LiputanNasional

Nusa Tenggara Timur Waspada Sampah,Ini Pendapat ASITA

BTN iklan

Jakarta/lei – Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur, Abed Frans mendukung pemberlakuan sanksi bagi kapal-kapal yang membuang sampah di wilayah perairan Labuan Bajo sebagai destiansi wisata unggulan nasional.Image result for sampah ntt

“Sudah seharusnya ada sanksi tegas bagi kapal-kapal yang membuang sampah di Perairan Labuan Bajo karena itu sangat mencoreng wajah destinasi wisata unggulan ini,” kata Abed Frans di Kupang, Senin.

Ia mengatakan hal itu terkait pemberlakukan sanski bagi kapal-kapal yang membuang sampah di Labun Bajo sesuai surat edaran yang dikeluarkan Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Labuan Bajo Jasra Irawan beberapa waktu lalu.

Surati edaran itu mewajibkan nahkoda kapal atau agen yang mengurus kapal-kapal untuk mendapatkan Surat Perintah Berlayar (SPB) diwajibkan membawa media plastik penampung sampah yang akan dicatat para petugas.Image result for labuan bajo sampah

Konsekuensi bagi kapal-kapal yang tidak melaporkan atau tidak memiliki catatan membawa sampah dapat disinyalir membuang sampah kapal di tengah laut dan akan diproses sesuai aturan yang berlaku. “Sanksi yang diberikan Syahbandar adalah penundaan keberangkatan terhadap kapal tersebut,” katanya Irawan.

Menurut Abed Frans, sudah semestinya pihak otoritas memberikan sanski tegas bagi kapal-kapal yang membuang sampah di laut saat melakukan perjalanan wisata di sekitar Labuan Bajo.

Apalagi ada sekitar 300 kapal yang setiap hari melayani wisatawan yang berwisata bahari di sekitar perairan Labuan Bajo, katanya.
Image result for labuan bajo sampah
Kapal-kapal ini, menurutnya, meski dikawal ketat sehingga tidak membuang sampah-sampah sisa aktivitas seperti makanan, oli mesin, minyak dan lainnya.

“Harus ada peringatan keras dari pihak otoritas, kalaupun ada yang kedapatan maka diberikan sanksi yang tegas karena wisata Labuan Bajo itu destinasi wisata dunia,” katanya.

Menurutnya, ketika sampah-sampah di daerah wisata yang terkenal sebagai habitat satwa purba komodo (varanus komodoensis) itu dapat ditertibkan maka akan menjawab apa yang dikeluhkan wisatawan selama ini.

“Karena keluhan utama tamu-tamu yang kami layani di ASITA itu yang paling utama masalah sampah baik di Kota Labuan Bajo maupun di perairan kawasan Taman Nasional Komodo,” katanya.

Lebih lanjut, Abed juga berharap agar rencana pengelolaan sampah yang ditangani Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Labuan Bajo bisa segera terealisasi.

“Intinya kalau sampah bisa diatasi maka kami pelaku-pelaku pariwisata juga turut senang karena tamu-tamu wisatawan kita juga puas dan terus berkunjung,” katanya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami