Liputan

Pembentukan Lembaga Eksaminasi Makin Mendesak

BTN iklan

JAKARTA,LEI, Dikutip dari suarakarya.id, Sejumlah kalangan menilai, pembentukan lembaga atau badan eksaminasi nasional untuk menguji putusan Mahkamah Agung (MA) sangat mendesak. Sebab selain banyak putusan MA yang tidak memberikan rasa keadilan, juga merugikan investasi di Indonesia karena putusan yang tidak kredibel.

“Jika dilakukan eksaminasi, putusan-putusan peradilan banyak yang merugikan investasi di Tanah Air. Misalnya, perusahaan terbuka (Tbk) yang diputus pailit, namun sahamnya tidak terpengaruh. Ini jelas menimbulkan paradoks,” kata praktisi hukum Himpunan Kuasa Hukum Pasar Modal (HKHPM) Cornell Benny  dalam diskusi Tim Eksaminasi Putusan MA di Jakarta, Kamis malam (2/5).

Hadir sebagai pembicara anggota hakim agung Gayus Lumbuun, mantan komisioner Komisi Yudisial (KY) Taufiqurrahman Syahuri, Ketua Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) Laksanto Utomo dan Dekan FH Univ Borobudur Faisal Santiago.

Menurut Cornell Benny, kasus pailit Telkomsel dan kasus-kasus sebelumnya seperti PT DI, Prudential, Manulife dan lainnya menunjukan anomali dan paradoks atas putusan pengadilan. “Banyak putusan kalau dieksaminasi sangat lemah dasar hukumnya,” ujarnya.

Kondisi itu, kata dia, membuat banyak investor menginginkan penyelesaian masalah hukum yang dihadapinya dibawa ke arbitrase internasional seperti Singapore International Arbitration Centre (SIAC) atau International Chamber of Commerce (ICC) yang berkedudukan di Paris.

“Contohnya, investor yang perusahaannya ada di Cilegon atau daerah-daerah lainnya kalau ada masalah hukum dibawa ke arbitrase internasional, bukan di pengadilan setempat. Kalau peradilan kita lebih kredibel tentu tidak seperti jadinya,” kata Cornell Benny.

Terkait hal ini, Taufiqurrahman Syahuri menegaskan, tanpa adanya mekanisme kontrol publik maka pengadilan akan menjadi surga bagi para aktor kotor mafia peradilan (judicial corruption). Kondisi itu menimbulkan banyak inkonsistensi hukum dalam putusan-putusan pengadilan, bahkan pada tingkat MA pun inkonsistensi kerap terjadi dalam putusan kasasi maupun peninjauan kembali (PK).

“KY sudah berkali-kali memberikan peringatan ke pimpinan MA tapi ditanggapi negatif,” ujar Taufiq.

Pada kesempatan yang sama, Laksanto Utomo menyoroti akuntabilitas dan kredibilitas MA serta keprihatinan para ahli hukum terhadap carut marut yang terjadi di tubuh MA.

“Banyak putusan MA yang tidak memberikan rasa keadilan bagi rakyat. Perkembangan saat ini semakin menyedihkan. Apalagi KPK akan memanggil ketua MA,” ujarnya.

Untuk itu, APPTHI memiliki gagasan membentuk Tim Eksaminasi yang didukung lebih dari 150 perguruan tinggi fakultas hukum dari perguruan tinggi swasta nasional. Oleh karenanya, APPTHI saat ini telah membuat tim eksaminasi dan membagi ke dalam tiga zona.

Ketua APPTHI sebagai ketua timnya dengan anggota, Prof Dr Ade Saptomo (Dekan FH Universitas Pancasila), Prof Dr Faisal Santiago (Dekan FH Universitas Borobudur), Dr Akhmad Sudiro (Dekan FH Universitas Tarumanegara), Dr Edy Lisdiono dari Universitas Tujuh Belas Agustus Semarang, Dr Sarif Nuh (Dekan Universitas Makasar), Dr Robert (STIH Manokwari) dan Dr Sulardi (Dekan Universitas Muhammadiyah Malang).
Selain itu, APPTHI akan melibatkan mantan hakim agung seperti Prof Dr Arifin Tumpak, Prof Dr Bagir Manan dan para ahli maupn mantan praktisi hukum lainnya agar masyarakat dapat menilai apakah putusan hakim tersebut menggunakan pertimbangan hukum yang benar.

“Ini supaya tim eksaminasi semakin objektif, menilai putusan MA kredibel atau tidak,” ujar Laksanto.

Sementara itu, Gayus Lumbuun mendukung rencana pendirian badan eksaminasi putusan pengadilan yang kini digagas oleh APPTHI.

Dia menilai, keberadaan lembaga itu kini cukup strategis dan mendesak dalam usaha mendorong putusan hakim yang “excellent”, putusan hakim yang didasarkan atas pertimbangan norma hukum yang dipercaya masyarakat.

“Bukan semata-mata mendasarkan pertimbangan hukum yang benar, karenanya, adanya keinginan melakukan eksaminasi putusan, khususnya putusan MA, tepat dan perlu didukung agar tidak terjadi putusan hakim yang bersifat jalanan,” katanya.

 

Perlihatkan Lebih

10 Komentar

  1. I loved as much as you will receive carried out right here.The sketch is tasteful, your authored subject matter stylish.nonetheless, you command get got an impatience over that you wishbe delivering the following. unwell unquestionably come more formerlyagain as exactly the same nearly a lot often inside case you shield this increase.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami