EntertainmentLifestyle

Odapus: Saya ‘Sembuh?’

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Tak banyak orang tahu jika lupus merupakan penyakit yang tak bisa disembuhkan. Dewi (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu odapus (sebutan untuk penderita lupus) yang mengaku ‘sembuh’ dari penyakit yang telah diidapnya sejak lama.

“Aku enggak yang lupus-lupus banget lho tapi. Cuma ringan saja dan sekarang sudah sembuh,” klaimnya saat dihubungi.

Pesan tersebut terdengar mengejutkan bagi penderita lupus. Terlebih odapus sebenarnya tidak bisa dinyatakan sembuh total dari penyakitnya.


Lupus merupakan penyakit yang mengharuskan penderitanya untuk terus mengonsumsi obat– meski ada juga yang bisa lepas obat.

Lantas, mengapa Dewi bisa mengklaim sudah sembuh dari lupus?

Dewi mengakui jika sebenarnya ia tidak pernah dinyatakan sembuh total. Namun, sejauh ini ia merasa tanda-tanda lupus akan kambuh kian jarang sehingga memberanikan diri klaim telah ‘sembuh’.

“Sebenarnya aku enggak pernah dinyatakan sembuh, cuma aku merasa sudah tidak apa-apa,” ucapnya.

Lepas dari semester 5 di bangku kuliah, ia menegaskan dirinya terlepas dari lupus. Ia pun mulai memberanikan diri untuk bergabung dengan komunitas dance tanpa ada rasa khawatir.

Kesibukannya sebagai staf pemasaran membuat ia harus menanggalkan hobi dance. Saat ini ia bisa mengklaim kondisi kesehatannya jauh lebih terkendali.

Berupaya tegar ketika divonis lupus

Sebelum mengklaim ‘sembuh’ dari lupus, Dewi menuturkan kisahnya ketika pertama kali divonis mengidap lupus. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, ia kerap merasa kelelahan hingga berujung demam.

Tak jarang rasa kelelahan juga disertai sariawan, rambut rontok, hingga ruam merah di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya.

Pelajaran olah raga dan tata boga juga kerap dilewatkan, meski bagi sebagian besar anak mata pelajaran tata boga tak terasa memberatkan. Kondisi itu membuatnya harus bolos hampir 15 hari tiap semester.

“Kalau dilanjut lagi kelas, enggak bisa konsentrasi karena capek banget,” jelasnya.

Setelah mengalami demam tanpa penyebab jelas dan linu persendian, Dewi akhirnya dirujuk untuk pemeriksaan laboratorium. Awalnya, hasil pemeriksaan kesehatan Dewi disembunyikan sang ayah agar tak membuatnya merasa sedih. Bermodal nekat, ia mencari hasil lab dan mendapati dirinya divonis mengidap lupus.

Meski tak mendapat banyak penjelasan dari dokter, Dewi menyebut lupus yang diderita sebenarnya tergolong ringan.

“Mungkin papa enggak mau aku tahu kalau aku sakit. Dia yang paling sedih tapi aku mencoba biasa saja karena aku sudah merasa dari awal kalau aku sakit,” katanya.

Tak mau larut dalam kesedihan, ia mencoba biasa saja– meski hal itu justru memicu kekhawatiran dari orang sekitar. Dukungan dan harapan untuk sembuh selalu mengalir dari lingkungan.

Pihak sekolah kemudian memutuskan untuk memindahkan Dewi dari kegiatan pleton inti ke tonti ke paduan suara demi menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Kepindahannya itu dilakukan tanpa melalui pendaftaran atau prosedur tertentu.

Demi menekan rasa sedih, keluarga juga kerap membawanya menikmati makanan favorit selepas kontrol ke dokter. Upaya ini sekaligus menjadi cara bagi keluarga dan sahabat mengenal seluk beluk lupus.

“Mereka awalnya belum aware (sadar) tapi ya lama-lama pada cari tahu,” ucapnya.

Mengetahui fakta dirinya sebagai odapus membuat Dewi harus mengonsumsi berbagai jenis obat. Ia juga diharuskan tidur paling malam pukul 20.00 WIB. Jika kurang istirahat, akan bahaya efeknya bagi kondisi tubuh dan pernapasan.

“Obat seharusnya diminum tiap hari tapi setelah aku merasa lebih baik lalu obat jarang kuminum,” akunya.

Odopus kerap dipandang sebelah mata

Meski mendapat dukungan dari orang terdekat, Dewi tak menampik jika ia kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungannya. ‘Stempel’ sebagai orang penyakitan kerap melekat di dirinya.

Lupus juga membuat sebagian orang tak memperbolehkannya mengikuti suatu kegiatan. Menghadapi hal itu, ia hanya bisa pasrah.

“Mau ikut acara-acara, mau berkegiatan selalu susah diterima karena aku dianggap penyakitan. Tapi emang penyakitan sih jadi ya sudah, mau gimana lagi,” tuturnya.

Namun begitu, semakin lama ‘berteman’ dengan penyakitnya Dewi mengakui kian mengenali kondisi dan tanda-tanda penyakit antiimun ini akan kambuh. Stres hingga sulit tidur jadi tanda awal lupus akan menghampiri.

Jika sudah menghadapi kondisi tersebut, ia memilih untuk lebih tenang dan menjauhkan diri dari stres.

“Untuk teman-teman odapus, jangan stres, tenang, pelan-pelan. Hidup cuma sekali, lakukan apa yang membuatmu bahagia,” ucapnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami