Internasional

Papua Nugini Kembali Usir Pencari Suaka Dari Kampung Pengungsi

BTN iklan

Sydney,(Lei) – Polisi Papua Nugini kembali ke gugus penahanan kelolaan Australia pada Jumat pagi, menandai hari kedua gerakan besar membersihkan lebih dari 300 pencari suaka, yang menolak pergi, kata sumber.

Pusat penahanan Pulau Manus ditutup untuk mencegah pasokan mencapai kampung itu setelah kebuntuan tiga minggu, dengan bus pengangkut pencari suaka pergi ke pusat singgah lain di pulau tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak pemerintah Australia dan Papua Nugini melakukan perundingan dan mengurangi ketegangan.

Pencari suaka menimbulkan kekhawatiran akan keadaan di pusat singgah dan mereka terancam dimukimkan kembali di Papua Nugini atau negara berkembang lain jika pindah.

Sekitar 60 pencari suaka tiba di salah satu pusat singgah dengan bus pada Jumat, kata pencari suaka dan wartawan Kurdi Behrouz Boochani dalam pesan tertulis.

Gambar yang dikirim menunjukkan pencari suaka di minibus dan pejabat Papua Nugini mengenakan seragam tentara di dalam kamp.

“Polisi ada di tempat kita sekarang,” kata pengungsi Sudan Abdul Aziz dalam sebuah pesan teks pada Jumat pagi.

Pada Kamis sekitar 50 pencari suaka meninggalkan pusat tersebut, setelah polisi memasuki perkemahan dan menurut orang-orang menyita makanan, air dan barang-barang pribadi.

Sebagian besar dari warga negara Afghanistan, Iran, Myanmar, Pakistan, Sri Lanka dan Suriah, para pria tersebut berada di kamp di bawah kebijakan imigrasi “perbatasan berdaulat” Australia, di mana Australia menolak mengizinkan pencari suaka tiba dengan kapal untuk mencapai pantainya.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengatakan pada Jumat bahwa tindakan polisi tersebut tidak akan merusak posisi Australia di wilayah tersebut.

“Faktanya, negara-negara menghormati sikap kita melawan penyelundupan manusia,” kata Bishop kepada Siaran Radio Australia.

Tahun lalu, Pengadilan Tinggi Papua Nugini memutuskan bahwa pusat penahanan tersebut, yang pertama kali dibuka pada 2001 dalam usaha membendung aliran pencari suaka yang melakukan pelayaran berbahaya dengan kapal ke Australia, melanggar hak asasi manusia mendasar yang menyebabkan keputusan untuk menutupnya.

Tidak jelas apakah tindakan polisi pada Jumat akan membersihkan kamp tersebut, di mana orang telah dibarikade tanpa makanan biasa atau air sejak 31 Oktober.

Pastor Kristen Inggris Jarrod McKenna, yang berada di pusat Manus awal pekan ini, mengatakan bahwa orang-orang tersebut berisiko kehilangan kesempatan untuk ditempatkan di negara yang layak.

“Jika mereka berpindah, itu adalah ‘ya’ bagi mereka untuk disembunyikan dari dunia,” demikian McKenna melalui telepon, “Mereka ingin pergi ke mana saja yang aman.” Pejabat imigrasi dan polisi Papua Nugini tidak membalas telepon untuk dimintai tanggapan. (Antara/Reuters)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

3 Komentar

  1. Do you mind if I quote a few of your posts as long
    as I provide credit and sources back to your site?
    My blog site is in the very same niche as yours and
    my users would definitely benefit from some of the information you present here.
    Please let me know if this okay with you. Many thanks!

  2. Thanks for your personal marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you happen to be a great author.I will be sure to bookmark your blog and
    will often come back in the foreseeable future.
    I want to encourage you continue your great job, have a
    nice weekend!

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami