Opini

Mengingat Kembali Sejarah Kelam Bank Bali

BTN iklan

Oleh Theo Yusuf Ms.

Pidato Presiden RI I Soekarno dalam rangka memperingati Proklamasi 17 Agustus 1945 menyebutkan, ” Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Judul asli pidatonya, Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Oleh banyak pendengar kala itu, mereka menyingkat menjadi Jasmerah. Guna mempermudah pemahaman bahwa pentingnya bangsa Indonesia mengenal literasi sejarah. Pidato itu terakhir kalinya disampikannya pada 17 Agustus 1966.
Mungkin Soekarno menyadari tahun berikutnya tak lagi akan berpidato kenegaraan sebagai presiden, sehingga ungkapan itu perlu disampaaikan agar para generasi berikutnya tidak melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta.

Soekarno dalam berpidatonya juga sering menyitir ungkapan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Adagium itu mungkin disitir dari seorang filosuf barat, karena Presiden pertama kita itu, terkenal rajin membaca buku politik, filsafat dan sastra. Sejarah bangsa Indonesa “kelam”. Di Jajah Belanda lebih dari 350 tahun. Kemudian Jepang 2,5 tahun.

Beruntung tentara sekutu pimpinan Amerika tahun 1945 mengebom Nagasaki dan Hirosima. Dendamnya sekutu itu dipicu ulah tentara Jepang yang mengebom kapal AS yang berlabuh di laut Pasifik, Pear Habor tahun 1941. Waktu terus berjalan, tanggal 6 dan 9 Agustus Presiden AS Hary S Truman menggempur dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hirosima, dengan bom atum hingga kota itu menjadi luluh lantak.
Diperkirakan separuh dari penduk dau kota itu meningggal. Ada yang menulis lebih dari 140 ribu mati. Sejarah kelam itu tak mungkin dapat dilupakan umat manusia baik yang terkena dampak maupun yang mendengar cerita. Mereka menilai dan bertindak atas sejarah itu.
Soekarno dan Hatta kini sudah tiada. Tetapi sejarah kemerdekaan dan lika-liku perjuangannya, termasuk dalam menggagas Pancasila sebagai dasar negara, generasi kini masih dapat mengingatnya lewat bacaan buku sejarah dan cerita para polikus yang ada.

sejarah kelam Bank Bali, tentu juga tak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia. Cerita kelam Bank Bali, milik Djaja Ramli yang selanjutnya di wariskan kepada putaranya, antara lain Rudy Ramli, hingga kini menyimpan berbagai misteri. Misteri itu antara lain mengapa Bank Bali menjadi bank Take Over (BTO) ?

Epilog sebagai petunjuk.

Guna menjawab pertanyaan tersebut ternyata tidak mudah. Kerumitan dan keruwetan berkelindan lantaran para konglomerat sebagai saingan bisnis berkelindan dengan para pengusa. Utamanya di level otoritas keuangan Indonesia. Namun ada petujuk. Setidaknya jawaban itu dapat ditemukan dalam lembar epilog. Penutup buku yang bertema “Menggugat Pengambilalihan Bank Bali” oleh Ichsanuddin Noorsy dan Haryo Prasetyo. (2016).

Temanya menggugat. Pastinya ditemukan banyak ketidak beresan dalam proses BTO itu. Ichsanuddin Noorsy, bukan hanya menulis dari luar. Tetapi ia memoteret dari jarak dekat. Ia kala itu, tahun 1999 tercatat sebagai anggota DPR Komisi IX, komisi yang membidangi soal keuangan dan perbankan.

Oleh karenanya, dalam sekelumit penuturannya pada epilog itu relatif runtut karena mampu menjelaskan lika-liku proses munculnya surat dari Bank Indonesia (BI) No 1/14/kep.DpG/1999 tertanggal 23 Juli yang ditanda tangani oleh Gubernur BI Syahril Sabirin.

Surat itulah cikal muasalnya Bank Bali jatuh kepihak lain, yakni dari keluarga Djaya Ramli, beralih ke rezim Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Lembaga itu dipayungi oleh Keppres No 27 Tahun 1998 yang bertugas menyehatkan bank bank yang sakit.
Cilakanya, bank yang tidak sakit, kata Rudy Ramli, dirut Bank Bali kala itu dipaksa harus “sakit”.
Surat gubernur BI yang mengalihkan pengelolaan Bank Bali ke BPPN itu kemudian dengan sigapnya membuat tim dan menunjuk sekelompok orang dari bank asing, Standard Chartered Bank (SCB) yang bermarkas di London, Inggris itu.
BPPN tampaknya rendah diri, tak mampu menunjuk orang-orang profesional bidang keuangan dari anak negeri sebagai ketuanya. Singkat kata, SBC menunjuk orang-orang seperti; Douglas Keith Beckett, ketua merangkap anggota, Piter Liew Khiam Soong, anggota, John Arunkumar Diaz, anggota dan Nicholas Wood, anggota.

Orang yang dipikir profesional oleh BPN itu, ternyata dinilai oleh para bankir lokal justru sebaliknya. Mereka banyak dicaci-maki, karena ketidak mampuan untuk menilai suatu aset perbankan, mengukur CAR, rasio kecukupan modal dititik nadir, hingga menimbulkan kecurigaan (mistrust), hingga penolakan dari sejumlah karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Bank Bali.

Penolakan itu bukan saja sebagian besar karyawan. Tetapi juga masyarakat luas termasuk kalangan DPR yang simpati kepada karyawan Bank Bali yang dipaksa mundur atau PHK karena lembaganya dinyatakan sakit meskipun tidak sakit. Demo lebih dari 7.000 karyawan dan keluarganya berbulan-bulan ke Mabes Polri, Bapepam, SCB, Kedubes Inggris dan DPR memang tak mengembalikan kepemilikan Bank Bali ke tangan Rudy. Namun demo itu mampu membuka tabir besar, adanya peran konglomerat dan para politisi untuk mengumpulkan dana besar untuk kepentingan politik.

Entah benar atau salah, besik-bisik di luar yang dikutip dalam bagian buku itu menggambarkan keterkaitan Setya Novanto lewat PT Era Giat Prima dan Joko Tjandra, mengumpulkan dana besar guna mengembalikan kedudukan Presiden BJ. Habiebi ke kursi kepemimpinan lagi (hal 41). Tagihan Bank Bali sebesar Rp904,6 miliar, hanya diterima Rp359 miliar dan sisanya masuk kepada para politisi dan pengusaha lainnya.

Di ujungnya, ternyata kasus Bank Bali, membawa mala petaka bagi banyak pejabat di gedung bundar kejaksaan hingga penjara. Syahril Sabirin, mantan Gubernur BI itu divonis 2 tahun, Pande Lubis 4 tahun, Joko Sugiarto Tjandra, diputus dua tahun dan dinyatakan buron.
Rudy Ramli, tampakya tak puas dengan banyaknya orang yang dipenjara termasuk orang yang kwalat, seperti Setya Novanto.
Ia akan terus memburu “misteri” meski belum jelas titik ujungnya. Itu sebabnya, ia dan para koleganya saat ini terus berjuang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menelisik pembukuan dan lapaoran SCB dan lainnya, untuk mencari jawaban. Bahkan untuk menyampaikan isi hatinya, Rudy Ramli siap akan bertutur kepada para “wartawan tua” yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi dan Keuangan (Forkem) tahun 1990-an pada minggu depan. Saat itu pada 9 September 1999, ia dipanggil DPR untuk menjelaskan misteri dan dibalik misteri, beralihnya Bank Bali ke pihak lain, termasuk ke SCB.

Tutur Rudi itu penting untuk didengar, karena dapat dibukukan sebagai bahan literasi bagi anak bangsa agar sejarah kelam, pat-gulipat, antara konglomerat dan politisi termasuk otoritas keungan tak boleh berulang lagi. Itulah pentingnya mengingat sejarah. Sekecil apapun scandal yang diciptakan oleh orang dan lembaga, cepat atau lambat akan membusuk dan bau

Dalam cuplikan filem Gundala, (2019) sebagian dituturkan, repotnya dan rumitnya di negeri ini, melawan kebenaran yang DISEMBUNYIKAN.

*Penulis, anggoat Forkem 1999 dan kini bergabung di Lembaga Studi Hukum Indonesia (LSHI) Jakarta.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lihat juga

Close
Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami