BTN iklan
Nasional

MUNTIYARSO:JKSN DKI Lebih Fokus Penggarapan KE Personal

 

JAKARARTA, LEI, 8/11 – Koordinator Jaringan Kiyai Santri Nasional (JKSN) DKI, Muntiyarso M Dip Ing, mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran model kampaye. Pengumpulan dan pengerahan massa yang besar dengan biaya cukup tinggi sudah mulai ditinggalkan pada kampaye Pilihan Presiden 2019 nanti.

Pergeseran itu dapat difahami karena jamanyanya juga sudah berubah dari sistem orasi lewat podium bergeser ke smartphons, karena masyarakat sekarang lebih nyaman dengan handphone atau gatget.

Itu sebanya, JKSN Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI) dalam ikut kampaye memenangkan Jokowi dan KH Ma’ruf Amin, dalam Pilpres 2019, akan memfokuskan kampayenya melalui kanal individu atau personal, kata Koordinator JKSN, Muntiyarso, kepada pers di Jakarta, Kamis.

Selain itu JKSN juga akan memberikan masukan kepada para relawan untuk memanfaatkan sistem teknlogi tinggi lewat smarphone agar dalam waktu singkat, semua data yang dihimpun para relawan dapat di kompilasikan oleh tim yang ada di JKSN, katanya.

Sebelumnya, JKSN juga mengaakan disskusi dengan tema “Gurita Dominasi Politik Aliran dalam Pilpres 2019” dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang demokrasi dan politik, terkhusus untuk generasi milenial dan pemilih pemula. Diskusi tersebut diadakan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Korwil DKI Jakarta di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Rabu malam (7/11).

Koordinator Wilayah JKSN DKI, Mutiyarso berpesan, terkait dominasi politik aliran yang kian menguat, tetap jangan lepas silaturahmi.

“Walaupun pandangan politik berbeda, jangan lepas silaturahmi, diskusi. Setelah diskusi terus ngopi,” terangnya dalam pengantar diskusi.

Perwakilan dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Aris Adi Laksono yang hadir pada malam itu, menilai, kuatnya dominasi politik aliran akhirnya bukan sekadar pada pemenangan Pilpres, lebih jauh mengarah pada kerusakan kekuatan kultural.

“Politik aliran yang melahirkan stigma-stigma perlu kita bincangkan bersama bagaimana memecahkan itu,” ungkap Aris, selaku moderator pada diskusi itu.

Kegiatan yang diagendakan akan digelar tiap dua pekan sekali itu juga menghadirkan narasumber dari Forum Betawi Rempug (FBR). Ketua Umum FBR, Lutfi Hakim menuturkan, kultur kewarasan harus ditumbuhkembangkan.

“Pemilu atau Pilpres kali ini tidak mengajarkan demokrasi, kesantunan dalam politik, kampanye yang sehat. Kita lebih sering hanya mau mendengarkan pihak dari pihak kita sendiri ketimbang dari pihak yang lain,” jelas Lutfi.

Menurutnya, saat ini tidak pernah lagi ada objektivitas dan rasionalitas. “Yang ada hanya emosi. Ibaratnya kayak orang lagi jatuh cinta, kata orang Betawi, jadi buta dan tuli,” selorohnya.

Teriakan Allahu Akbar pun, lanjut Lutfi, jadi tergradasi maknanya dari Allah Maha Agung menjadi Allah Maha Murka. Namun lebih jauh dirinya optimis nasib Indonesia tidak bakal seperti Suriah sebab masih ada NU dan Muhammadiyah.

“Masih ada NU dan Muhammadiyah, produk dari kekuatan kultural Indonesia. Jadi tidak bakal seperti Suriah,” tegasnya.

Dirinya juga berpesan, dalam demokrasi yang dicari adalah pemilih bukan suara. Jika yang dicari suara, maka yang ada hanyalah kegaduhan.

“Yang kita cari vote, bukan voice. Pemilih atau suara? Jika cari voice, maka yang ada hanya kegaduhan. Mendukung salah satunya tidak harus menurunkan derajat kita jadi cebong atau kampret,” pungkasnya.


Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close