HukumPolitik

Panitera PN Jakpus Dituntut 7,5 tahun Penjara

BTN iklan

Jakarta/Lei – Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Muhammad Santoso dituntut 7,5 tahun penjara karena dinilai terbukti bersama-sama dengan dua hakim PN Jakpus Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya menerima suap 28 ribu dolar Singapura.

Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi Ali Fikri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu, juga menuntut Muhammad Santosa dihukum denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan.

“Kami penuntut umum dalam perkara ini menuntut supaya majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi yang mengadili perkara ini memutuskan terdakwa Muhammad Santoso telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa berupa pidana penjara selama 7 tahun dan 6 bulan dan denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan,” kata Ali Fikri.

Pasal itu berdasarkan dakwaan primer pasal 12 huruf c UU No 31 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

“Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa selaku bagian penegak hukum yang diberi kepercayaan sebagai panitera pengganti telah mencederai kepercayaan masyarakat Indonesia ke lembaga peradilan sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi. Perbuatan terdakwa telah mencoreng institusi peradilan di lingkungan Mahkamah Agung yang sedang giat-giat melakukan upaya pemulihan kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan, khususnya terhadap praktik suap menyuap,” tambah jaksa Ali.

Tim JPU KPK menilai bahwa Santoso bersama-sama dengan Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya terbukti menerima suap seluruhnya sebesar 28 ribu dolar Singapura dari pengacara Raoul Adhitya Wiranatakusumah dan stafnya Ahmad Yani agar memenangkan perkara PT Kapuas Tunggal Persada (KTP) melawan pihak penggugat PT Mitra Maju Sukses (MMS).

“Tampak sikap batin pelaksana dan teman para pelaksana yang dalam bentuk penyertaan diam-diam atau ‘sukzessive mittaterschaft’ antara Muhammad Santoso dengan Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya terkait penerimaan janji berupa uang dari Raoul dan Ahmad Yani di mana tidak perlu ada ‘meeting of mind’ di antara Santoso, Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya melainkan cukup dengan saling pengertian antara Santoso, Raoul Adhitya dan Ahmad Yani,” tambah jaksa Ali.

Hal itu tersirat dalam percakapan pada 30 juni 2016 setelah putusan saat saksi Casmaya menanyakan kepada terdakwa ‘bagaimana itu Raoul?’ dan tidak menanyakan ‘bagaimana kuasa hukum penggugat?’ sedangkan pihak yang tidak diuntungkan dari putusan majelis hakim adalah penggugat yaitu PT MMS.

Hal itu ditindaklanjuti Santoso dengan menanyakan realisasi pemberian janji berupa uang ke Raoul melalui Ahmad Yani.

Uang itu diambil Santoso pada 30 Juni 2016 di kantor Raoul dalam dua amplop terpisah dengan tulisan “HK” berisi uang 25 ribu dolar Singapura untuk majelis hakim dan tulisan “SAN” berisi uang 3.000 dolar Singapura untuk bagian Santoso.

“Keterangan terdakwa Santoso yang menyatakan uang itu untuk utang dibuat-buat karena tidak ada satupun saksi yang mengatakan berbicara ke terdakwa dan mengatakan terdakwa punya utang dan dari bukti petunjuk tidak sepatah katapun dari terdakwa yang mengatakan harus melunasi utang dan kebutuhan terdakwa untuk segera melunasi utang tersebut,” kata JPU M Takdir Suhan.

Uang itu diberikan Raoul setelah Raoul dan Ahmad Yani datang ke ruang Santoso dan menuliskan 25 ribu dolar Singapura dengan panah “H” dan 3 ribu dolar Singapura dengan tanda panah “PP”, barulah Santoso mendatangi Casmaya dengan mengatakan ‘Pak besok Raoul akan datang menghadap’.

“Keterangan itu tidak bisa diterima akal sehat karena penerimaan uang itu terjadi setelah terdakwa menginformasikan kepada hakim yang menagani perkara tersebut. Keterangan terdakwa juga tidak konsisten dengan keterangan Raoul yang mengatakan bahwa Raoul dan terdakwa sepakat bahwa uang untuk hakim Rp250 juta dan Santoso Rp30 juta yang akan dibentuk dalam dolar Singapura berdasarkan bukti petunjuk 22 Juni 2016. Raoul benar memberikan uang dan berterima kasih kepada Partahi karena sudah selesai menerima janji dari Raoul,” ungkap jaksa Takdir.

Artinya menurut jaksa, uang sudah beralih penguasaannya dari Raoul ke Santoso sehingga unsur menerima hadiah telah terpenuhi.

Atas tuntutan tersebut Santoso akan mengajukan pembelaan pribadi dan juga melalui penasihat hukumnya pada pekan depan.

Terkait perkara ini, Raoul Adhitya Wiranatakusumah sudah divonis 5 tahun ditambah denda Rp150 juta subsider 3 bulan sedangkan Ahmad Yani divonis 3 tahun ditambah denda Rp100 juta subsider 2 bulan kurungan.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami