HEADLINESInternasional

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Kurang Transparan Dengan Taiwan

BTN iklan

Jakarta, 20/3 (LEI) Epidemi coronavirus (COVID-19) terus menyebar di seluruh dunia, dengan lebih dari 180.000 kasus yang sudah terkonfirmasi di seluruh dunia dan lebih dari 7.000 yang meninggal (data per tgl 16 Maret).

Namun Taiwan yang dapat berfungsi sebagai model global untuk pencegahan epidemi tidak dapat bergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau berpartisipasi penuh dalam mekanisme pencegahan epidemi itu karena halangan politik internasional yang mematuhi “Prinsip satu Cina”, termasuk didalamnya WHO, kata siaran pers dari Taipei Economic and Trade Office (TETO), di Jakarta, pekan kemarin.

“WHO tidak mengetahui fakta dan berulang kali berbohong kepada dunia luar dengan mengatakan bahwa Taiwan dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam pertemuan dan kegiatan yang relevan.”

Tetapi Taiwan sering mendapatkan informasi yang kurang transparan dari WHO, sehingga sulit membantu pencegahan epidemi global sekaligus merusak citra profesional WHO.

Pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi lebih dari 134 kasus yang positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia.

Dalam menghadapi virus yang mengancam ini, komunitas internasional harus memperkuat kerja sama dan memperkuat sistem pencegahan kesehatan masyarakat global.
Setelah terjadinya epidemi COVID-19, Taiwan secara berkala terus melaporkan dan secara aktif menyerukan WHO agar bisa berpartisipasi dalam semua konferensi dan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan epidemi, tetapi WHO selalu mempersulit.

Contohnya, Taiwan belum diundang untuk berpartisipasi dalam tiga pertemuan Komite Darurat Pneumonia Korona Baru yang diadakan oleh WHO pada Januari tahun ini, dan sejauh ini belum diundang untuk berpartisipasi dalam “jaringan Lab” (Lab network). Selain itu, WHO mengadakan “Forum Penelitian dan Inovasi Global” (Global Research and Innovation Forum) tgl 11 dan 12 Februari, berkat upaya Taiwan terus menerus, Sekretariat WHO hanya setuju mengizinkan para ahli Taiwan untuk berpartisipasi secara online sebagai “status individu”.

Oleh sebab tidak adanya komunikasi dengan para ahli dari berbagai negara, Taiwan tidak bisa berbagi pengalaman anti-epidemi di lini pertama. Selain itu, Taiwan rutin melaporkan kasus yang sudah terkonfirmasi melalui Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) ke contact window yang ditunjuk Sekretariat WHO.

Namun, contact window ini bukan ditangani oleh ahli medis kesehatan, mereka hanya bertanggung jawab mengirimkan informasi ke unit teknis WHO.

Contact window WHO tidak pernah menanggapi Taiwan, dan sama sekali tidak memberikan informasi terkait pencegahan epidemi ke Taiwan. Namun, WHO berulang kali menyatakan bahwa mereka telah sepenuhnya memasukkan Taiwan dalam konferensi dan mekanisme yang relevan.

Pernyataan ini ibarat “apa yang disampaikan berbeda dengan yang dilakukan “, WHO begitu mudahnya bermuka dua terhadap komunitas internasional, bahkan belum ada kejujuran terhadap Taiwan.

Pejabat tinggi dari Amerika Serikat, Jepang, Kanada, dan Uni Eropa telah secara terbuka meminta WHO untuk menerima Taiwan. Hasil pencegahan epidemi Taiwan yang baik telah dipuji oleh banyak media di berbagai negara. Sebagai contoh, Harian KOMPAS di Indonesia memuat dua berita tentang keberhasilan pencegahan epidemi di Taiwan yang perlu di contoh.

JAMA, sebuah jurnal medis terkenal di Amerika Serikat, mengemukakan pencegahan epidemi Taiwan sebuah model yang bisa ditiru untuk melindungi kepentingan warga negara.
British Daily Telegraph melaporkan bahwa Taiwan adalah “level emas pencegahan epidemi”. Berita Dunia Prancis mengklaim Taiwan teladan dalam pencegahan terhadap virus corona.

Asahi Shimbun dari Jepang menyatakan tindakan lebih awal merupakan kunci penting keberhasilan pencegahan epidemi di Taiwan. Korea Selatan Weekly Chosun mengatakan inilah yang membedakan kemampuan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Chen Shih-chung dengan Korea Selatan dalam hal menangani pencegahan epidemi, kata laparan itu.

Lebih dari 300.000 orang Indonesia dan banyak warga asing lainnya yang tinggal di Taiwan. Taiwan tidak seharusnya dikesampingkan dalam sistem pencegahan epidemi global.

Pengalaman berharga Taiwan dalam pencegahan epidemi diharapkan dapat berbagi dengan negara lain di seluruh dunia melalui mekanisme WHO.

Taiwan menyerukan kepada Indonesia dan negara-negara lain untuk mendukung Taiwan berpartisipasi sebagai pengamat WHA, dan berseru kepada WHO untuk menepati janjinya mengikutsertakan Taiwan ke dalam jaringan pencegahan epidemi WHO, sehingga para pakar Taiwan dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam pertemuan teknis dan kerja sama terkait demi kesejahteraan umat manusia.
***

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami