Hukum

Para Kartini Penyelamat Mata Air Rembang

BTN iklan

(Okezone/LEI) – “Saya sudah buntu, makanya saya nekat semen kaki. Saya kehabisan akal dan berharap ada keajaiban dari perjuangan saya,”.

Begitulah ungkapan keputusasaan Sukinah (40) ketika diwawancarai Okezone belum lama ini. Rasa putus asa dan pasrah sempat ia rasakan, namun ia kembali bangkit dan bersemangat saat ingat kerusakan lingkungan di kampung masyarakat Samin atau Sedulur Sikep di Rembang, Jawa Tengah atas pembangunan salah satu pabrik semen.

Sekira 4 tahun sudah Sukinah bersama ibu-ibu Rembang menghuni tenda persis dekat kawasan Watu Putih Gunung Kendeng Utara. 2 tenda perjuangan yang beralaskan terpal plastik masih berdiri di dekat jalan pabrik semen. Hujan, panas, siang dan malam telah Sukinah rasakan bersama ibu-ibu petani Rembang.

“Saya tidur dan masak di tenda. Tenda ini bisa muat untuk banyak orang,” ungkap Sukinah.

Karena sehari-hari Sukinah berada di tenda perjuangan, maka suami Sukinah terpaksa mengalah. Sang suami menggantikan peran Sukinah di rumah, seperti memasak dan mempersiapkan kebutuhan anaknya untuk sekolah.

Tak sekalipun suami Sukinah mengeluh, karena ditinggal sang istri yang memilih tinggal di tenda perjuangan. Bahkan suami Sukinah yang bernama Jafar mendukung penuh keinginan kuat Sukinah untuk memperjuangkan keberlangsungan karst Watu Putih, kawasan pegunungan Kendeng Utara.

“Alhamdulilah lancar. Suami tidak pernah protes, malah mendukung perjuangan saya. Saya dan suami komitmen bagi-bagi tugas, suami yang di rumah,” ungkap perempuan yang berasal di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Demikian juga dengan anak Sukinah, meski masih dibangku sekolah SD, namun ia memahami jika sang ibu harus berjuang untuk menghentikan penambangan karst dan pembangunan pabrik semen.

“Dia tahu kata menolak itu apa, meski dia masih kecil,” kata Sukinah.

150 warga berjaga secara bergantian di tenda perjuangan. Mereka yang tak mendapat tugas jaga, biasanya pergi ke sawah hingga sore atau mencari rumput untuk ternak sapi dan kambingnya. Malam, seusai kegiatan di rumah beres, para ibu kerap datang meramaikan tenda perjuangan.

“Saya sudah melihat alam tengah menangis. Bahkan lingkungan sudah dirusak. Saya berjuang mati-matian dan jalankan dengan senang. Walaupun capek tapi ini risiko.” tegasnya.

Sukinah bercerita jika ibu 3 anak ini pernah nyaris ditangkap karena aksi demo di depan pabrik semen. Demikian dengan kawan seperjuangannya Murtini yang ditangkap, karena dianggap membuat tanda tangan palsu.

Sukinah dan ibu-ibu petani rembang rupanya salah strategi terlibat dalam aksi penolakan pabrik semen. Justru aparat tidak memandang jenis kelamin, malah ibu-ibu petani Rembang menjadi sasaran empuk aparat untuk mengintimidasi dan melakukan aksi kekerasan lain.

Salah satunya pada 16 Juni silam, saat pabrik semen menggelar acara doa bersama. Kemudian Sukinah dan teman seperjuangannya menolak dengan duduk diam di tapak pabrik dengan cara memblokir jalan masuk.

“Saya ditanya aparat Sukinah mana, katanya korlap?. Ya aku gak tahu sih korlap itu apa, aku bilang iya. Lah waktu ada aksi pemblokiran jalan itu aku dicariin polisinya tadi. Teman-teman kan takut aku ditangkap. Padahal aku dibawa polisi, kaki aku diinjek. Jadi ya nggak bisa kemana-mana orang kaki kiri aku diinjek. Aku ya cuma bisa nangis aja. Gak kepikiran ada temanku yang ditangkap. Malam bapak-bapak dilarang ngasih makanan ke tenda,” ucapnya Sukinah mengisahkan kembali peristiwa yang ia alami saat itu.

Selain aksi tinggal di tenda perjuangan, dan menolak pulang, ibu-ibu petani Rembang juga nekat melanjutkan aksi di Jakarta, tepatnya berdemo depan Istana Negara pada 12 april 2016.

Puluhan petani melakukan aksi damai sebagai bentuk perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen di wilayahnya, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (27/7/2016). Para petani Rembang menamakan aksinya
(Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

Kartini Rembang, Sukinah, Martini, Siyem, Karsupi, Sutini, Surani, Ngatemi, Ngadinah dan Ripambarwati sepakat melakukan aksi membelenggu kaki 9 petani Kendeng, dengan cor-an semen.

Mereka mendatangi jalan Medan Merdeka Barat, seberang Istana Negara pada pukul 13.00 WIB. Panas terik matahari tidak menyurutkan niat Sukinah, Martini, Siyem, Karsupi, Sutini, Surani, Ngatemi, Ngadinah dan Ripambarwati untuk menunggu Presiden Joko Widodo. Kemudian, 9 perempuan petani Kendeng akhirnya bersyukur bisa bertemu dengan Jokowi untuk menghentikan pembangunan pabrik semen.

Perjuangan ibu-ibu petani Rembang akhirnya berbuah manis ketika sidang peninjauan kembali Mahkamah Agung memenangkan gugatan petani pegunungan Kendeng.

Kemenangan tersebut membuat izin lingkungan yang diterbitkan Gubernur Jawa Tengah untuk pabrik semen tersebut harus dibatalkan. Berdasarkan situs resmi MA, gugatan tersebut diputus pada tanggal 5 Oktober 2016 lalu. Amar putusan mengabulkan gugatan dan membatalkan obyek sengketa.

Sementara, angin segar berpihak pada masyarakat Samin atau Sedulur Sikep yang berada dalam pusaran konflik pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, eks Keresidenan Pati. Pasalnya Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) menyatakan kesiapan melakukan pendampingan hukum terhadap masyarakat Samin atau Sedulur Sikep.

Hal itu disampaikan oleh Ketua APPTHI, Laksanto yang akan mendampingi masyarakat samin. “Kita di pengurus siap menjalankan apa yang digariskan oleh dewan pembina, khususnya dalam melakukan pendampingan dengan warga Rembang dan masyarakat Samin yang rentan terkena konflik hukum”, pungkas Laksanto.

Dengan merusak alam sekitar berarti kita juga merusak diri sendiri, karena manusia adalah bagian dari alam


sumber:  Okezone.com

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close