EkonomiLiputan

Menteri Perdagangan Pantau Stok Beras

BTN iklan

Jakarta/Lei- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada Selasa (27/2) pagi melakukan pemantauan langsung stok beras Perum Bulog, yang akan dipergunakan sebagai stok pemerintah untuk melakukan operasi pasar (OP) jika diperlukan.

Enggartiasto bersama rombongan melakukan pemantauan pertama di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pemerintah menjamin, beras impor asal Thailand dan Vietnam tersebut tidak akan merugikan petani.

Perum Bulog akan terus berupaya untuk menyerap gabah dan beras petani sesuai dengan ketentuan Inpres Nomor 5 Tahun 2015. Besaran harga pembelian pemerintah atau HPP Perum Bulog untuk gabah kering panen adalah Rp3.700 per kilogram di tingkat petani dan Rp3.750 per kilogram di tingkat penggilingan.

Sementara untuk gabah kering giling, HPP ditetapkan Rp4.600 per kilogram di tingkat penggilingan dan Rp4.650 di gudang Bulog.

Enggartiasto mengatakan, pengeluaran beras tersebut nantinya akan menggunakan skema operasi pasar jika diperlukan, untuk menurunkan harga beras sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan bahwa jumlah stok beras Bulog khususnya yang berasal dari impor tersebut akan terus bergerak. Namun, Djarot memastikan bahwa hingga akhir Februari 2018 stok yang masuk gudang sebanyak 261.000 ton.

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga beras khususnya kualitas medium tercatat sudah mengalami kenaikan tipis. Pada Jumat (23/2), rata-rata harga nasional Rp11.084 per kilogram, dan pada Senin (26/2) menjadi Rp11.085 per kilogram, atau masih di atas HET yang ditentukan yakni sebesar Rp9.450 per kilogram untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami