Ekonomi

Pembentukan 65 Cluster Pangan Dipercepat

BTN iklan

Jakarta, LEI – Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga mengatakan rencana pendirian 65 cluster pangan berbasis koperasi diseluruh Indonesia akan dipercepat. Percepatan tersebut merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar produksi pangan nasional khususnya beras meningkat.

Sebelumnya, kata Puspayoga dalam keterangan tertulis, Minggu (11/9/2017), menyampaikan, Kemenkop UKM ingin membuat pilot project 5 cluster pangan lebih dulu, yakni di Banyumas, Sukabumi, Purwokerto, Demak dan Lampung.

“Presiden memberi arahan bahwa tidak perlu menunggu pilot project di 5 cluster, langsung mengimplementasikan serentak untuk 65 cluster pangan,” katanya dalam acaraTemu Konsultasi Peningkatan Peran Koperasi untuk Ketahanan Pangan Nasional, Kamis malam (7/9/2017) yang dihadiri sejumlah pengurus koperasi dan kepala dinas.

Pada kesempatan itu, para pengurus koperasi dan kepala dinas menandatangani pernyataan bersama mendukung percepatan realisasi 65 cluster pangan yang diharapkan dapat terealisasi dalam satu tahun.

Cluster pangan akan melibatkan lintas K/L lainnya, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Agraria, Kementerian Perdagangan, Bulog. Pendirian cluster pangan juga diminta dituangkan dalam Peraturan Presiden.

Menkop mengatakan koperasi ditargetkan menjadi basis ketahanan pangan nasional. Untuk mewujudkannya pengelolaan koperasi perlu direformasi melalui pengembangan ke arah korporatisasi. Sehingga pertanian tidak lagi hanya bicara soal teknis tapi juga bisnis.

Dengan konsep ini, cluster pangan yang didirikan adalah berbasis koperasi yang beranggotakan petani. Koperasi kemudian mendirikan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) pangan berbentuk perseroan terbatas (PT) untuk menampung dan memasarkan produk petani.

Masing-masing cluster, lanjut Puspayoga, memiliki skala ekonomi 5.000 ha lahan. Dengan konsep cluster pangan, pertanian dari hulu hingga hilir dikelola dalam satu sistem sehingga tidak memberi celah masuknya tengkulak pangan.

“BUMR akan melakukan kegiatan bisnis, mulai dari pengadaan pupuk, benih hingga membeli dan memasarkan produksi petani. Petani yang merupakan anggota koperasi juga akan mendapat ongkos kerja dan pendampingan dari para ahli,” katanya.

Puspayoga mengakui cluster pangan membutuhkan pembiayaan sebab akan ada ongkos kerja yang akan dipinjamkan kepada petani. Pembiayaan ini, tegas Puspayoga, akan segera dicarikan solusinya.

“Contohnya BUMR Pangan di Sukabumi yang mendapatkan pinjaman kepada petani untuk ongkos kerja sebesar Rp 13,4 juta per petani dari dana kemitraan PT Pertamina,” katanya.

Konsep cluster pangan yang akan difasilitasi oleh pemerintah ini menduplikasi BUMR Pangan di Sukabumi yang sudah berhasil lebih dulu.

Luwarso, pendiri BUMR Pangan mengemukakan melalui konsep ini koperasi menjadi sumber ketahanan pangan, menjamin stok pangan nasional dan kesejahteraan petani.

BUMR Pangan didirikan oleh Koperasi Ar Rohmah yang juga diketuai Luwarso. Menurutnya, ide membangun BUMR Pangan untuk menjamin kualitas produksi dan pemasaran produksi petani yang merupakan anggota Koperasi Ar Rahman.

Luwarso mengatakan, dengan adaya BUMR Pangan dibangun Rice Mill, dengan demikian penjualan gabah petani terjamin harganya. “Saat ini kami membeli BUMR pangan membeli gabah dari petani Rp 4.000 per kg, diatas HET pemerintah,” katanya.

Produksi BUMR Pangan Sukabumi saat ini mencapai 1,5 ton per jam dengan luas lahan pertanian 1.000 ha. Menurut Luwarso, cluster pangan nantinya tidak hanya memproduksi beras tapi tujuh komoditas utama pertanian, yakni beras, jagung, kedelai, bawang merah, tebu, hortikulutura, dan peternakan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami