Liputan

Naufal Mahfudz : Meski Puasa Tetap Semangat Perangi Covid 19

BTN iklan

JAKARTA , 14/LEI, Direktur umum dan SDM BP Jamsostek, Dr. Cand. Naufal Mahfudz, mengatakan, meski saat ini ada dalam situasi -bulan puasa, dan mendekati hari lebaran tiba, sebagian besar masyarakat jangan sampai lengah dalam memerangi Covid 19, karena grafiknya kian hari masih naik.

Meski upaya memerangi pandemi Covid-19 sudah berlangsung dua bulan, namun masyarakat harus terap semangat, meskipun saat ini ada di bulan puasa dan jelang lebaran, dengan terus disiplin mematuhi seluruh protokol-protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah, katantanya kepada LEI, pekan ini di Jakarta..

Ia yang juga Candidat Doktor dati IPB, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Maghfiroh BPJamsostek mengatakan,  “Jangan kasih kendor. Mungkin itu frasa yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi hari ini dan beberapa hari ke depan, yakni saat pandemi COVID-19 di negeri ini belum juga mereda, dan saat bulan suci Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir,” ujar Naufal.

Kendor atau tepatnya kendur menurut bahasa Indonesia yang baku adalah kondisi yang tidak kencang, longgar atau melemah. Jika melihat data kecenderungan kurva kasus pasien positif COVID-19 di salah satu daerah episentrum penyebaran virus korona beberapa hari terakhir memang melandai dan ada penurunan.

Namun menurut Naufal, masyarakat jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa wabah ini segera berakhir. Jangan-jangan data ini masih sangat fluktuatif. “Bersyukur jika kurva kasus pasien positif COVID-19 di negara kita terus menurun,” ucapnya.

“Lepas dari kontroversi yang dipahami di kalangan masyarakat, kita tidak boleh kendur melawan virus yang belum ada vaksinnya ini,” imbuhnya.

Menurut dia, Pemerintah di satu sisi menyatakan bahwa warga negara yang berusia 45 tahun ke bawah diperbolehkan untuk bekerja kembali pada 11 bidang usaha tertentu. Warga negara pada rentang usia ini diberi prioritas untuk beraktivitas kembali di samping karena tidak termasuk dalam kelompok rentan terpapar COVID-19 juga agar mereka tidak kehilangan mata pencaharian atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Namun, di sisi lain pemerintah juga menyatakan bahwa belum ada produk hukum yang memperbolehkan warga berusia di bawah 45 tahun untuk kembali bekerja. Jadi ketentuan operasional sektor usaha tertentu dalam peraturan pemerintah tentang tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlaku.

Begitu juga tentang larangan operasional transportasi, masyarakat menjadi bingung ketika pemerintah memberikan kelonggaran dengan mengizinkan kepada sejumlah moda transportasi untuk beroperasi mengangkut penumpang antar kota antar propinsi. Di sisi lain pemerintah tetap melarang warganya untuk mudik.

Hal lain tentang anjuran Presiden untuk tetap beribadah di rumah. Pemerintah dan beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewacanakan relaksasi PSBB di rumah ibadah sebagaimana relaksasi yang diberikan untuk sarana perhubungan dan pusat perbelanjaan. Sementara ulama masih tetap menganjurkan untuk beribadah di rumah, termasuk ibadah-ibadah di bulan Ramadan dan Shalat Idul Fitri.

Karena itu, menurut Naufal Mahfudz, saat memasuki 10 hari fase akhir Ramadhan sebaiknya masyarakat jangan kasih kendur dan tetap istiqomah kencang memerangi COVID-19 dengan terus disiplin mematuhi seluruh protokol kesehatan.

 

** dew

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami