LiputanNasional

Monumen Pers Nasional Kumpulkan Artefak Pers

BTN iklan

BOJONEGORO, 12/4 (LEI) – Petugas Monumen Pers Nasional Solo, Jawa Tengah, mengunjungi Bojonegoro, Jawa Timur, untuk mengumpulkan file “artefak” pers yang akan dijadikan kelengkapan tambahan koleksi.

Konservator Monumen Pers Nasional Solo Slamet Widodo di Bojonegoro, Rabu (11/4) malam, menjelaskan pencarian artefak pers tujuannya untuk menambah koleksi di Monumen Pers Nasional, yang sudah ada. Pengumpulan artefak pers juga dilakukan ke berbagai daerah di Tanah Air, sejak sejak 2010.

“Kamis (12/4) kami di Madiun,” katanya menjelaskan.

Sebelum itu, lanjut Pranata Komputer Monumen Pers Nasional Solo Christianto H.N, pencarian artefak pers juga dilakukan di Palembang, Bangka Belitung, juga daerah lainnya.

“Kami bergerak ke suatu daerah untuk mencari (artefak) pers berdasarkan informasi yang kami peroleh,” ucap dia yang juga didampingi Digitalisator Monumen Pers Nasional Solo Yosef Victor D.

Menurut Christianto, pencarian artefak pers difokuskan yang memiliki nilai sejarah. Ia mencontohkan kamera yang dimanfaatkan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogyakarta, yang terbunuh juga menjadi salah satu koleksi di Monumen Pers Nasional Solo.

Selain itu, lanjut dia, buku-buku yang memiliki nilai-nilai sejarah, misalnya, sejarah Pers Bojonegoro, termasuk buku karya wartawan. “Buku-buku karya wartawan akan ditempatkan di perpustakaan,” kata Slamet.

Di Bojonegoro, tim mengaku memperoleh media cetak Banyu Bening yang sudah mati. Dari data yang ada koleksi Monumen Pers Nasional, di antaranya, ada koleksi foto-foto bersejarah IPPHOS LKBN Antara dan M. Isa Djamaludin.

“Ya, yang kami cari artefak pers yang memiliki nilai sejarah. Sekarang ini ada sekitar 500 judul koran dari berbagai daerah di Tanah Air,” ucap Christianto menambahkan.

Menurut dia, semua artefak koran yang menjadi koleksi diubah dalam bentuk digital, selain memperoleh perawatan yang disebut “fumigasi” dua kali dalam setahun.

Perawatan lainnya secara alami dengan menempatkan merica yang dibungkus juga bahan lainnya di dekat koran itu agar tidak rusak. “Jumlah pengunjung terus meningkat. Rata-rata sekitar 12.000 pengunjung dari kalangan pelajar, termasuk siswa PAUD,” ucap Yosef.

Sesuai buku panduan bahwa Gedung Monumen Pers Nasional Solo, diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Februari 1978. Sebelum menjadi Monumen Pers Nasional gedung itu bernama Gedung Sasanasuka atau “Societeit (Sositet) Mangkunegaran, semula didirikan Sri Mangkunegara VII pada 21 Desember 1918.

Gedung itu karya arsitek Semarang di zaman Hindia Belanda yaitu Mas Abukasan Atmodirono. “Pencarian (artefak pers) sekarang ini dilakukan 10 personel yang bertugas di Monumen Pers Nasional Solo,” ucap Slamet menambahkan. [antara]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close