Pailit

Nyonya Meneer Mulai Dijual Oleh Kurator

BTN iklan

Semarang, LEI – Tim Kurator Kepailitan PT Nyonya Meneer mulai melelang aset tersisa dari perusahaan jamu legendaris yang telah berdiri sejak 1919 itu.

Pengacara Tim Kurator Nyonya Meneer, Toni Triyanto mengatakan kepastian lelang ini karena pihaknya telah menyelesaikan appraisal aset pabrik Jamu tersebut.

Meski begitu ia belum bersedia menyebutkan sisa nilai aset yang tersedia mengingat sebagian besar sudah dilelang oleh Bank Papua sebagai pemegang jaminan.

“Untuk aset tidak bergerak di Jl. Letjend Soeprapto akan kami daftakan awal bulan depan ke KPKNL,” kata Toni, Selasa (21/11/2017).

Dia mengatakan selain aset tidak bergerak ini, kurator juga menguasai barang bergerak baik mesin maupun kendaraan serta merek dagang dari produk-produk Jamu Nyonya Meneer.

Selain itu, kata dia, terdapat informasi soal aset Nyonya Meneer yang beralamat di Jakarta, akan tetapi masih dalam tahap verifikasi oleh tim.

Dalam kesempatan terpisah disebutkan aset yang berhasil dilacak meliputi 72 merek dagang, 3 unit kendaraan, dan satu tanah dan bangunan yang tidak dilelang oleh Bank papua karena sudah melebihi sisa utang perusahaan.

Lebih lanjut Toni mengatakan, investor yang berminat menguasai aset ini dapat mulai berkomunikasi dengan tim kurator. Pasalnya untuk beberapa aset sudah terdapat investor yang menyatakan minatnya. Apalagi tidak semua aset akan dilelang melalui kantor KPKNL.

“Beberapa calon pembeli sudah masuk,” katanya.

Pengacara yang mewakili buruh, Paulus Sirait mengharapkan kurator bertindak lebih dalam menyusuri aset perusahaan. Dia mengatakan berdasarkan keputusan renvoi pengadilan, hak buruh yang dia wakili yang harus dibayar oleh perusahaan mencapai Rp58 miliar.

“Kami menunggu langkah kurator,” katanya.

Nyonya Meneer diputuskan pailit pada Kamis (3/8) lalu. Pengadilan Niaga Semarang menyatakan perjanjian perdamaian No.01/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Smg tertanggal 8 Juni 2015 batal. Dengan pembatalan homologasi ini maka PT Njonja Meneer dinyatakan pailit.

Sejumlah pihak menyatakan tertarik menyelamatkan perusahaan. Akan tetapi, setelah Bank Papua sebagai kreditur pemegang jaminan berhasil mengeksekusi haknya, maka minat investor menghidupkan kembali pabrik jamu itu pupus.

Sebelumnya Hakim Pengadilan Niaga Semarang mengabulkan gugatan 58 buruh PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer).

Para buruh ini mengajukan gugatan keberatan atas bantahan tagihan yang dilakukan oleh tim kurator melalui upaya renvoi procedure.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang dipimpin Pudjo Hunggul mengabulkan seluruh gugatan Suprapti dan kawan-kawannya.

Ketua Peradi Semarang, Theodorus Yosep Parera yang mendampingi perkara tersebut mengatakan, gugatan para karyawan ini dikabulkan seluruhnya oleh majelis hakim.

Gugatan yang dimaksud adalah menyatakan total tagihan kliennya sebesar Rp 2.080.305.470 yang masing-masing tagihan rata-rata Rp 36 juta per karyawan.

Yosep juga memohon kepada majelis hakim untuk mengabulkan gugatan renvoi untuk seluruhnya dan meminta hakim menyatakan kliennya sebagai kreditur prefen.

“Pastinya kami bersyukur gugatan dikabulkan seluruhnya. Dalam gugatan kami juga meminta hakim menghukum kurator untuk membayar biaya perkara dan memasukkan tagihan uang itu ke dalam daftar tagihan kepailitan,” kata Yosep Parera, Minggu (19/11/2017).

Meski memenangkan gugatan, namun kemenangan itu dianggap kurang maksimal.

Menurutnya, sejumlah aset yang dimiliki oleh Nyonya Meneer yang dijaminkan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua dikabarkan telah dilelang oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang.

-dari berbagai sumber-

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami