InternasionalTekno

Menyimak Progres Eksplorasi Planet Mars di Tahun 2018

BTN iklan

Ekspedisi ke Mars telah menjadi impian umat manusia sejak abad ke-19. Dahulu hanya terwujud sebagai bahan kisah fiksi dan film, kini perjalanan ke Mars sudah semakin dekat menuju realitas. Berbagai perusahaan aeronautika berlomba menciptakan roket untuk “misi suci” ini, seperti yang bisa kamu lihat dari maraknya berita uji coba sepanjang 2017 lalu.

Ekspedisi ke Mars adalah sebuah penorehan sejarah baru. Selain merupakan ekspedisi antariksa terjauh, planet Mars memiliki banyak keistimewaan yang membuatnya begitu menggoda untuk dijamah. Yuk, intip apa saja kelebihan planet Mars, dan bagaimana kemajuan ekspedisinya sejauh ini!


Mengapa memilih Mars?

Ada alasan kuat mengapa dunia antariksa begitu tertarik dengan Mars. Salah satunya, menurut NASA, yaitu karena Mars adalah planet dalam tata surya kita yang paling memungkinkan untuk didatangi di luar Bumi.

Mars sebetulnya bukan planet yang paling dekat dari Bumi. Planet terdekat adalah Venus. Sayang, jarak yang dekat dari matahari, ditambah efek rumah kaca dari atmosfernya, menjadikan Venus planet terpanas dalam tata surya dengan temperatur permukaan hingga lebih dari 460 derajat Celcius!

Di titik terdekatnya pun, Mars dan Bumi terpisah sejauh 56 juta kilometer.

Sementara itu, permukaan Mars memiliki temperatur rata-rata -63 derajat Celcius. Tidak jauh berbeda dengan Kutub Selatan di Bumi. Di titik paling hangat, Mars bahkan bisa mencapai suhu 30 derajat Celcius. Suhu demikian membuat Mars cenderung lebih mudah dijelajahi.

Mars | Temperature

Suhu di Mars cukup ekstrem, tapi tak separah Venus | Sumber Gambar: NASA

Alasan kedua adalah kondisi planet Mars menunjukkan adanya kemungkinan makhluk hidup bisa tinggal di sana. Saat ini memang belum ditemukan makhluk hidup di Mars, tapi banyak tanda-tanda yang memberi sinyal positif.

Keberadaan es di kutub-kutub Mars menandakan keberadaan air di permukaan planet. Hasil pengamatan dari satelit Mars Global Surveyor pun menunjukkan kemungkinan adanya air di bawah tanah. Ditambah lagi, atmosfer Mars yang tersusun mayoritas dari karbon dioksida merupakan tanda adanya karbon yang penting bagi makhluk hidup.

Ekspedisi ke Mars memungkinkan penelitian lebih jauh, dan para ilmuwan NASA meyakini penelitian ini akan bermanfaat besar. Tak hanya mengenal Mars secara menyeluruh, bisa jadi kita juga akan mendapat jawaban tentang asal-usul serta proses evolusi manusia, bahkan menjadikan Mars tempat tinggal manusia suatu saat nanti.


Persiapan puluhan tahun

Eksplorasi Mars tidak sesederhana mengirim manusia ke sana. Ada proses yang perlu ditempuh, persiapan untuk dirancang, serta tujuan-tujuan lain yang perlu dicapai untuk bisa memahami Mars secara menyeluruh. NASA memilikiempat target utama dalam keseluruhan program eksplorasi Mars ini, yaitu:

  • Mencari tahu apakah di Mars ada (atau pernah ada) kehidupan.
  • Memahami proses serta sejarah iklim Mars.
  • Memahami asal-usul serta evolusi susunan geologi Mars.
  • Mengirim manusia ke Mars untuk eksplorasi langsung.

Beberapa tujuan di atas sebetulnya sudah tercapai sebagian berkat pemantauan lewat satelit serta pengiriman robot (rover) untuk eksplorasi otomatis. Lewat eksplorasi Mars yang tak langsung ini, diharapkan kita bisa memperoleh pengetahuan cukup akan biaya dan risiko yang ada sebelum mengirim manusia ke sana.

Mars 2020 | Rover

Rover NASA yang akan mendarat di Mars pada tahun 2020 | Sumber Gambar: NASA

Uni Soviet adalah negara pertama yang mengirim rover untuk melakukan eksplorasi Mars pada tahun 1971 lalu. NASA saat ini telah mengirimkan empat rover yang masing-masing bernama Sojourner, Spirit, Opportunity, dan Curiosity. Saat artikel ini ditulis, hanya dua rover terakhir yang masih beroperasi.

Mungkin, beberapa tahun lagi manusia sudah bisa pergi ke Mars.

Mengirim manusia tidak semudah mengirim rover ke Mars. Selain masalah logistik (biaya, teknologi, bahan bakar roket, dsb), kita juga perlu memikirkan rencana jangka panjang agar manusia yang dikirim ke sana bisa bertahan hidup. Banyak faktor risiko yang mengancam, antara lain:

  • Radiasi sinar kosmik yang merusak, karena atmosfer Mars tidak setebal Bumi.
  • Kerusakan tubuh akibat gravitasi rendah, termasuk kerusakan tulang, otot, dan mata.
  • Tidak ada akses fasilitas medis, dan risiko kerusakan peralatan medis.
  • Efek psikologis dan sosial yang muncul akibat tinggal di luar angkasa dalam waktu lama.

Ingat, jarak antara Bumi ke Mars sangat jauh. Di titik terdekatnya pun, Mars dan Bumi terpisah sejauh 56 juta kilometer. Untuk perjalanan saja, ekspedisi ke Mars akan makan waktu sekitar satu tahun. Artinya para astronot yang berangkat harus tinggal di dalam pesawat selama setahun penuh, dengan segala bahaya dan keterbatasannya.

Saat sudah mendarat pun, masih banyak hal yang perlu dipikirkan. Bagaimana cara mereka mendapat makanan? Bagaimana cara bertahan di suhu dingin? Dari mana listrik didapatkan? Di tahun 2018 ini sebagian masalah sudah mulai terjawab, dan mungkin, beberapa tahun lagi manusia sudah bisa pergi ke Mars.


Para pionir masa kini

Ada tiga badan antariksa utama yang saat ini tengah mempersiapkan misi ekspedisi ke Mars, yaitu NASA, SpaceX, dan Mars One. Masing-masing memiliki target dan pendekatan berbeda:

  • NASA akan mengirim satu rover lagi pada tahun 2020. Rover ini akan menjadi pendukung bagi ekspedisi manusia pada awal tahun 2030-an. NASA bekerja sama dengan Boeing untuk program ekspedisi ini.
  • SpaceX berencana menciptakan roket reusable bernama BFR (Big Falcon Rocket). Dengan roket ini, mereka akan mengirim kargo ke Mars pada tahun 2022, dan mengirim manusia pada tahun 2024.
  • Mars One ingin membangun koloni manusia di Mars pada tahun 2032. Mereka akan memanfaatkan roket-roket milik SpaceX untuk mengirim manusia, rover, serta perlengkapan tempat tinggal. Perusahaan ini berasal dari Belanda.

Dari tiga “pemain” tersebut, Mars One berbeda sendiri. Mereka bukan sekadar ingin mengirim manusia untuk melakukan eksplorasi Mars, tapi ingin mengirim manusia untuk hidup menetap di sana. Sementara NASA dan SpaceX fokus membuat roket dan rover, Mars One fokus pada pembuatan perlengkapan keamanan, logistik, life support, dan perumahan.

Sayangnya hingga kini Mars One masih belum mengumumkan progres berarti dari proyek mereka. Bahkan sempat beredar kabar bahwa misi Mars One ternyata berbau penipuan.

Di lain pihak, NASA dan SpaceX terus membuat terobosan baru untuk persiapan ekspedisi. Salah satu contohnya Kilopower, generator nuklir mini buatan NASA yang dirancang sebagai pembangkit tenaga listrik portabel di luar angkasa. Pengembangan reaktor ini sudah mulai sejak 2012, dan kini sedang dalam proses uji coba.

Terkadang peralatan NASA untuk ekspedisi ke Mars terasa seperti alat milik Doraemon saja.

NASA juga mengembangkan teknologi bernama MOXIE (Mars Oxygen In-Situ Resource Utilization Experiment), yaitu alat untuk mengubah udara di atmosfer Mars—yang sebagian besar terdiri dari karbon dioksida—menjadi oksigen. Rover yang dikirim pada tahun 2020 nanti akan memiliki perangkat ini.

Masih banyak lagi teknologi yang dikembangkan NASA untuk ekspedisi Mars. Sensor bahan kimia, radar pemeta struktur bawah tanah, hingga kamera super untuk mengidentifikasi senyawa organik di bebatuan. Terkadang peralatan NASA untuk ekspedisi ke Mars terasa seperti alat milik Doraemon saja.

Sementara itu riset SpaceX berpusat pada pembuatan roket yang reusable. Dengan roket reusable, mereka berharap ongkos perjalanan luar angkasa bisa ditekan. SpaceX berhasil menjadi perusahaan pertama di dunia yang menggunakan satu roket untuk lebih dari satu kali peluncuran, dengan roket yang bernama Falcon 9.

Kombinasi Falcon 9 dan pesawat antariksa bernama Dragon telah mengantar SpaceX ke berbagai misi peluncuran sukses. Baik itu peluncuran satelit ataupun peluncuran manusia ke luar angkasa. SpaceX bahkan menjadi perusahaan komersial pertama di dunia yang berhasil mengunjungi International Space Station (ISS).

Tapi Falcon 9 adalah roket jarak dekat untuk peluncuran misi di orbit bumi. Untuk ekspedisi jarak jauh, SpaceX memiliki dua roket lagi: Falcon Heavy dan BFR (Big Falcon Rocket).

Falcon Heavy merupakan roket terkuat di dunia saat ini. Lebih kuat daripada roket Saturn V yang mengirim manusia ke bulan. Roket inilah yang akan digunakan SpaceX untuk mengirim manusia-manusia pertama ke Mars pada tahun 2024 nanti.

Untuk jangka panjang, SpaceX berharap BFR dapat menjadi solusi tunggalyang menggantikan Falcon 9, Falcon Heavy, ataupun Dragon. BFR dirancang sebagai sebuah sistem yang dapat menjalankan berbagai macam misi luar angkasa, mulai peluncuran satelit, pengiriman barang ke ISS, misi ke bulan, hingga transportasi dalam Bumi.

BFR | Satellite Mission

BFR akan menangani berbagai misi, salah satunya peluncuran satelit | Sumber Gambar: SpaceX

Apabila program SpaceX lancar, maka dalam beberapa dekade mendatang umat manusia akan memiliki sistem transportasi antar planet yang terstandar, relatif murah, dan reusable. Tentu saja pelaksanaan tak semudah mengucapkannya. Tapi memikirkan masa depan seperti itu saja sudah cukup membuat dada berdebar-debar, bukan?


Eksplorasi Mars di masa lalu baru terbatas pada pemantauan dari jauh saja. Misi di masa sekarang berpusat pada pengiriman robot/rover untuk mengenal Mars lebih jauh. Masa ini sebentar lagi akan usai, dan kita segera bergerak ke tahap berikutnya yaitu menginjakkan kaki di sana.

Sebagian orang mungkin meragukan manfaat dari eksplorasi Mars dan ruang angkasa. Mengingat begitu banyak dana dan bahan bakar terbuang untuk misi-misi ini, pandangan tersebut wajar saja.

Tapi manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Jadi bila harus memilih, antara tetap berpijak di Bumi atau menjelajah langit yang jauh, saya sih akan memilih yang kedua. Sambil tetap berdoa, semoga kita tidak bertemu alien yang berbahaya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − 5 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami