EkonomiLiputan

Musik Mahal Ala Nelayan Jembrana Saat Melaut

BTN iklan

Iringan alunan musik sepertinya menjadi “kewajiban” bagi nelayan di Kabupaten Jembrana, wilayah ujung barat Pulau Bali, saat melaut, khususnya ketika menarik jaring.

Beberapa nelayan yang ditemui, Kamis (8/2) mengatakan, keberadaan musik dangdut menjadi penyemangat mereka saat menarik beban jaring yang berat, selain sebagai hiburan di tengah laut yang hanya ada suara ombak, angin dan mesin perahu.

“Seluruh perahu ‘selerek’ di sini pasti dilengkapi dengan peralatan ‘sound system’. Kalau perahu tidak ada musiknya, bisa-bisa tidak dapat anak buah saat melaut,” kata Ainul Hakim, salah seorang nelayan dari Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana.

Dari cerita-cerita para nelayan, peralatan sound system yang dipasang di perahu selerek tidak asal-asalan, tapi dari jenis yang mahal yang harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Maskurin, salah seorang tukang panggung (sejenis nakhoda) perahu selerek mengatakan, pihaknya menghabiskan biaya sekitar Rp40 juta untuk membuat satu paket sound system.

“Itupun masih ada rencana penambahan lagi, biar bunyi musik yang dihasilkan benar-benar dahsyat,” kata laki-laki asal Dusun Munduk, Desa Pengambengan ini.

Ia mengatakan, sound system yang terpasang di perahu selerek seluruhnya hasil rakitan dari ahli elektronik baik lokal Desa Pengambengan, maupun Kota Negara.

Dengan biaya Rp40 juta yang dikeluarkan, menurutnya, peralatan musik yang terpasang di perahunya bukan yang paling mahal, karena masih ada lagi yang menghabiskan biaya di atas itu.

Ia mengungkapkan, ada perahu yang sampai menghabiskan biaya Rp60 juta untuk pembuatan dan pemasangan sound system-nya.

“Rata-rata sound system perahu menghabiskan biaya Rp40 juta hingga Rp60 juta. Biaya sebesar itu sudah biasa di kalangan kami,” katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, agar bisa menikmati musik saat melaut, anak buah perahu selerek rela hasil tangkapannya disisihkan untuk membiayai sound system tersebut.

Kebiasaan di kalangan nelayan, biayanya ditanggung terlebih dahulu oleh pemilik perahu, yang akan terbayar dari pendapatan hasil tangkap.

Sebagai pilihan musik, ratusan perahu selerek yang sandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan memilih musik dangdut dengan irama yang cepat dan keras.

“Kalau iramanya lambat percuma saja, kami tetap kurang semangat menarik jaring. Dangdutnya harus irama yang cepat seperti dangdut koplo atau campur-campur dengan rock,” kata Madek Rahman, nelayan lainnya.

Nelayan yang sudah belasan tahun menjadi anak buah perahu selerek ini mengatakan, sound system yang terpasang harus mampu melawan suara ombak, angin serta mesin, sehingga yang menjadi perhatian utama adalah speaker dan power.

Dari beberapa perahu yang pernah ia ikuti, harga sound system sangat berpengaruh terhadap suara yang dihasilkan dari sisi volume maupun bunyinya.

“Kalau yang murah meskipun keras tetap saja tidak bisa terdengar jelas karena suaranya pecah. Kalau mahal, volume tidak besar saja suaranya enak didengar,” katanya.

Munculnya kebiasaan memasang sound system yang dihidupkan dengan tenaga genset ini, tidak dari awal keberadaan perahu selerek di Kabupaten Jembrana.

KH. Sya’rani Yasin, salah seorang tokoh Desa Pengambengan yang pada masa mudanya ikut melaut mengatakan, adanya iringan musik saat melaut itu berawal pergaulan nelayan lokal dengan nelayan dari Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur yang memang sering singgah dan sandar di desa tersebut.

“Perahu dari Muncar itu dilengkapi sound system. Mungkin merasa enak dan semangat melaut dengan iringan musik, sehingga ditiru nelayan dari sini,” kata pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Pengambengan ini.

Sedangkan Ahmad Atqo, yang pernah berkecimpung di penyewaan sound system mengakui, kualitas peralatan yang berhubungan dengan bunyi musik di perahu tidak ada yang murah, khususnya pada bagian speaker dan power.

Ia mengatakan, untuk satu speaker, nelayan bisa mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah demikian juga power agar daya lontar suaranya lebih keras.

“Di pasaran ada speaker yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah, seluruh perahu pasti menggunakan yang harga jutaan rupiah. Itu hanya untuk satu speaker, sementara ada berapa speaker di perahu tergantung selera masing-masing,” katanya.

Demikian juga harga peralatan power yang digunakan, menurutnya, harus mengikuti harga speaker karena kalau jauh lebih rendah, meskipun speakernya bagus, daya lontar suara yang dihasilkan tetap lemah.

“Kalau yang lain seperti equalizer itu hanya aksesoris pelengkap untuk mengharmoniskan suara. Bagi nelayan yang paling utama adalah suara musik yang keras dengan daya jangkau suara yang jauh,” katanya.

Pada musim hasil tangkapan ikan melimpah, saat berada di Pelabuhan Perikanan Nusantara bersamaan dengan kedatangan perahu selerek, bisa dipastikan areal pelabuhan tersebut sangat meriah dengan berbagai irama musik dangdut yang berasal dari perahu.

Iringan musik dangdut berirama cepat yang dilontarkan melalui sistem pengatur suara atau sound system dengan biaya cukup mahal, sudah menjadi “tradisi” nelayan perahu selerek di Kabupaten Jembrana.


Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami