Finansial

Pasar Modal akan menjadi Nomor 1 di ASEAN

BTN iklan

Jakarta, LEI/Antara – Ada istilah yang selalu menjadi prinsip bagi aktivitas di sektor keuangan, termasuk pasar modal yakni “my word is my bond” atau “ucapanku adalah jaminanku”.

“Esensi dasar dari ‘my word is my bond’ adalah kepercayaan,” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio usai memenuhi janjinya untuk berjalan kaki dari gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, menuju rumah kediamannya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan pada 1 Juli 2016 lalu.

Janji orang nomor satu di BEI itu berkaitan dengan telah tercapainya level indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menembus level 5.000 poin.

Di pasar modal, “my word is my bond” tertuang dalam bentuk prospektus yang diterbitkan perusahaan tercatat atau emiten saat mengajukan permohonan penawaran umum perdana (IPO), baik saham maupun surat utang (obligasi). Dalam prospektus itu menyajikan rencana-rencana kegiatan yang akan dilakukan emiten setelah melaksanakan IPO.

“Pasar modal itu butuh kejujuran dan transparansi. Misalnya, perusahaan mau ‘go public’, mereka janji yang dimasukkan dalam prospektur diantaranya menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), lalu target kinerja. Itu harus sepenuhnya dikerjakan, itulah dari kata ‘my word is my bond’. Karena saya sempat janji kalau IHSG tembus 5.000 poin jalan kaki ke rumah, ya saya jalan,” ucap Tito.

Pada Kamis (30/6) lalu, IHSG BEI tercatat ditutup berada di level 5.016,64 poin. Dan akhirnya, Dirut BEI itu menepati janjinya untuk berjalan kaki dimulai dari gedung BEI sekitar pukul 16.00 WIB, melintasi Jalan Raya Sudirman-Jalan Raya Sisingamangaraja-Jalan Radio Dalam-Pondok Indah dengan jarak tempuh sekitar delapan kilo meter (km).

Dirut BEI didampingi rekan kerjanya, Direktur Transaksi dan Kepatuhan Anggota BEI Hamdi Hassyarbaini bersama beberapa staf dan diiringi pewarta yang biasa meliput pasar modal melaksanakan jalan kaki menuju Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Tito Sulistio menganggap posisi IHSG BEI di level 5.000 poin merupakan awal perjalan bagi Pasar Modal Indonesia untuk menjadi nomor satu di kawasan ASEAN.

“Kita akan terus gencar melakukan sosialisasi, memperbanyak instrumen, dan infrastruktur pun siap,” kata Tito yang juga salah satu pendiri komunitas motor gede (moge), Harley-Davidson Owners Group (HOG).

“Akhirnya, Alhamdulillah IHSG telah menyentuh level 5.000 poin pada tahun ini,” ucapnya selepas berbuka bersama di kawasan Mall Pondok Indah.

Setelah berbuka puasa, Tito Sulistio yang resmi menjabat sebagai Dirut BEI untuk periode 2015-2018 pun melanjutkan berjalan kaki hingga ke rumahnya di Perumahan Pondok Indah dengan mengenakan kaos hitam yang dibalut kemeja putih dengan kancing dilepas.

Dalam kesempatan ini pula penyandang gelar Master of Accountancy and Finance dari Institute d’Enseignement Superieur Lucier Cooremans, Brusells, Belgia itu, menegaskan bahwa aksi ini bukan sebagai aksi pencitraan dirinya sebagai seorang profesional di pasar modal.

Berdasarkan data BEI, sejak awal tahun hingga 1 Juli 2016, IHSG BEI membukukann kenaika sebesar 8,24 persen (year to date/ytd). IHSG hanya kalah dibandingkan dengan bursa Filipina dan Thailand yang masing-masing tumbuh 12,63 persen dan 12,19 persen.

Sementara itu bursa utama dunia lainnya tercatat terkoreksi, seperti Singapura turun 1,26 persen, Malaysia yang turun 2,73 poin, Jepang turun 17,61 persen, Tiongkok melemah 17,14 persen.

Penopang IHSG IHSG BEI sempat terkena dampak buruk dari hasil referendum Inggris yang memutuskan keluar dari Uni Eropa (Brexit). Namun, kebijakan pengampunan pajak atau “tax amnesty” yang disahkan DPR dalam Rapat Paripurna menjadi salah satu faktor yang meredam sentimen negatif eksternal itu. IHSG BEI kembali bergerak menguat hingga menembus level 5.000 poin.

“Apresiasi ‘tax amnesty’ mulai terlihat, sederhana saja, kebijakan itu menambah likuiditas. Lalu, ‘tax amnesty’ juga dapat memperbaiki neraca pembayaran Indonesia,” ujar pria kelahiran Bogor, 5 Juli 1955 silam itu.

Ia mengemukakan bahwa rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto yang sebesar 30 persen terbilang sehat namun sayang pasar keuangannya tidak terlalu likuid.

“Dana repatriasi hasil kebijakan ‘tax amnesty’ kita tarik ke Indonesia, kita akan menjadi lebih sehat, neraca pembayaran bagus, inflasi terjaga, ekonomi membaik,” kata Tito seraya menambahkan bahwa pintu masuk utama bagi dana repatriasi yakni perbankan, manajemen investasi, dan perusahaan efek.

“Hal-hal ini yang diapresiasi investor, asing juga sangat ‘bullish’ terhadap pasar saham kita,” katanya.

Situasi itu, kata dia, nantinya akan menambah permintaan investasi di pasar modal.

Dia juga mengemukakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merelaksasi aturan mengenai kontrak pengelolaan dana (KPD) berupa penurunan besar nilai investasi untuk setiap pemodal dari Rp10 miliar menjadi Rp5 miliar.

“KPD dikeluarkan OJK, dana yang masuk ke pasar modal melalui rekening dana nasabah (RDN) dapat dibekukan. Nantinya, akan terjadi demand, karena permintaan akan naik maka ada apresiasi harga di pasar,” katanya.

Selain pengaruh “tax amnesty”, Direktur Transaksi dan Kepatuhan Anggota BEI Hamdi Hassyarbaini mengatakan kebijakan fraksi harga baru (penawaran jual atau permintaan beli) turut mendukung kinerja IHSG.

“Rata-rata frekuensi transaksi harian tercatat 239.919 kali. Sebelumnya, frekuensi harian hanya 200.000 kali, jadi ada peningkatan aktivitas transaksi di pasar saham,” katanya.

Menurut dia, fraksi harga saham merupakan komponen struktur mikro pasar modal yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan likuiditas saham.

Tito Sulistio juga menyatakan bahwa BEI siap menampung dana repatriasi hasil kebijakan pengampunan pajak ke dalam instrumen investasi di pasar modal.

Ia mengemukakan Bursa Efek Indonesia saat ini memiliki “rasio velocity” atau nilai transaksi dibanding dengan kapitalisasi pasar baru mencapai 21 persen, kondisi itu memungkinkan Bursa siap menampung aliran masuk dana dari pengampunan pajak yang jumlahnya triliunan rupiah.

“Kapitalisasi pasar kita cukup besar dan siap menampung dana itu. Kami siap menampung dana tambahan Rp60 triliun per hari,” ujarnya.

“Salah satu instrumen yang disiapkan untuk menampung dana ‘tax amnesty’ adalah melalui investasi saham, situasi itu akan membuat suplai dana ke bank dan permintaan di saham meningkat,” katanya.

Melihat berbagai kondisi positif yang akan melingkupi pasar saham domestik, cukup beralasan kalau ada optimisme bahwa pasar modal akan menuju nomor satu di kawasan ASEAN.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

13 Komentar

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pasar modal. penanaman saham dipasar modal merupakan suatu cara yang sangat bagus dipelajari untuk memenuhi/mendapatkan kebutuhan primer/sekunder dalam kehidupan sehari-hari untuk semua kalangan. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai permainan pasar modal yang dapat dilihat di PasarModal

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami