah kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diubah namanya menjadi Jalan Moses Gatotkaca.

10 Mei 1998, Reformasi 98 H-11

Krisis Moneter telah menyebabkan banyak perusahaan merumahkan karyawannya dalam jumlah besar. Kelas menengah pun tak luput dari imbasnya. Ekonomi kolaps, pengangguran terjadi di mana-mana.

Seiring dengan meningkatnya eskalasi gerakan mahasiswa, dukungan dari berbagai elemen masyarakatpun meningkat. Dukungan mulai membanjir dari elite politik, organisasi non pemerintah, buruh dan rakyat. Berbagai gerakan mulai menyokong dan menyumbang pada gerakan mahasiswa. Bahkan tidak jarang secara perorangan.

Di gedung MPR yang mulai diduduki oleh mahasiswa, orang berdatangan dan menyumbang apapun yang dapat disumbangkan.

11 Mei 1998, Reformasi 98 H-10

Sejak Orde Baru berkuasa gerakan perempuan telah dikooptasi menjadi perkakas politik negara lewat Dharma Wanita dan Kowani.

Peran perempuan yang sebelumnya penting dalam kehidupan sosial direduksi menjadi “kaum Ibu” yang harus tunduk dalam pakem politik patriarki. Pada pertengahan 1980an ketika ide feminisme mulai masuk dalam kesadaran perempuan kelas menengah terpelajar Indonesia, perjuangan menuntut kesetaraan gender mulai disuarakan. Di Jakarta ada Kalyanamitra dan Solidaritas perempuan. Di Yogya muncul Kelompok Perempuan Cut Nya’ Dien, dan berbagai tempat terutama pada daerah konflik seperti Aceh, Papua, Timor dlsb.

Karlina SIP (foto: Erick Prasetya – bbc)

Pada 1997 saat krisis moneter, aktifvs perempuan dari berbagai lembaga membentuk Koalisi Perempuan Indonesia. Koalisi ini kemudian terlibat dalam aksi-aksi politik mendukung gerakan mahasiswa dan memasukkan perspektif gender dalam tuntutan gerakan reformasi. Awal 1998 ketika krisis makin parah, para aktivis yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) menuntut penurunan harga susu.

Mereka melakukan demo di Monas. Tiga orang tokohnya diinterogasi semalaman di Polda dan diadili sebulan kemudian. Mereka dinyatakan bersalah karena melanggar KUHP tentang arak-arakan. Mereka adalah Gadis Arivia, Wilasih dan Karlina.

Demo di Monas hanya berlangsung setengah jam, tapi ‘magnitude’-nya cukup besar mengingat demo ini dilakukan oleh ibu-ibu. Saya bahkan mendengar laporan polisi pada pesawat HT yang melaporkan demo SIP sebagai Susu Ibu Peduli. Mereka bertiga kemudian diangkut dengan truk dan diproses (anehnya) pada bagian Susila.

12 Mei 1998, Reformasi 98 H-9

Selasa sore, sekitar Pukul 16.30 WIB, di tengah guyuran hujan, ribuan mahasiswa Unversitas Trisakti mengadakan aksi damai, dalam perjalanan balik ke kampus. Upaya mereka menyampaikan aspirasi ke DPR/MPR dihadang aparat keamanan berlapis.

Saat konvoi damai mahasiswa tiba di sekitar gedung bekas kantor Wali Kota Jakarta Barat, di Jalan S Parman, sekirar 300 meter dari kampus, rombongan tersendat. Sebab, jumlah mereka banyak, sementara pintu masuk gerbang kampus kecil. Proses masuk kampus berjalan lambat.

Ketika sebagian besar mahasiswa sudah berada di dalam kampus, tiba-tiba dari arah belakang mahasiswa yang masih berada di bekas Kantor Wali Kota Jakarta Barat, terdengar letusan senjata.

Mahasiswa kaget, lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sikap aparat memancing kemarahan mahasiswa. Dari dalam kampus mereka mulai melempari petugas. Aparat membalas dengan tembakan dan gas air mata.

Empat mahasiswa tewas. Mereka adalah Hafidin Royan, Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, dan Hendryawan. Keempat mahasiswa tersebut ditembak saat berada di halaman kampus. Tragedi Trisakti.

13 Mei 1998, Reformasi 98 H-8 (Hari Kelabu – Kerusuhan Mei)

Sunarmi ibu dari Hafidin Royan, meratap di depan jenazah putranya (foto: Erick Prasetya-bbc)

Hari Rabu Kelabu. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi datang ke Kampus Trisakti untuk menyatakan duka cita. Kegiatan itu diwarnai kerusuhan.

Tanpa diduga, tiba-tiba jelang tengah hari sekelompok massa muncul dari Jalan Daan Mogot ke arah Kampus Trisakti. Massa yang tampak beringas itu kemudian bentrok dengan aparat keamanan.

Peristiwa terjadi di bawah jembatan layang Grogol, Jakarta Barat. Dari sini dimulai gelombang kerusuhan yang membuat Jakarta jadi kota berdarah.

14 Mei 1998, Reformasi 98 H-7 (Kerusuhan Mei)

Pemakaman Korban Trisakti (foto: Erick Prasetya – bbc)

Soeharto melalui orang dekatnya mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo, Mesir.

Sementara itu, kerusuhan dan penjarahan meluas, terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabotabek seperti Supermarket Hero, Superindo, Makro, Goro, Ramayana, dan Borobudur. Beberapa dari bangunan pusat perbelanjaan itu dirusak dan dibakar.

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, mengatakan kerugian akibat kerusuhan sekitar Rp 2,5 triliun. Sebanyak 4.939 bangunan rusak, termasuk 21 bangunan milik pemerintah.

15 Mei 1998, Reformasi 98 H-6 (Penjarahan – Pemerkosaan – Kerusuhan Mei)

Penjarahan Mei 1998 (foto Erick Prasetya)

Rakyat miskin yang kehilangan harapan bagaikan daun kering yang mudah tersulut api provokasi dan kemarahan. Setelah pemakaman empat pahlawan reformasi, kerusuhan mulai terjadi di daerah Grogol dan meruyak ke seluruh Jakarta. Dari tanggal 13-15 Mei terjadi penjarahan dan huru-hara yang meluas ke Bogor, Tangerang, Bekasi bahkan ke Solo dan seantero Nusantara. Korban yang tercatat berjatuhan.

Soeharto tiba di Indonesia setelah memperpendek kunjungannya di Kairo. Dia mendapatkan perkembangan situasi kerusuhan dari putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut.

Soeharto memanggil Wapres BJ Habibie, Wiranto, Kepala Staf Angkatan, Pangdam Jaya Sjafrie Sjamsuddin, untuk mengevaluasi situasi.

Ia membantah telah mengatakan bersedia mengundurkan diri. Suasana Jakarta masih mencekam. Toko-toko banyak ditutup. Sebagian warga pun masih takut keluar rumah.

Kompas 16 Mei 1998: menurut Kadispen Mabes Polri Bigjen Dai Bachtiar, jumlah korban yang tewas di wilayah DKI 200 orang, belum termasuk 20 korban yang loncat dari gedung. Sementara di Tangerang 100 orang terpanggang dan jasad para korban sebagian besar dalam keadaan hangus.

Belum pernah Jakarta lumpuh seperti kali ini. Kengerian mencekam, kendaraan umum tidak beroperasi, jalanan dipenuhi warga yang berusaha pulang dengan berbagai cara. Para wanita menjinjing sepatu hak tinggi dan berjalan telanjang kaki menyusuri jalanan yang dipasangi rintangan.

16 Mei 1998, Reformasi 98 H-5

Warga asing berbondong-bondong kembali ke negeri mereka. Bandara penuh penumpang yang datang mendadak, mencari tiket untuk segera meninggalkan Jakarta. Suasana di Jabotabek masih mencekam.

Soeharto kembali memanggil Menhankam/Pangab Wiranto, KSAD Jenderal Subagyo HS, dan Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursyid ke kediamannya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Mereka mendapat instruksi membentuk sebuah komando seperti Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

17 Mei 1998, Reformasi 98 H-4

Foto Erick Prasetya – BBC

Pada malam hari di kantung-kantung permukiman, suasana seperti yang digambarkan pada masa perjuangan 1945. Di setiap sudut jalan para lelaki bersiskamling bergerombol dengan senjata di tangan. Mereka mempersenjatai diri dengan golok, samurai sampai stik golf. Kewaspadaan yang tinggi terutama di daerah perumahan karena ada desas-desus akan terjadi penjarahan.

18 Mei 1998, Reformasi 98 H-3

Foto Erick Prasetya

Sejak 16 Mei 1998 ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta mulai bergerak menuju gedung DPR/MPR di Senayan.

Hari-hari menegangkan dimulai. Senin pagi itu, ratusan mahasiswa dan masyarakat datang ke DPR/MPR. Sebagian melilitkan pita merah di kepala.

Mereka menyebut diri sebagai delegasi gerakan reformasi nasional. Tidak hanya ingin menyampaikan aspirasi, mereka datang untuk menduduki gedung DPR/MPR.

Langkah itu diambil untuk mendesak DPR agar memanggil MPR, untuk menggelar Sidang Istimewa dengan agenda utama meminta pertanggung jawaban Presiden Soeharto sebagai mandataris MPR.

Dari waktu ke waktu mahasiswa terus berdatangan memenuhi gedung wakil rakyat bahkan sampai naik ke atas atap gedung. Ribuan mahasiswa menginap dan bertahan di gedung tersebut dengan risiko apapun. Tuntutan mereka satu: Soeharto harus turun dari jabatan presiden. Gedung DPR/MPR telah disita oleh rakyat.

Siang harinya, Ketua DPR/MPR Harmoko didampingi wakil-wakilnya menggelar jumpa pers. Isinya, mencermati situasi terkini dan menyarankan Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Sikap Harmoko ini berbeda jauh dengan puja-puji yang dia sampaikan saat Sidang Umum MPR Maret 1998, ketika dia mengatakan mayoritas rakyat masih menghendaki Soeharto melanjutkan jadi presiden.

Malam itu mahasiswa mulai menginap, dan ribuan delegasi, termasuk tokoh masyarakat tak putus mengalir ke DPR//MPR menyampaikan aspirasi agar Soeharto lengser keprabon. Mundur.

19 Mei 1998, Reformasi 98 H-2

Dukungan mulai membanjir dari elite politik, organisasi non-pemerintah, buruh dan rakyat. Kabinet Soehartopun terbelah. Para menteri dibawah Ginanjar Kartasasmita mengundurkan diri dari kabinet.

Bahkan Harmoko, ketua MPR dan loyalis Soeharto, dengan tegas mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Siaran pers disambut sorak-sorai massa. Akhir perjuangan panjang terasa terasa makin dekat.

Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit).

Para tokoh memaparkan situasi terakhir, dimana elemen masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur.

Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengusulkan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu, Soeharto menegaskan ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden.

Janji manis Soeharto untuk menolak dipilih kembali tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjuk rasa semakin banyak.

Akan tetapi kegembiraan tersebut ternyata datang terlalu cepat. Empat jam kemudian Panglima ABRI Wiranto mengadakan rapat kilat dengan kepala staf dan Kapolri serta para panglima komando operasi di markas besar ABRI dan menyatakan: pernyataan tersebut hanyalah pendapat individual meskipun disampaikan secara kolektif.

Sesuai dengan konstitusi pendapat tersebut tidak memiliki ketetapan hukum.

20 Mei 1998, Reformasi 98 H-1

Pengadilan Tahanan Politik Terakhir (Foto Erick Prasetya)

20 Mei 1998 Hari Kebangkitan Nasional. Pengadilan Negeri Jakarta Utara melangsungkan sidang putusan terhadap enam orang terkait penyelenggaraan Kongres Rakyat Indonesia. Keenam orang itu: seniman dan aktivis Ratna Sarumpaet serta putrinya Fathom Saulina; pengacara Alexius Suria Tjahaja Tomu (sudah meninggal); aktivis Nandang Wirakusumah dan Joel Taher serta wartawan Ging Ginanjar (sekarang adalah News Editor di BBC Indonesia). Mereka ditangkap saat berlangsungnya Kongres Rakyat Indonesia yang bermaksud memilih secara simbolik presiden versi rakyat, pada 10 Maret 1998, sehari sebelum Soeharto dipilih dan dilantik lagi sebagai presiden.

Keenam orang itu dinyatakan bersalah namun dibebaskan pada hari itu juga -sehari sebelum Soeharto jatuh.

Sebuah sandiwara persidangan yang panjang dan bertele-tele namun tetap harus ditonton dengan sabar. Kami menduga-duga, persidangan ini diadakan tanggal 20 Mei tentulah agar keputusan pengadilan tampak sebagai sebuah hadiah sehari sebelum jatuhnya Soeharto. Dan benar saja: mereka tetap divonis bersalah, tapi dijatuhi hukuman sesuai masa tahanan selama 70 hari. Dengan kata lain: bebas.

Sebuah dokumenter produksi ArteTV, televisi patungan Prancis dan Jerman mengangkat kisah mereka dengan judul Les Derniers prisonniers de Soeharto (Para Tahanan Terakhir Soeharto), karya Bernard Debord.

21 Mei 1998, Reformasi 98 (Tumbangnya Soeharto/Orde Baru)

Foto Erick Prasetya- BBC

Pada 21 Mei 1998 Pukul 09.05 WIB di hadapan para wartawan media seluruh dunia, Soeharto mengumumkan mundur sebagai presiden. Wakilnya, B.J Habbibie, langsung dilantik menjadi presiden RI yang ketiga.

Akhir sebuah kediktatoran yang kejam dan congkak berakhir secara dramatis. Di jalan-jalan dan di gedung DPR, rakyat meluapkan kegembiraan dengan berbagai ekspresi. Sebuah fase baru dimulai, perjalanan transisi sebuah bangsa menuju demokrasi.

-dari berbagai sumber-

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + 12 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami