Ekonomi

Pemerintah Perlu Mudahkan Akses Pasar Tradisional

BTN iklan

Jakarta, LEI – Pemerintah perlu lebih memudahkan akses ke pasar tradisional untuk para petani agar mereka mendapatkan harga yang kompetitif sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan anggota keluarganya.

“Pemerintah lebih baik fokus memberikan kemudahan akses menuju pasar tradisional kepada para petani,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri, Jumat.

Menurut dia, hal tersebut karena pada dasarnya petani produksi beras menjual pada harga yang tergolong rendah.

Sementara panjangnya rantai distribusi beras menyebabkan harga menjadi jauh di atas harga pokok penjualan petani produksi.

Novani meminta pemerintah jangan sampai terjebak dengan ekspektasi meluasnya area panen. Pemerintah memperkirakan meluasnya area panen akan mampu meningkatkan jumlah persediaan beras di Indonesia yang pada akhirnya menurunkan harga beras di pasar.

Ia mengingatkan bahwa buruh tani yang tidak memiliki lahan akan mendapatkan upah kurang dari total penjualan beras petani produksi dan harus membeli di harga eceran pasar yang jauh berkali-kali lipat lebih tinggi dari harga jual petani produksi.

“Jelas rantai semacam ini akan terus merugikan buruh tani yang termasuk masyarakat kelas menengah kebawah. Hal ini menjelaskan bahwa apabila ingin mensejahterakan masyarakat kelas menengah kebawah melalui keterjangkauan harga bahan pangan, pemerintah lebih baik fokus terhadap memotong rantai akses pasar sehingga akan menurunkan harga beras di pasar untuk jangka panjang,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, komoditas beras harus melalui banyak titik dalam jalur distribusi hingga sampai kepada konsumen yang mengakibatkan tingginya harga dan menjelaskan mengapa banyak petani ternyata tidak menikmati harga yang tinggi tersebut.

Menurut Kepala Bagian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi, beras umumnya harus melalui empat sampai enam titik distribusi sebelum sampai ke tangan konsumen.

Hizkia Respatiadi berpendapat, panjangnya rantai distribusi beras di Tanah Air menyebabkan harga beras tinggi dan merugikan beberapa pihak, seperti petani dan pedagang eceran.

Dia memaparkan, titik pertama adalah saat petani akan menjual beras yang sudah dipanen kepada tengkulak atau pemotong padi, yang akan mengeringkan padi dan menjualnya kepada pemilik penggilingan.

Setelah padi digiling menjadi beras, pemilik penggilingan akan menjual beras tersebut ke pedagang grosir berskala besar yang memiliki gudang penyimpanan.

Kemudian pedagang grosir berskala besar ini akan kembali menjual beras tersebut kepada pedagang grosir berskala kecil di tingkat provinsi (seperti di Pasar Induk Beras Cipinang) atau kepada pedagang grosir antar pulau.

Ia mengungkapkan, dalam setiap rantai distribusi, margin laba terbesar dinikmati oleh para tengkulak, pemilik penggilingan padi atau pedagang grosir. “Di Pulau Jawa, margin laba ini berkisar antara 60-80 persen per kilogram,” ungkap Hizkia.

Sebaliknya, menurut dia, para pedagang eceran justru hanya menikmati margin laba dengan kisaran antara 1,8-1,9 persen per kilogram.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami