Liputan

OJK Dorong Prinsip Kolaborasi Fintech

BTN iklan

Jakarta, LEI/Antara – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyerukan semangat kerja sama antara perusahaan teknologi finansial (fintech) dan produk layanan keuangan perbankan berbasis teknologi.

“Prinsipnya yang ingin kami dorong adalah semangat kolaborasi, karena hal tersebut bisa mempercepat (perkembangan fintech),” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad di acara Indonesia Fintech Festival & Conference di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten, Senin.

Kerja sama antara perusahaan startup fintech dan institusi keuangan yang ada, seperti bank dan asuransi juga memudahkan dalam mitigasi risiko terkait isu-isu teknologi finansial yang selama ini beredar mengenai perlindungan konsumen dan risiko teknologi.

“Kalau fintech kerja sama dengan yang sudah ‘existing’ maka akan cepat (berkembang), sekaligus memitigasi risiko lebih mudah karena bagian dari pengawasan yang sudah ada,” kata Muliaman.

Dia berharap Indonesia Fintech Festival & Conference dapat menjadi ajang bagi pemerhati dan pemangku kebijakan untuk berdialog dan berkontribusi positif bagi perkembangan fintech di Indonesia, terutama terkait aspek kolaborasi.

“Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat dan efisiensi layanan jasa keuangan,” ucap Muliaman.

Eksistensi fintech sendiri telah berkembang sejak dari keberadaan anjungan tunai mandiri (ATM) perbankan pada era 1950-an hingga era internet pada era 1990-an yang menjadi awal masuknya fintech generasi baru.

Pada awal 2000-an, dunia memasuki era fintech yang memungkinkam kapitalisasi informasi yang memunculkan layanan jasa keuangan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi mutakhir.

Perusahaan konsultan manajemen global Accenture menyebutkan investasi fintech secara global pada 2016 mencapai 5,3 miliar dolar AS.

Sementara itu, persentase investasi fintech di Asia Pasifik pada tiga bulan pertama 2016 meningkat lima kali pada periode yang sama tahun lalu, atau dari 400 juta dolar AS menjadi 2,7 miliar dolar AS yang mana sebagian kontribusinya dari China.

Muliaman menyebutkan pemerintah saat ini terus mengamati perkembangan fintech tersebut sekaligus terus bekerja memanfaatkan keunggulan yang ada untuk bekerja ke arah industri fintech yang memberdayakan masyarakat.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami