Buku

Nasehat Zainuddin Taha Untuk Politisi Sulsel

BTN iklan

Oleh Theo Yusuf Ms
LEI, 7/ 5  Semua orang tentu makfum, jika masyarakat Sulawesi Selatan termasuk masyarakat yang “agamis” atau religius. Itu sebabnya, keberadaan partai-partai yang tidak mendasarkan faktor agama, niscaya akan sulit mencari dukungan.

Partai yang beraliran nasionalis, marhenis dan sosialis marxis misalnya, tidak pernah mendapatkan lahan yang subur di Sulawesi Selatan (Sulsel). Contoh nyata pada Pemilu tahun 1955 hanya Masumi, Nah Dhatul Ulama (NU) PSII dan parkindo yang mendapat kursi perwakilan di badan konstituante. Dengan begitu, faktor agama-lah yang menjadi barometer menentukan pertumbuhan suatu gerakan politik di Sulsel.

Apakah pemikiran itu masih relevan dengan pertumbuhan politik pasca reformasi ini, atau hal itu hanya sebagai kenangan sejarah, hanya waktu-lah yang mencatatnya. Pokok pikiran yang dituangkan Prof. Dr. H. Zainuddin Taha tersebut dapat ditemukan dalam buku Sulawesi Selatan dari A. Achmad Rifai ke Aachmad Lamo tahun 1960-1970. (hlm.50).

Buku yang diterbitkan Badan Pebnerbit Universitas Negeri Makassar dan diberi kata Pengantar Wakil Presiden Jusuf Kalla, bukan hanya memberikan ilmu tambahan kepada masyarakat Makassar tetapi juga para generasi mudanya yang ingin melihat secara dekat akan kiprah Sulsel sebagai bagian yang ikut andil menciptakan kestabilan sosial politik dan ekonomi nasional. Buku itu juga banyak wejangan atau nasehat untuk para generasi penerus di Sulsel jika ingin menjadi politisi yang berkarakter, politisi yang ingin dikenang dan dicatat oleh lingkungannya.

Prof. Zainuddin Taha menyebutnya, Makassar merupakan bagian dari wilayah yang penting untuk menciptakan basis kestabilan politik. Sebutlah misalnya, penempatan Staf Komando Mandala membebaskan Irian Barat tahun 1963 dipusatkan di Sulsel. Irian yang kini berganti Papua mempunyai wilayah sekitar empat kali dari pulau Jawa. Nasib pembangunan Papua kala itu ditentukan dari Makassar. Demikian juga pelaksaan Musabaqoh Tilawatilquran (MTQ) Tingkat Nasional pertama tahun 1968 juga diselenggarakan di Sulsel. Kegiatan itu hingga kini masih terus berlangsung, dan semua orang tidak banyak mengerti bahwa masyarakat Makassar-lah ketika itu yang banyak memberikan dukungan terhadap jalannya kegiatan nasional keagaamaan itu.
Dibidang pertanian, Makassar juga andil dijadikan sebagai pusat intensifikasi dan devesifikasi tanaman untuk swasembada pangan dan peningatan penghasilan devisa, pembangunan dan rehabilitasi prasarana tidak kecil dalam kelangsungan pembangunan hingga kini. (hlm.5).
Taha juga memberikan informasi yang mungkin tidak lagi diingat oleh para mahasiswanya kini. Ia salah satu tokoh mahasiswa yang ikut aktif dalam demo-demo untuk mengoreksi pemerintahan yang tidak “amanah” hingga menurunkannya rezim Orde Lama. Pada titik ini, penulis buku terlibat langsung hingga tampak tidak mampu memisahkan seorang penulis buku dengan seorang pelaku sejarah.

Zainuddin Taha, termasuk Jusuf Kalla yang saat ini sebagai Wakil Presiden adalah pelaku sejarah yang ikut berjuang mengoreksi pemerintahan Orde Lama yang dinilai banyak menyimpang dari pakem demokrasi dan tidak mampu menurunan harga kebutuhan pokok rakyat, tidak mampu membubarkan Ormas politik yang berhaluan PKI, dan perlunya retuling kabinet.

“Semua orang tahu pada waktu itu, bahwa Raifudin Hammarung, Arief Djamaluddin, Saleh Bustami, Mappasera dan penulis sendiri (Zainuddin Taha), termasuk Dr. Husen Anoez, adalah tokoh-tokoh dan pimpinan Kesatuan Aksi Penggayangan G30S/PKI. Mereka itu generasi terbaik di jamannya dalam membendung pengaruh komunisme dan marxixme atau PKI yang gagal melakukan cup tahun 1965.” (hlm. 149).
Para tokoh itu dijadikan mitra Pangdam XIV/Hassanuddin, Brigjen Solichin GP dan Gubernur Kepala Daerah TK 1 Sulsel Achmad Rifai beserta Achmad Lamo. Para tokoh-tokoh tersebut atau angkatan “66” diangkaat pegawai di lembaga eksekutif yang tergabung dalam BPH atau badan pemerintah harian. Kepadanya sering dilibatkan dalam membuat strategi dalam pembangunan sosial dan ekonomi Sulsel yang dampaknya saat ini terlihat wajah Sulsel jauh lebih stabil dan maju dibanding wilayah kawasan timur lainnya.

Sebuah Nasehat.

Jusuf Kalla yang memberikan kata sambutan, tidak hanya mendorong masyarakat Sulsel membaca buku ini. Ia juga meyebutkan, penulis adalah bagian dari pelaku sejarah, karenannya apa yang ditulisnya tidak hanya bersumber dari literasi buku-buku tetapi juga bagian yang dialami dan dilihatnya. Zainuddin Taha adalah sudah aktif mengamati politik saat tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI). Ia juga banyak mengabdi di dunia pendididikan hinggga menjabat sebagai dekan pada alamamaternya, IKIP Negeri Makassar tetapi juga pernah menjabat sebagai Rektor pada Universitas Islam Makassar.

Dalam bentuk nasehatnya, Taha menyampaikan, (hlm. 149-150), semua anggota BPH yang mendapingi Guberbur pertama di Sulsel, Achmad Rifai dan Gubernur terlama Achmad Lamo, para anggota BPH hingga kini tidak pernah berhenti untuk melakukan pengabdian dalam membantu memajukan daerah Sulsel.

Meskipun mempunyai kekuasaan dan peluang yang cukup besar untuk mengkompilasikan kekayaan, mereka tetap tidak tergoda, tidak menyalahgunakan kewenanagan dan jabatannya.

Hasilnya dari semua tokoh itu hingga kini belum ada yang masuk sebagai tahanan tindak pidana korupsi. Sikap koruptif yang ingin menumpuk kekayaan secara cepat, menyalah gunakan kekuasaan demi menambah kekayaan untuk keluarganya itulah yang tidak perlu dilakukan oleh para politisi Sulsel kini dan masa depan jika ingin menjadi politisi yang punya karakter.

Namun banyak orang mungkin kurang sabar dalam meniti karirnya, hingga banyak para pejabat Sulsel yang terperosok dalam jurang kenistaan, yakni berbuat korup hingg banyak dikenal OKB atau ada orang kaya baru dari hasil atau perebuatan yang bertentangan dengan agama yang dianutnya.
Masyarakat Sulsel pada dasarnya cukup relegius, karenanya, para politis seyogiyanya menjaga marwah kereligiusan itu agar menjadi contoh dari para politis daerah lainnya.

Buku yang diterbitkan dalam rangka Ultah Prof. Zainuddin ke 80 tahun, diterbitkan paruh April 2017 yang berisi 174 lembar itu bukan hanya cocok dbaca masyarakat Sulsel. Tetapi juga semua elemen yang ingin mengerti sejarah dan tokoh-tokoh politisi dari Makassar. ***

Penulis, wartawan utama PWI, tinggal di Jakarta.

Perlihatkan Lebih

8 Komentar

  1. I’m impressed, I have to admit. Genuinely rarely should i encounter a weblog that’s both educative and entertaining, and let me tell you, you may have hit the nail about the head. Your idea is outstanding; the problem is an element that insufficient persons are speaking intelligently about. I am delighted we came across this during my look for something with this.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami