Traveling

Peluang Buka Resto Padang di Puncak Titlis

Oleh Theo Yusuf, dari Swiss

BTN iklan

SWISS, LEI – Hujan rintik-rintik jatuh di depan pintu hotel Movenvick Zurih pukul 8.26 waktu Swiss atau 16.26 WIB.

Para wisatawan Indonesia tetap bergegas menuju mobil yang akan mengantarkan ke puncak gunung Titlis, meski suhu udara tidak lebih dari 2 derajat.

Gunung Titlis, termasuk tamasya yang indah dan mengagumkan, karena sepanjang masa gunung itu di selimuti es atau mirip seperti gurun dan gunung es.

Ketinggian puncak gunung itu sekitar 3014 meter dari permukaan laut, sehingga orang yang datang ketempat itu cukup menegangkan karena melalui kereta gantung.

Leo Kawilarang tour leader

Leo Kawilarang, tour leader dari Jakarta, Selasa menyebutkan, di puncak gunung es, Titlis, tepatnya 1,800 meter, banyak toko dan restoran ala Turky, Argentina dan Swiss itu sendiri.

Wisata Indonesia sering kesulitan mencari makanan di area itu, utamanya orang muslim, padahal tak kurang dari 500 orang datang ke Titlis, utamanya saat lebaran tiba.

Restoran di Puncak Tlitis

Dari Januari hingga Juni, dipasastikan banyak wisatawan Indonesia ke wilayah ini, sayangnya, gak ada restoran ala Padang, atau resto nasional ala Indonesia.

“Saya tidak tahu mengapa tak ada yang berani membuka restoran itu,” katanya.
Rifaldo salah satu mahasiswa kedokteran yang kunjung ke Titlis menambahkan, gunung ini keajaiban tuhan makanya banyak yang kunjung ke sini.

Harga makanan, rata-rata 19 sd 30 euro, setara Rp350 ribu rupiah per porsi. Jika ada pengusaha yang berani buka, kata Rifaldo dipastikan tidak merugi, seraya menambahkan, itulah tugas para duta besar membantu memasarkan Indonesia di pentas internasional.

Titlis terletak di kawasan Swiss bagian tengah, dengan jumlah penduduk di negeri itu hanya sekitar 7 juta jiwa.

Negeri ini termasuk negara cukup kaya si daratan Eropa Barat, oleh karenannya, pemerintahnya tak ingin buru-buru bergabung ke Uni Eropa, sehingga mata uangnyapun dapat membayar dengan Euro dan Swis Frank.

Indahnya alam ini juga didukung dari disiplinnya warga dan taatnya masyarakat kepada hukum, sebut saja mengapa kali dan sungai, danau tampak bersih, ternyata sanksinya cukup berat jika ada yang berani melanggar. “Orang merokok di luar area saja dapat di denda 250 euro, apa lagi membuang sampah sembarangan, pasti lebih besar,” kata sumber di sini.

Para wisata Indonesia, kata sumber itu termasuk orang-orang yang berani berbelanja meskipun harga makanan dan produk branded lainnya cukup mahal.

“Siapa bilang orang Indonesia meskin, pasti orang eropa tidak percaya. Mereka percaya Orang Indonesia penduduknya banyak yang kaya , tapi miskin negaranya dan kurang merata infrastruktur termasuk soal minimnya keadilan,” kata wisatawan Indonesia yang tak mau disebut namanya. Ia juga menambahkan banyak pejabat yang datang ke sini tapi tak mampu mencontoh kebaikan dalam menerapkan kebijakan. …[email protected]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × one =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami