Internasional

Pasang Rudal di Laut China Selatan, Beijing Dapat Ancaman dari AS

BTN iklan

Washington DC (LEI) – Amerika Serikat mengultimatum China yang dikabarkan menempatkan peluru kendali di Laut China Selatan. Akan ada konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang, Gedung Putih menyatakan.

Jaringan berita AS CNBC melaporkan pada hari Rabu bahwa China telah memasang peluru kendali jelajah anti-kapal perang dan sistem peluru kendali darat ke udara (surface-to-air) pada tiga pos terdepan di Laut China Selatan. CNBC mengutip langsung dari sumber intelijen AS.

Ditanya tentang laporan itu, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan pada briefing berita: “Kami mengetahui tindakan militerisasi China di Laut China Selatan. Kami telah menyampaikan kekhawatiran langsung kepada pemerintah China tentang hal ini dan akan ada konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. “

Sanders tidak mengatakan apa konsekuensinya.

Seorang pejabat AS, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan Intelijen AS telah melihat beberapa tanda bahwa China memindahkan beberapa sistem persenjataan ke Kepulauan Spratly dalam sebulan terakhir ini, tetapi ia tidak memberikan rincian.

CNBC mengutip sumber tanpa nama yang mengatakan bahwa menurut penilaian intelijen AS, peluru kendali dipindahkan ke Fiery Cross Reef, Subi Reef dan Mischief Reef di Kepulauan Spratly dalam 30 hari terakhir.

Hal ini akan menjadi penempatan peluru kendali China pertama di Kepulauan Spratly, wilayah yang juga diklaim oleh beberapa negara Asia lain, termasuk Vietnam dan Taiwan.

Masalah Laut China Selatan telah berkembang selama bertahun-tahun, dengan China, Filipina, Brunei, Malaysia dan Vietnam membuat klaim yang bertentangan di perairan yang memiliki rute pelayaran global penting itu. Wilayah perairan ini juga diyakini memiliki cadangan minyak dan gas alam yang signifikan.

Kementerian Luar Negerinya mengatakan China memiliki kedaulatan yang tidak dapat dibantah atas Kepulauan Spratly. Tindakan terkait masalah pertahanan yang dilakukan oleh China adalah semata bertujuan untuk kebutuhan keamanan nasional dan tidak ditujukan untuk menyerang negara manapun. “Mereka yang tidak berniat untuk melanggar kedaulatan China tidak perlu khawatir,” kata juru bicara kementerian Hua Chunying.

Kementerian Pertahanan China tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar tetapi sebelumnya menekankan bahwa pulau-pulau itu “bagian dari wilayah China” dan bahwa itu terserah China untuk memutuskan apa yang dilakukannya di sana.

Julie Bishop, Menteri Luar Negeri Australia, mengatakan bahwa laporan CNBC tersebut, jika akurat, akan menjadi perhatian serius karena tindakan tersebut bertentangan dengan aspirasi yang dinyatakan Cina untuk tidak memiliterisasi Laut China Selatan.

“China, tentu saja, memiliki tanggung jawab yang unik sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, yaitu untuk menegakkan perdamaian dan keamanan di seluruh dunia,” kata Bishop kepada wartawan di Queensland. “Setiap tindakan untuk memiliterisasi sepihak wilayah di Laut China Selatan bertentangan dengan tanggung jawab dan peran itu. “

CNBC mengatakan peluru kendali jelajah anti-kapal YJ-12B memungkinkan China untuk menyerang kapal dalam jarak 295 mil laut (sekitar 546 kilometer). Sementara itu, peluru kendali jarak jauh darat ke udara HQ-9B dapat menargetkan pesawat, drone dan misil jelajah dalam jarak 160 mil laut (sekitar 296 kilometer). (detik)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close