EkonomiHukumLiputanNasional

PEMANGGILAN TIGA SAKSI PENSIUNAN TNI AD, KORUPSI PT DI

BTN iklan

Jakarta, LEI- Pemanggilan tiga Pensiunan TNI Angkatan Darat (AD) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam penyidikan kasus korupsi pengadaaan kegiatan penjualan dan pemasaran pada PT Dirgantara Indonesia (DI) pada tahun 2007 hingga 2017 Mereka menjabat selama 10tahun
“Ketiganya dipanggil sebagai saksi dimana tersangka BS (Budi Santoso/ Mantan Dirut PT DI)”, ujar Juru bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Ketiga Pensiunan TNI AD telah diyakini FX Bangun Pratiknyo yang juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Kepala Staf TNI AD (Kasad), Aris Supangkat dan Catur Puji Santoso.

Sebelumnya redaksi Legal Era Indonesia (26/8), Tim KPK telah memeriksa dua pensiunan TNI AD lainnya, yaitu Mayjen TNI (Purn) Mulhim Asyrof dan Zemvani Abdul Karim.
Ali mengatakan bahwa ” Diperiksa sebagaisksi untuk tersangka BS, penyidik kembali mengumpulkan alat bukti melalui keterangan kedua saksi tersebut masih seputaran adanya dugaan penerimaan “feedback” (imbalan) kepada pihak “end user” di PT DI”.
Selain BS, KPK telah menetapkan mantan Aisiten Direktur Bisnis Pemerintah PT DI Irzal Rinaldi Zailani (IRZ) sebagai tersangka dalam konstruksi perkara dengan disebutkan pada awal 2008.
Budi dan Izal bersama sama dengan para pihak lain melakukan kegiatan pemasaran penjualan dibidang bisnis di PT DI
Disetiap kegiatan, tersangka sebagai Direktur Utama dan dibantu oleh pihak terkait untuk memenuhi beberapa kebutuhan terkait dengan operasional PT DI yang prosesnya mendapatkan dana untuk kebutuhan yang dilakukan melalui penjualan dan pemasaran secara fiktif.

Kontrak kemitraan dibuat pada tahun 2008 antara PT DI yang ditandatangani oleh direktur Aircraft Integration, bersama PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bamgsa dan PT Selaras Bangun Usaha.
dengan Kontak kerjasama mitra/agen tersebut dengan terdiri dari kerjasama agen tersebut, seluruh mitra tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian sehinga KPK menyimpikan telah terjadi pekerjaan fiktif
Dan pada tahun 2011 di PT DI baru memulai membayarkan nilai kontrak tersebut kepada perusahaan mitra/agen setelah mereka menerima pembayaran dari beberapa pihak pekerjaan.
Selama 2011 ini hingga 2018, jumlah pembayaran yang dilakukan telah mencapai Rp 205,3 miliar dan 8,65 juta dolar AS atau sekitar RP 125 miliyar, akibatnya total kerugian negara sekitar Rp 300 miliar.
Keenam Perusahaan mitra/agen tersebut menerima bayaran dari PT DI, terdapat permintaan sejumlah uang baik melalui transfer ataupun melalui tunai sebesar Rp 96 Miliar yang kemudin diterima oleh Pejabat di PT DI diantaranya tersangka Budi, Irzal, Arie Wibowo selaku kepala devisi pemasaran dan penjualan dan Budiman Saleh selaku Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI.

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami