HEADLINESOpini

Pagebluk Koreksi Bumi Kepada Penguasa Lalim

Oleh Dr. Laksanto Utomo dan Theo Yusuf

BTN iklan

 

JAKARTA, LEI, – Saat ini dunia dicemaskan peredaran Covid-19. Istilah itu merujuk pendapat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus awal Februari silam. Ia memperkenalkan secara resmi. Wabah penyakit yang berasal dari Wuhan China, disebutnya Covid-19, sebuah akronim dari co = corona, vi = virus, d bermakna untuk penanda penyakit. Sedang angka 19, diambil dari saat penyakit itu dindentifikasi oleh para ahli akhir Dember 2019.

“Nama dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, Wuhan. Dengan begitu tak ada stigma Wuhan indentik dengan Covid 19.”
WHO sebelumnya memberikan nama penyakit pernafasan akut 2019-nCoV, sementara Komisi Kesehatan Nasional China menyebutnya penyakit novel coronavirus pneumonia” atau NCP.

Di sebagian masyarakat Jawa Kuno, termasuk masyarakat sedulur Sikep, di Kudus Jawa Tengah, adanya virus seperti ini tidak kaget karena sebelumnya juga pernah terjadi di sebagian tanah Jawa dan daratan dunia lainnya. Masyarakat Sikep percaya, virus akan selalu muncul saat masyarakat tak lagi ramah dengan alam, saat para pemimpin mulai lalim dengan rakyatnya. Maka Bumi akan hadir mengadilinya dengan caranya sendiri, kata seorang tokoh Sikep.

Lebih kurang 100 tahun silam 1918-1920, di wilayah Jawa hingga belahan Eropa juga AS, terserang wabah kutu yang berasal dari tikus hitam. Kebanyak orang Jawa, saat itu menyebutnya penyakit pes. Korban berjatuhan hingga mencapai kurang lebih 50 juta jiwa. Sehingga banyak orang berburu tikus. Tikus hitam, dikambing hitamkan. Diburu untuk dimusnahkan karena menggap ia adalah biang keladinya. Ini mungkin mirip seperti sebagian masyarajat Jawa yang belum lama ini melakukan perburuan kelelawar yang konon dinilai sebagai biang kerok dari munculnya virus covid 19. Perburuan tikus hitam dimasa silam dan perburuan kelelawar belum lama ini, tak lebih dari sebuah bayangan kosong, namun diyakni oleh banyak orang.
Demikian pula banyak pemimpin melakukan berbagai istilah, “lockdown”, karantina wilayah, social distancing, dan lain sebagainya, diharapkan menekan laju penyebaran virus jahat itu.

Dengan demikian apakah orang yang tinggal dirumah, selalu mencuci tangan dan menggunakan masker tidak kena serangan covid ? Belum ada fakta impiris, namun cara itu diyakni oleh banyak pemimpin dapat mengendalikan penyebaran covid ke berbagai tempat secara masif. Sebaliknya apakah orang yang selalu bersentuhan dengan para pasien covid juga pasti dapat tertular ? Itu pun juga belum ada penelitian empirisnya. Yang pasti covid 19 memberikan pelajaran, orang-orang pinggiran seperti sedulur Sikep, pesuruh (office boy) dan para penggali kubur sebagai guru “keimanan” yang baik. Merekalah justru yang paling berani menghadapi wabah itu.

Pengadilan Bumi

Pagebluk istilah sastra Jawa, yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Melayu. Kamus Bahasa Indonesia dan Jawa sulit dicari arti “Pagebluk” namun istilah itu, kata Eko Edarmoko, dalam Tesaurus bahasa Indonesia, disebutnya sinonim Jawa, yang merujuk pada pandemi wabah atau “taun” seperti saat covid 19 ini.

Dalam langgam yang dilantunkan oleh para Kartini Sikep, munculnya covid itu sebagai ruang pengadilan bumi yang digelar diberbagai negara. Negara-negara yang selama ini melakukan pengerukan tambang untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Mereka mengambil kekayaan bumi atas nama negara, sehingga sulit dikoreksi dan dikontrol. Maka bumi protes, dan akhirnya membuat ruang sidang pengadilan untuk mereka yang dinilai “lalim”.

Orang yang terserang relatif cepat akan meninggal, sehingga membuat kekacauan sosial, dan ekonomi. Harga bahan pokok mengalami kenaikan, pengangguran naik, tingkat orang stres, takut keluar juga naik. Mereka takut “bayangan”. Jika keluar akan terkena serangan virus, hingga mereka mengurung diri di dalam rumah-rumah.

Akibatnya pasok bahan pokok berkurang sementera permintaan terus naik. Para nara pidana menunut untuk segera di keluarkan, orang-orang miskin menuntut kehadiran negara, bayang-bayang kekacauan seolah tampak di depan mata. Situasi seperti ini oleh sebagian masyarakat sedulur Sikep, disebut jaman “Pagebluk”. Jaman sulit karena ada serangan wabah, sementara para dukun dan dokter tak mampu lagi mengobati atau mencarai vaksin penangkal secara cepat.

“Sethitik kang den tindakna // Ibu Bumi nyata wiwit ngadili // Ingkang wujud pagebluk //
Kanti aran corona// Gawe goreh sedayanya dadi bingung // Wis akih ingkang pralaya //
Larang pangan nguwatiri //”

Akibat tindakan para pemimpin yang lalim itu membut sulit masyarakat karena musim pagebluk akhirnya datang juga dan membuat “larang pangan nguwatiri”, atau harga bahan pokok akan mengkhawatirkan karena akan terjadi kelangkaan.

“Ewodene tetep ana // Sing paring lilah ngkrusak Ibu Bumi // Nambang den prentah trus laju //
Kroso yen banget nantang // Apa iki melu sing katut dikukut // Amung ngenteni sangat //
Corona bakal mungkasi //

Kalimat itu tampaknya punya nada memberi tahu. Tetapi juga mengancam kepada para pemimpin, para pembuat keputusan, jika tidak ramah dengan ibu bumi, hati-hati virus corona akan menerjangnya. Bumi lewat corona akan memberikan putusan terbaiknya.

Mereka para sedur Sikep itu percaya, jika pengadilan bumi digelar, tak ada satu orang jua-pun dapat menghentikan laju pembalasannya, kecuali atas ijin dari yang Maha Kuasa.

Kini virus itu sudah merenggut nyawa lebih dari 123.10 ribu orang dan tak kurang dari 2 juta orang dinyatakan positif terkena serangan covid 19, versi data WHO, pekan silam.

Lembaga independen di AS juga menyebutkan, per 14 April 2020, Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai negara adidaya dalam berbagai hal, tak mampu membendung wabah itu masuk di wilayahnya. Bahkan prosentase antara yang terkena dan yang meninggal, tingkat korbannya menempati urutan pertama setelah, Spanyol dan Italia. AS dikabarkan sudah mencapai 26,42 kasus kematian, Spanyol 18,579, Italia 21,069, Perancis 15,729 dan Jerman mencapai 3,521 orang.

Lima negara yang menempati urutan teratas itu mengalahkan China, sebagai negara yang mula pertama tertempa virus. AS dan negara di kawasan Eropa, selama ini terkenal dengan kemajuan teknologi tinggi, ekonomi dan peradabanya maju. Mereka cukup menjaga kebersihan diri. Namun dalam kaitan ini, dari lima negara itu juga belum ada yang mampu mengeluarkan vaksin secara cepat, layaknya mereka melakukan pengerjaan proyek tambang, pelepasan roket dan rudalnya kepada negara yang diangap menghalangi kepentingannya.

Indonesia juga termasuk negara yang kena dampak, meski tidak separah dari negara kawasan Eropa karena hingga kini jumlah meninggal hanya mencapai sekitar 469 orang dari 5,136 orang yang dinyatakan terpapar. Intinya, virus itu gaknya tidak takut dengan para pemimpin, ulama, pendeta dan pedande. Orang yang selalu di rumah, di jaga kebersihannya, menggunakan masker -pun juga banyak yang kena serangan virus itu.

Namun sebaliknya, para office boy yang selama ini membersihkan rumah isolasi bagi mereka yang terpapar, ruang rumah sakit bagi mereka yang telah dinyatakan positif, bahkan sering melakukan “diskusi” santai dengan para pimpinan yang terpapar itu, hingga kini banyak yang sehat termasuk keluarganya tidak tertular. Bahkan mereka bangga dapat membantu para pejabat atau orang-orang yang terpapar.

Sekilas penuturan penggali kubur di Padurenan Bekasi Jawa Barat, Fadli Muhammad (28). Setelah merebaknya covid 19, di Bekasi sudah dipastikan ada jenasah yang dikubur minimal 3-4 orang. Jenasah yang dikirim dari berbagai rumah sakit itu, dikubur dengan prosedur covid 19, yakni menggunakan helem, masker, sarung tangan dan peralatan lainnya.

Fadli penggali kubur sudah 12 tahun, dimana selama ini, setiap ada jenasah yang diantar ke pekuburan, tidak ada ketakutan. Tak ada bayang-bayang ketakutan tertular wabah. Namun untuk ini kali, bayang-bayang akhirnya datang juga, saat ada jenasah tanpa diantar oleh keluarganya. Tanpa di bungkus dengan peti mati.

Ia bersama teman sejawat, sudah berusaha mencari peti mati dan menyampaikan kepada keluarganya. Namun peti tak didapat dan keluarga pun cuma bilang tolong dikubur dan dikasih tanda, karena suatu saat kami akan mencarinya. “Kelaurga yang kami hubungi tak bersedia datang. Mereka hanya berpesan agar makam pekuburannya ditandai,” ucap Fadli, seraya menambhkan, nanti akan dicari.
Kisah pilu ini terjadi di sekitar kita. Untung Fadli bersama Twel, dan kawan-kawan, punya iman tinggi, bahwa Allah memerintahkan untuk tetap memulyakan semua jenasah yang akan dikubur. Berbekal dari keyakinan itulah mereka sepakat untuk mengubur jenasah, tanpa peti mati dan tanpa iringan keluarganya. Al hamdulilah, Fadli dan kawan-kawan hingga kini mengaku tetap sehat begitu pula keluarganya, tak ada covid yang menempel secara ganas.
Keyakinan sedulur Sikep, suku Samin di daerah Kudus, yang menyakini wabah itu sebagai pengadilan bumi untuk menyadarkan para pemimpin untuk tidak semana-mena kepada lingkungannya, mengabaikan kearrifan lokal, dengan mengatasnamakan negara bebas melakukan pengerukan perut bumi, saatnya untuk menjadi refleksi kita dalam memaknai hidup dan kehidpan.

Begitu pula para office boy, dan penggali kubur yang dengan gagah berani memulyakan para jenasah saat keluarga tak punya empati, dapat menjadi guru yang baik dalam kehidupan kita kini dan mendatang. Semoga covid 19 segera serna, dan makna keberadaan covid dapat dijadikan refleksi kehidupan kita.

*) Dr. Laksanto Utomo, dosen FH Usahid Jakarta, dan Theo Yusuf, Ms, keduanya sebagai peneliti di Lembaga Hukum Indonesia, Jakarta.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami