BTN ads
EkonomiHukumLiputanNasional

Menyimak Kabar TKI di Qatar

Selalu ada kisah yang beragam warna dari kehidupan TKI di luar negeri; dari yang menyenangkan, melegakan hingga memprihatinkan, memalukan dan memilukan.

Dikatakan menyenangkan karena pekerjaan yang didapatkan WNI untuk menjadi TKI itu sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Begitu juga gajinya juga sepadan dengan keahlian dan impiannya.

Kalau dikatakan melegakan karena untuk bisa menjadi TKI hingga memperoleh pekerjaan dengan gaji memadai atau sesuai keinginannya telah tercapai setelah melalui proses atau jalan yang begitu panjang. Itu suasana yang melegakan.

Sedangkan nasib memprihatinkan masih dialami tidak sedikit TKI yang terlunta-lunta di negara lain. Nasib sedih itu karena persoalan pemberangkatan yang tidak sesuai prosedur dan adanya kasus dengan perusahaan, agen atau majikan.

Nasib yang prihatin itu akan menjadi memilukan pada kasus-kasus tertentu yang disertai kekerasan dan pelecehan. Selain karena tindakan orang lain, nasib memilukan juga diambil karena keputusan sendiri; dari bunuh diri hingga keterlibatan dalam kasus kriminal, seperti pembunuhan terhadap keluarga majikan.

Beragam kisah memprihatinkan dan memilukan ini ujungnya juga beragam nasib. Tidak sedikit yang berhasil melampaui nasib sedih yang memprihatinkan dan memilukan, namun juga ada yang menimbulkan rasa malu sebagai bangsa karena ulah atau tindakan TKI di luar negeri.

Itu pula yang dialami sebagian kecil TKI yang ada di Qatar. Mereka pun akhirnya terlunta-lunta di negeri orang dan sebagian menunggu nasib di KBRI Doha.

Saat ini KBRI Doha menampung sekitar 45 pekerja migran bermasalah yang masih menunggu penyelesaian kasus mereka hingga proses kepulangan mereka ke Tanah Air. Walaupun jumlahnya sangat kecil, adanya TKI bermasalah di negeri petrodolar itu patut menjadi perhatian serius pihak terkait.

Beberapa kasus pekerja migran Indonesia di Qatar di antaranya berkaitan dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, dokumen ditahan, gaji tidak dibayarkan, disiksa dengan disetrika, dipukul kepala dengan wajan penggorengan, dinikahi siri hingga ditelantarkan, bahkan ada yang dikriminalisasi.

Beberapa kisah ini terungkap dalam kunjungan Delegasi Komite III DPD RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komite III DPD RI Abdul Aziz ke shelter pekerja migran Indonesia bermasalah di KBRI Doha, Qatar pada Senin (28/5).

Delegasi Komite III DPD RI terdiri atas Abdul Aziz (Sumsel), Rosti Uli Purba (Riau), GKR Ayu Koes Indriyah (Jateng), I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (Bali), Habib Hamid Abdullah (Kalsel), Rafli (Aceh), Muslihuddin Abdurrasyid (Kaltim) dan Abd Jabbar Toba (Sultra).

Abdul Aziz, Ketua Delegasi Komite III DPD yang juga Senator dari Sumatera Selatan menyatakan bahwa kehadiran DPD di Qatar adalah untuk meninjau dan melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

“Kami sedang mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pekerja migran Indonesia yang bermasalah dan akan membantu mencarikan solusinya,” kata Abdul Aziz.

DPD rutin melaksanakan fungsi pengawasan di bidang ketenagakerjaan. Salah satunya pekerja migran Indonesia, untuk memastikan terpenuhinya hak-hak mereka di luar negeri.

Menurut dia, Banyaknya kasus pekerja migran Indonesia disebabkan oleh keberangkatan yang tidak prosedural, yaitu penempatan pekerja migran yang tidak melalui prosedur yang berlaku yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Adanya pekerja migran Indonesia tidak prosedural biasanya diawali dari sejak proses keberangkatan di Indonesia. Mereka yang berangkat secara tidak prosedural umumnya diiming-imingi pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri, terdesak kebutuhan keluarga, hingga dipaksa berangkat karena utang budi setelah dipinjami uang.

Disterika Simak kisah Wastiri, TKW asal Jawa Tengah. Dia mengalami penyiksaan oleh majikan perempuan.

“Saya sempat minta pulang tapi gak dikasih, surat-surat diambil, sering disiksa majikan perempuan ketika anak-anaknya tidak di rumah, hingga pernah disetrika,” kata Wastiri.

Kasus sedih dialami Sani, TKW dari Banten, yang sering disiksa majikan perempuan karena cemburu.

“Saya dituduh mengambil perhiasan majikan hingga disiksa dan dipukul kepala dengan penggorengan,” kata Sani.

Lain lagi kasus yang dialami Nanang dan Dede, dua bersaudara dari Cianjur (Jawa barat). Mereka harus membayar Rp16 juta untuk bisa pergi ke Qatar karena akan bekerja sebagai dekorasi.

Tetapi sesampainya di Qatar malah dipekerjakan sebagai buruh bangunan.

“Saya dijanjikan gaji oleh sponsor 2.500 QR, tetapi hanya dibayar 1.000 QR,” kata Nanang.

Sementara kasus yang dialami Casmen binti Basir, TKW asal Indramayu dinikahi secara siri oleh majikan laki-laki tapi tidak bertanggung jawab.

“Saya 11 tahun belum pulang ke Indonesia dan sekarang memiliki anak umur tujuh tahun,” kata Casmen.

Beberapa kasus yang dialami oleh pekerja migran Indonesia di Qatar ditanggapi oleh GKR Ayu Koes Indriyah, senator dari Jateng, yang meminta kasus kasus ini agar dapat dijadikan pelajaran.

“Kami meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan pekerja migran Indonesia yang bermasalah,” kata GKR Ayu.

Senator dari Sulawesi Tenggara, Abd Jabbar Toba mengimbau para pekerja migran Indonesia yang bermasalah untuk kembali ke Tanah Air dan tidak mudah terpengaruh bujukan orang.

“Jangan mudah terbujuk janji yang muluk-muluk untuk bekerja di luar negeri,” kata Jabbar Toba.

Sukses Menjadi pekerja migran ternyata tidak hanya menyisakan kisah sedih. Tapi ada banyak juga kisah sukses dan keberhasilan yang dapat diraih di sana.

Banyak pekerja migran Indonesia di Qatar yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun, ada yang 20 tahun bahkan ada yang sampai 30 tahun. Mereka memperoleh penghasilan yang tinggi dan profesi yang terhormat.

Kisah-kisah sukses mereka terungkap dalam pertemuan delegasi Komite III DPD dengan Komunitas Pekerja Migran Indonesia di Qatar pada Selasa (29/5). Pertemuan juga dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Qatar, perwakilan dari komunitas pekerja migran di bidang petrokimia, gas, keperawatan dan telekomunikasi.

Duta Besar RI untuk Qatar Muhammad Basri Sidehabi menyatakan bahwa lebih banyak kisah sukses dan kebahagiaan yg diterima oleh pekerja migran Indonesia di Qatar.

“Selama pekerja migran itu pekerja yang profesional dan mengikuti prosedur yang berlaku, ungkap Sidehabi.

Terungkap dalam pertemuan tersebut, beberapa kisah sukses yang bisa diraih anak bangsa di negeri Qatar. Salah satunya seperti yang dituturkan oleh Roso, karyawan Qatar Gas.

Dia telah bekerja selama sembilan tahun di Qatar Gas, perusahaan penyuplai LNG ke seluruh negara sebagai “inspection engineer. Saat ini, selain sebagai karyawan di perusahaan, Roso juga berhasil mengembangkan usahanya di bidang restoran, yaitu Restauran Pearl Asia di Al Khor dan Wakrah.

Kisah sukses lainnya juga diperoleh Mulyadi, yang sudah bekerja selama 18 tahun di Qatar Petrochemical Company (CAPCO) sebagai tenaga perencana atau planner. Perusahaan ini menyuplai bahan baku biji plastik untuk seluruh dunia.

Dia baru 18 tahun bekerja di Qatar karena ada seniornya ada yang sudah bekerja lebih dari 30 tahun di Qatar. Mulyadi mengungkapkan bahwa tenaga kerja profesional di Qatar sangat dihargai sebagai manusia dan dimanusiawikan. Suasana kerja pun tidak ada intimidasi ataupun tekanan.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Qatar Sukatana telah bekerja selama 10 tahun sebagai perawat di sektor industri, yaitu di Qatar Petroleum. Bekerja di Qatar lebih banyak sukanya daripada dukanya.

Sementara kisah sukses lain diperoleh Yuniarto yang telah bekerja sebagai operation engineer selama 11 tahun di Ooredoo, sebuah perusahaan telekomunikasi di Qatar. Ooredoo juga sebagai pemilik saham 65 persen di Indosat Ooredoo.

Saat ini di Ooredoo terdapat sekitar 27 orang pekerja migran Indonesia dari total 1.500 karyawan. Mulai dari posisi “assistent director”, “senior manager”, manager hingga “engineer” atau teknisi.

Beragam kisah sukses pekerja migran Indonesia di Qatar tersebut diperoleh dari sektor formal. Syaratnya harus memiliki kompetensi, pengalaman, kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dan harus sesuai prosedur. [antara]

b/a011

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close