HukumOpini

Pembunuh Itu Bernama Milenial

BTN iklan

JAKARTA, LEI – Millenial sering disalahkan akibat dari matinya brand-brand besar karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi.

Salah satu contoh adalah departemen store seperti Matahari, Ramayana dan lainya pelan-pelan mulai menutup gerainya.

Penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Di Amerika Serikat, pengacara muda sudah tidak memiliki pekerjaan. Berkat Watson IBM, masyarakat bisa memperoleh nasihat hukum dalam hitungan detik (saat ini untuk hal-hal dasar), dengan akurasi 90% dibandingkan 70% akurasi yang dilakukan manusia.

Masih untung di Indonesia karena sistem hukumnya berbeda, sistem anglosaxon berbeda dengan continental system, rasa keadilan di Amerika Serikat ada pada Juri dan Hakim yang tunduk pada Jurisprudensi.

Jika putusan-putusan sudah dibakukan dimasukan dalam data googling seluruh putusan di Amerika maka selesailah tugas Lawyer.

Di Indonesia rasa keadilan ada di hakim dan Jurisprudensi putusan perkara tidak mengikat hakim. Memang ada kelemahannya faktor-faktor subyektif dan suap pada putusan perkara akan sangat lekat pada negara-negara berkembang.

Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah dari lokasi satu ke lokasi lain sambil rekreasi Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Generasi X, pastilah kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Itu sebabnya bermunculan jenis macam-macam bisnis semisal working space. 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

4 Comments

  1. Hello i am kavin, its my first time to commenting anyplace, when i
    read this article i thought i could also make comment due to
    this sensible paragraph.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six − five =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami