Liputan

OJK Beri Sanksi Tiga Perusahaan Asuransi

BTN iklan

PERMODALAN BERBASIS RISIKO

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan sanksi bagi tiga perusahaan asuransi yang memiliki tingkat solvabilitas permodalan berbasis risiko di bawah 120%.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan sanksi diberikan secara otomatis jika perusahaan asuransi memiliki solvabilitas atau risk based capital (RBC) di bawah ketentuan.

Menurutnya, sanksi berupa teguran dari otoritas itu diharapkan menjadi pegangan direksi untuk mengajukan penambahan modal ke pemegang saham.

“Sudah dikirim teguran, begitu di bawah 120% langsung dikirim,” kata Firdaus, Kamis (12/5).

Dalam laporan kinerja triwulan I/2016, OJK mencatat terdapat tiga perusahaan asuransi yang memiliki tingkat solvabilitas di bawah 120%. Dari jumlah itu, dua perusahaan merupakan asuransi jiwa sedangkan satu perusahaan berasal dari asuransi umum.

Selain itu, otoritas juga mencatat 12 perusahaan asuransi umum memiliki tingkat RBC 120%-150%. Sedangkan di asuransi jiwa terdapat lima perusahaan dengan RBC 120%-180%.

Firdaus mengatakan, untuk perusahaan yang RBC-nya sudah mendekati batas bawah, pihaknya sudah mengingatkan manajemen. Rendahnya RBC akan membuat perusahaan kesulitan ekspansi.

“Secara keseluruhan RBC industri sangat baik, di atas 200%,” katanya.

Dia mengatakan turunnya RBC perusahaan asuransi harus dilihat lebih dalam, ada kalanya disebabkan pencadangan klaim yang naik atau dapat juga piutang premi yang tidak dapat ditagih. Untuk itu otoritas meminta rencana penyehatan kepada manajemen dan pemilik.

“Namun kalau sudah ketiga kali, akan dilakukan fit dan proper ulang” katanya.

Firdaus mengatakan, meski belasan perusahaan asuransi dengan RBC mendekati batas ketentuan merupakan kategori ekuitas di bawah Rp1 triliun, OJK tidak akan memaksa pemegang saham untuk meningkatkan modalnya.

Dia mengatakan, bagi otoritas yang diutamakan dalam perusahaan asuransi meski memiliki aset kecil namun dalam kondisi sehat. “Mepet tidak masalah,” katanya.

Yasril Y. Rasyid, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mengatakan, jika memiliki RBC di bawah 120% maka pemegang saham akan diminta menambah modal. Dia mengatakan seringkali penyebab anjloknya RBC dikarenakan adanya mismanagement ataupun klaim yang tidak dicatatkan.

“Tahun lalu pun ada kejadian yang serupa, kemudian dilakukan penambahan modal,” katanya.

Maryoso Sumaryono, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, mengatakan dengan berpatokan kepada data OJK artinya kondisi industri masih cukup bagus. Pasalnya dari 50 perusahaan asuransi jiwa, hanya dua perusahaan yang memiliki RBC di bawah 120%. Itu pun bisa di atas 100% namun masih di bawah 120% yang menunjukkan perusahaan dapat memenuhi seluruh kewajiban jika perusahaan harus ditutup seketika. (Bisnis Indonesia)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami